
Setelah Royco menceritakan kemalangan hidup nya kepada Amien, lantas membuat Amien langsung tersentuh hatinya.
Seraya rebahan menghadap ke langit langit kamar, Amien berpikir keras. Berniat membantu Royco untuk menyatukan cinta Markisa dan Royco. Bahkan, dia pun berkeinginan untuk membantu Royco dalam mencari sarung keris itu agar Royco bisa kembali ke wajah rupawannya.
"Saya salut sama kamu Roy, Kamu bisa menjalani hidup sulit itu sendirian. Dan dengan keadaan yang buruk rupa itu, kamu bisa melewati cacian demi cacian kata yang terlontar dari mulut pedas orang orang yang membencimu, saya janji Roy. Besok, saya akan melakukan suatu hal, demi bisa menyatukan kisah cintamu yang hilang." batin Amien seraya melirik wajah Royco yang sudah terpulas di atas bednya sendiri sambil tersenyum penuh arti.
Perlahan, mata Amien pun terasa berat dan ikut terpejam dalam tidurnya.
...****...
Keesokan harinya...
Sekolah agama yang setara SMA, masih dalam lingkungan pondok pun. Terlihat, banyak anak remaja yang memakai seragam islam khas dari pondok terkenal itu, baru keluar dari kelasnya usai pembelajaran. Mereka berlomba lomba menuju kantin yang memang tersedia khusus di pondok tersebut.
Namun, beda dengan Amien. Teman Royco itu. lebih memilih pergi menghampiri Markisa yang masih setia duduk di bangku nya.
Tak lama Amien pun langsung menaruh bokongnya, tepat di bangku kosong samping Markisa.
__ADS_1
Blekk...
Sontak membuat markisa langsung terkejut. Dan dengan reflek Markisa pun langsung terbangun dari duduknya, lalu berkata kepada Amien.
"Maaf Mien, kita bukan muhrim, tak baik jika kita duduk terlalu dekat. Mohon, saya minta kesopananmu, duduk mu jangan terlalu dekat denganku." pinta Markisa sopan.
"Maaf, saya tak bermaksud bersikap lancang. Ada hal penting yang ingin saya tanyakan ke kamu." terang Amien.
"Kamu boleh saja bertanya, asalkan jaga jarak dari saya. Bukan bermaksud lain, cuma saya hanya ingin menghindari fitnah." pinta markisa dengan nada sopan, agar Amien tak tersinggung.
"Silahkan ngomong, karena saya tidak mempunyai banyak waktu, saya takut anak anak nanti melihat kita. Sehingga mereka pun akan berfikiran lain tentang kita."
Mendengar itu Amien pun langsung to the point.
"Kamu mengenal orang yang bernama Royco?" tanya Amien ingin mengetes pengakuan Royco dari mulut Markisa.
Sontak membuat Markisa begitu sangat terkejut ketika mendengarnya. Karena orang yang ditanyakan oleh Amien itu, tak lain dia adalah, sosok orang yang begitu sangat dicintainya, yang sudah lama tak di lihatnya lagi semenjak dirinya masuk ke pondok.
__ADS_1
Perasaan bahagia pun langsung datang dengan tiba tiba saja menghampiri Markisa, saat dirinya mendengar kembali kata Royco dalam pendengarannya.
"Ka--kamu tau dari mana nama itu?" tanya Markisa dengan mulut gemetar, dan bola mata itu terlihat mulai berkaca kaca merasa terharu begitu mendengar nama Royco terucap dari bibir Amien.
"Maaf, jika pertanyaanku sampai membuatmu meneteskan air mata. Saya cuma ingin mengetahui kebenaran tentang ucapan dari temanku itu. kalau kamu adalah kekasihnya, apa itu benar?" tanya Amien begitu sangat penasaran. Dan ingin mendengar sendiri pengakuan dari mulut Markisa.
"Ja--jadi, Kak Roy itu temanmu? kamu tau sekarang dia lagi dimana, Mien?" tanya Markisa dengan wajah berbinar binar, seakan merasa senang. Dan tak sabaran ingin segera mengetaui keberadaannya
Melihat reaksi dari Markisa, Amien pun sudah bisa menebaknya kalau benar Markisa itu adalah kekasih Royco.
"Royco... Royco sekarang ada di sini Iss. Dia berada tak jauh dari kamu." terang Amien.
Mendengar itu, Markisa pun langsung diam terpaku. Perasaan senang, sedih langsung bercampur mejadi satu. Dan tak lama, Markisa pun menangis tak kuat menahan rasa harunya, ketika mendengar kabar Royco dari mulut Amien.
"Hiks... hiks... hiks..."
"Iss, ku mohon! kamu jangan menagis sekarang, tahan tangis mu itu. Kalau kamu menangis terus di lihat oleh teman satu kelas kita, mereka bisa salah mengira. Nanti dikiranya saya yang ngapa ngapain kamu." pinta Amien dengan memohon.
__ADS_1