HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 67


__ADS_3

Waktu itu, setelah semua para santri selesai menunaikan ibadah sholat dzuhur. Ada sedikit waktu untuk Amien bisa mencerca Royco, mengenai pengakuan yang sempat terlontar dari mulut Royco, yang mengaku kalau Markisa itu adalah kekasihnya.


Maka dengan sedikit waktu itu, Amien pun langsung memanfaatkan sebaik mungkin waktu itu, dengan meminta Royco untuk menjelaskan pengakuannya tentang hal itu.


"Roy... Apa alasanmu mengaku-ngaku, kalau Markisa itu adalah kekasihmu? bukankah... kali pertamanya kamu berjumpa dengannya?" tanya Amien yang penasaran.


Namun Royco menulikan telinganya, tidak menggubris sedikitipun cercaan dari Amien. Dia justru terlihat semakin cepat melangkahkan kakinya. Amien yang melihat itu tak tinggal diam, diapun ikut mepercepat langkahnya demi bisa mendapatkan penjelasan dari Royco.


"Roy, kenapa kamu diam saja? ayo, dong jawab. Apa kamu sudah mengenal Markisa sejak lama, sehinggga sampai membuatmu berkata seperti itu." desak Amien yang ingin tahu kebenaran dari ucapan Royco. Cuma mengaku ngaku kah? atau mungkin benar tentang pengakuan spontan dari Royco?


"Sudahlah Mien... kalau pun saya memberitahumu, pasti kamu tidak akan mempercayai, seperti halnya Syarif tadi." ucap Royco yang mencoba lari dari cercaan Amien.


Ceklek...


Gubrak...


Royco pun langsung membanting tubuhnya ke atas bed miliknya, saat dirinya berhasil menghindari cercaan Amien dengan masuk kamar.


Amien tidak mau menyerah sebelum rasa penasarannya terjawab, dengan itu dia pun masuk ke kamar yang memang satu kamar dengan Royco.


"Roy..." panggil Amien, saat melihat Royco tengah berbaring tengkurep di atas bed miliknya.


Tak lama Royco pun membalikkan tubuhnya, seraya menoleh ke arah Amien lalu menyahut, "Apa...?" datarnya.


Amien sontak langsung menaruh bokongnya di atas bed miliknya, seraya berhadap hadapan dengan Royco, karena tempat tidurnya saling bersebelahan.


"Roy... Apa benar, Markisa itu kekasihmu?" tanya Amien. Berharap, kali ini Royco akan menjawab pertanyaan darinya.


"Untuk apa kamu ingin mengetahui tentang hal itu, Mien? toh kamu nggak akan bisa percaya, kalau gadis jelita yang bernama Markisa itu adalah kekasih saya," malas Royco yang nantinya hanya akan membuang tenaganya.

__ADS_1


"Makanya itu, kamu harus cerita yang lebih detail dong, biar saya bisa percaya," desak Amien kekeuh ingin sekali mengetahui kronologi hidup Royco.


"Tapi..."


"Janji tidak akan bocor." Belum apa apa, Amien sudah rela mengikat lidahnya dengan kata janji.


Karena tidak tega melihat wajah penasaran Amien, Royco pun berdehem terlebih dahulu, lalu menghela nafas pelan. Tubuhnya yang tadinya rebahan menghadap bed Amien kini bergeser untuk menatap langit langit kamar tersebut.


"Dulu, sebelum Markisa pindah ke pondok ini, kami memang saling mencintai," ungkap Royco dengan bibir itu tersenyum tanpa sadar karena mengingat manisnya cinta mereka. Namun dalam hatinya, Royco cepat cepat mengucap istigfar dikala otaknya kembali terngiang di malam panas mereka.


"Yeee, malah diam lagi!"


Amien mengagetkan Royco dengan cara melempar bantalnya ke atas perut Royco yang memang sedang terlentang.


"Cepat ceritakan sebelum Syarief tiba," kata Amien yang tidak sabaran.


"Baiklah! tapi jangan menyela ya?" kata Royco memberikan syaratnya.


Dan pada akhirnya, Royco pun menceritakan jalan percintaannya ke Amien. Dari awal pertemuannya dengan Markisa di sekolahan ternama itu. Juga, Markisa yang menyatakan cinta terlebih dahulu.


Amien sedikit curiga dalam hatinya, tepat kata Royco kalau Markisa menyatakan cinta duluan. Apakah Markisa buta? Masa iya tergila gila dengan pria buruk rupa seperti temannya ini. Dari pada rupa Royco, yaaah... lebih tampanan dirinya kemana mana. Atau... Dulu Royco tidaklah buruk rupa? itulah yang dicurigai oleh Amien.


"Bagaimana? percaya tidak dengan cerita ku?" tanya Royco yang sudah menceritakan semuanya, kecuali...tentang keris itu dan tentu saja aib perzinaannya. Hal itu tidak mungkin dibocorkannya begitu saja, karena pasti akan merugikan dirinya baik pun merugikan Markisa.


"Jadi, karena orang tua Markisa ya, kalian sampai pisah dan akhirnya bertemu di sini? dan karena suara Markisa pun, kita berbuat konyol sampai nyoret nyoret dinding itu?" tanya ulang Amien untuk memperjelas lagi cerita Royco barusan.


Royco menganguk kecil. "Eum, kurang lebih seperti itulah," sahut Royco seraya menatap intens wajah Amien yang sepertinya masih ragu dengan pengakuannya. Tapi Royco paham kok, pasti banyak sekali pertanyaan Amien dalam hatinya tentang wajah buruk rupanya. Dan pasti Amien membatin mengatai Markisa tidak punya mata karena jatuh hati pada sosok pria yang buruk rupa macam dirinya sekarang.


"Tuh kan, pasti kamu tidak percaya. Apa saya bilang." Royco tersenyum geli, karena amien garuk garuk kepala, terkesan bodoh.

__ADS_1


"Bukan gitu, Roy. Jujur, rasanya masih sulit sih untuk mempercayai mu. Kecuali kamu jawab pertanyaan ku dengan jujur yang satu ini..." Amien menjeda.


"Pertanyaan apa lagi? dari tadi uda kayak reporter berburu news." seloroh Royco meledek Amien. Namun temannya ini tidak tersenyum. Tumben, batin Royco.


"Katakanlah kalau premis saya ini salah... kalau dulu mungkin kamu tidaklah..maaf, buruk rupa seperti sekarang ini?" Amien terdengar tidak enak hati di kala buruk rupa terucap dari mulutnya. Dia tidaklah bermaksud untuk membully Royco.


"Premis mu tidaklah salah, Mien. Dulu saya memang tidak jelek seperti ini." ungkap Royco terdengar sedih.


"Boleh saya tahu, apa penyebab kemalangan mu sampai berujung bernasib buruk rupa." ujar Amien dengan wajah itu semakin penasaran.


Untuk sesaat Royco langsung terdiam, seakan menimbang nimbang untuk menceritakan kejadian yang membuatnya menjadi sosok buruk rupa itu pada Amien.


"Baiklah... saya akan menceritakan kemalangan saya. Tapi... ini sangat rahasia lho Mien, kamu tahu kan rahasia itu apa?" terang Royco dengan mimik wajah serius.


"Tahu dong, Roy. Rahasia itu 'kan, suatu hal yang tidak boleh kita ceritakan ke orang orang. Dan rahasia itu, suatu hal yang harus kita simpan baik baik, agar nanti tidak bocor kemana mana. Betul tidak Roy?" terang Amien.


"Betul Mien. Setelah saya menceritakan hal itu kepada kamu, nanti... kamu mau 'kan merahasiakannya dari orang orang?" pinta Royco sebelum menceritakan yang hal itu kepada Amien.


"Saya janji Roy. Saya akan menjaga baik baik rahasia mu." ucap Amien dengan menyanggupi.


"Baiklah, pasang kuping kamu baik baik, Mien. Kenapa saya menjadi buruk rupa, itu karena saya menyalagunakan kesaktian dari keris yang saya punya. Dan dengan keris itu juga, nantinya saya akan bisa sembuh dari penyakit kutukuan ini Mien. Konon katanya, wajah ini semakin tampan bak seperti bidadara, jika keris itu di satukan kembali dengan sarungnya." terang Royco Panjang lebar.


Degg...


Lantas, pernyataan Royco, mampu membuat Amien terenyuh sekaligus merinding mendengar ada keris sakti seperti itu.


Amien pikir, cerita seperti itu hanya ada di sinetron. Ternyata ada bukti nyata tepat depan matanya.


Syareif? Pria yang tidak suka kepada Royco itu pun, mendengarnya yang sebenarnya dari tadi menguping di balik daun pintu yang sedikit terbuka itu.

__ADS_1


Seketika otak liciknya mempunyai rencana busuk untuk Royco.


"Sampai kapanpun, kamu akan terus buruk rupa, Roy. Karena saya akan menghalangi jalan mu untuk mendapatkan sarung keris yang kamu maksud itu. Bagaimana pun caranya itu." Batin Syarief yang tidak rela kalau royco kembali tampan dan berakhir Markisa akan menjauh darinya karena lebih memilih Royco.


__ADS_2