
"Apa... kamu punya pacar? di lingkungan pondok ini, Mien? apa kamu nggak merasa takut, jika ketahuan nanti? kamu bisa di hukum lho, Mien," cerca Royco yang langsung begitu saja percaya akan candaan Amien
Sontak saja membuat Amien langsung membatin, "Nih anak, main percaya saja sih kalau saya punya pacar? saya 'kan cuma bercanda. Eum... bagaimana yah cara menjelasakan ke Royco, agar dia mau di ajak ke persawahaan untuk bertemu dengan markisa? kalau saya ngomong hal yang sebenarnya, Royco pasti menolaknya karena kondisi ke insecure-nya."
Amien pun langsung menghela nafasnya, berharap bisa tenang dalam menjelaskan maksudnya kepada Royco.
"Begini Roy maaf, tadi saya hanya bergurau saja. Saya tidak ingin bertemu dengan pacar, tapi... ada hal yang ingin saya tunjukan padamu di tempat itu. Jadi kamu harus ikut, agar kamu bisa melihat hal yang akan saya tunjukan ke kamu itu. Bagaimana, kamu mau 'kan pergi ke tempat itu?" terang Amien seraya terus membujuk Royco.
"Tapi..."
"Alahhh! sudahlah Roy, nggak usah pake tapi segala. Kamu ikut saja."
"Hal apa sih, Mien yang ingin kamu tunjukan kepada saya, sehingga kamu bersikeras ingin membawaku ke tempat itu?" tanya Royco yang dibuat penasaran.
"Pokoknya hal yang sangat indah, yang selama ini kamu damba dambakan." terang Amien dengan bujuk rayunya.
__ADS_1
"Hal indah, yang selama ini saya dambakan. Hal apa yah? Kok Amien semakin membuatku penasaaran dengan kata katanya itu." Royco membatin keras merasa bingung tentang ucapan Amien itu.
"Ayo dong Roy, ikut saja. Markisa sudah mau bersedia menunggumu di tempat itu." batin Amien.
"Sudahlah Roy, sekarang saya sudah tidak punya banyak waktu untuk mejelasakannya. Pokoknya kamu harus ikut bersamaku ke persawahan yang ada di ujung sana. Kalau tidak...?" ucapan Amien terhenti sesaat, Karena Royco dengan cepat langsung memotongnya.
"Kalau tidak, kenapa Mien?" tanya Royco penasaran.
"Saya akan marah sama kamu Roy, dan saya tidak mau menjadi temanmu lagi," terang Amien dengan nada mengancam. Dan mencoba turun dari teras pendopo, untuk berlalu pergi dari sisinya Royco.
"Tunggu, Mien!" seru Royco dalam menahan langkah Amien pergi.
"Ada apa Roy? kenapa kamu menahan langkah pergiku? apa kamu bersedia menemaniku ke persawahan itu?" tanya Amien dengan senyum kemenangannya.
"Elehh, siapa coba yang mau pergi ke tempat itu bersamamu? saya hanya mau memberitahukanmu kalau tas sekolahmu itu ketinggalan," terang Royco seraya menunjuk ke arah tas Amien yang tergeletak itu.
__ADS_1
Wajah Amien yang tadinya terlihat senang, karena mengira Royco mau pergi dengannya. kini berubah menjadi kecut bak asem jawa, saat dirinya melirik ke arah tas sekolahnya itu.
Dan dengan perasaan kesal, Amien pun langsung mengambil tas itu kemudian menaruh di punggungnya.
"Dasar teman tak mempunyai perasaan!" seru Amien mengumpat kemudian kembali berlalu pergi. Royco yang melihat itu, hanya tersenyum seraya menggeleng gelengkan kepalanya. Sebelum akhirnya diapun kembali memanggil Amien.
"Mien... tunggu!" teriak Royco terlihat berlari kecil untuk menghampiri Amien.
Amien yang mendengar itu sontak langsung berhenti, namun kali ini Amien tidak langsung menoleh dia hanya berdiam diri saja di tempatnya.
"Mien kamu marah yah sama saya?" tanya Royco seraya memutar bahu Amien hingga berhadapan dengannya.
Amien hanya diam saja sambil menundukan wajah masamnya, tak mau menatap Royco karena merasa kesal dengannya.
"Maaf Mien, saya hanya bercanda tak bermaksud membuatmu tersinggung. Saya mau kok pergi bersamamu ke tempat itu, Jadi kapan nih kita bisa pergi ke sawah itu?" tanya Royco seraya mengusir kekecewaan pada diri Amien, dengan terlihat memasang wajah tidak sabarannya.
__ADS_1
Mendengar itu, Amien langsung mendongakkan kepalanya. Tak lama dia pun langsung tersenyum senang, seraya sedikit mendorong tubuh Royco.
"Uhhh, dasar! senang yah kamu membuat hati saya kesal," seru Amien namun bibirnya tersenyum simpul.