
Masih di dalam kelas, Amien dan Markisa pun masih dalam percakapan tentang nama orang...Royco.
"Duh, kok malah nangis sih?" Amien dibuat bingung karena Markisa masih menitihkan air matanya begitu saja. Ingin menghapus air mata itu, eh kagak boleh karena bukan muhrim. Jadinya, Amien hanya garuk garuk kepalanya yang tidak gatal, membiarkan Markisa menangis cengeng sampai puas.
"Uda dong," kata Amien menyuruh Markisa untuk berhenti terisak isak.
Markisa pun memaksa air matanya untuk berhenti. Dia tak kuasa menahan tangisannya karena rasa rindu yang menggebu gebu terhadap Royco sudah tidak terbendung lagi.
Sebentar lagi! sebentar lagi dia akan bertatap muka, dengan kekasih hatinya yang sudah lama dinanti nantinya itu.
"Ayo, Mien! Antar saya menemui Kak Roy," pinta Markisa seraya berdiri dari bangku nya. Dia terlihat tidak sabaran ingin segera menemui Royco.
Amien langsung terdiam, merasa bingung dengan ajakan Markisa yang tiba tiba itu. Sontak, membuatnya langsung berpikir keras, tentang bagaimana caranya agar mempertemukan sepasang kekasih yang sudah lama tak berjumpa itu.
"Mien, kenapa kamu hanya diam? ayo cepat antar saya menemui Kak Roy sekarang juga!" seru Markisa yang tidak sabaran.
"Ta--ta--tapi...?"
__ADS_1
"Tapi apa, Mien? apa kamu nggak mau mengantar saya, hah?" tanya Markisa sedkit kesal karena Amien terlihat ragu.
"Bukan begitu maksud saya Iss. Cuma... saya sangat bingung sekali. Bagaimana caranya untuk mempertemukan kalian? sedangkan kamu tau sendiri, peraturan di pondok ini begitu sangat ketat sekali. Salah sedikit saja, hukumannya langsung tanpa ampun di keluarkan dari pondok ini," terang Amien mengingatkan kembali akan aturan di pondok itu.
Markisa langsung terdiam, mengingat kembali akan peraturan yang berlaku di pondok itu, sehingga membuatnya terpaksa mengurungkan niatnya dalam menemui Royco.
Wajah yang tadinya berbinar, kini dengan sekejap langsung berubah dengan kekecewaan. Kecewa tak bisa berjumpa dengan Royco sekarang juga, karena terhalang akan peraturan yang ada dalam pondok itu.
Sedang Amien yang melihat raut kecewa Markisa, merasa tidak enak hati sendiri. Namun, teringat akan janji yang dibuat dalam hatinya kepada Royco, Amien pun tak begitu saja langsung menyerah hanya karena aturan ketat.
Diapun langsung berfikir seribu cara, agar Markisa dan juga Royco bisa saling bertemu, meskipun dirinya akan menjadi tumbal dari aturan ketat pondok itu.
"Ide bagus, Mien. Saya bersedia," sanggup Markisa menjawab tanpa berpikir panjang lagi akan adnya sanksi yang akan di dapatkannya bila ketahuan oleh petugas pondok.
Bagi Markisa, bara api pun akan dilangkahinya bilamana ada Royco di seberang bara api tersebut.
"Oke, semoga tidak ada rintangan ya, Markisa," ucap Amien seraya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Semoga saja!" ucap Markisa. Dalam hatinya berdoa agar pertemuannya dilancarkan, karena pondok ini memang di warning keras untuk para santriwan dan santriwati tidak ada kata pacaran.
Drtttt...
Suara bel masuk pelajaran selanjutnya pun terdengar nyaring, membuat Amien segera beranjak pergi dari dekat bangku Markisa, karena Syarief pun sudah terlihat masuk bersama teman teman lainnya. Amien tidak mau membuat Syarif curiga akan rencananya. Adanya akan kacau karena Amien tahu kalau Syarief sangat tidak suka kepada Royco.
...**** ...
Pulang sekolah, Amien segera bergegas menemui Royco yang berada di pendopo khusus untuk belajar mengaji, guna untuk membicarakan sesuatu ke temannya itu.
Amien masih diam, karena Royco sangat serius sekali dalam pelajaran kajiannya. Tak apa dia menunggu sejenak, toh waktu ashar masih lama berkumandang.
Beberapa menit menunggu, Royco akhirnya selesai juga. Melihat itu, Amien lantas langsung mengucapkan salam, "Assalamualaikum."
Royco pun langsung menoleh seraya membalas salam dari Amien, "Waalaikumsalam... eh kamu Mien? sudah pulang sekolah? ayo sini duduk bersamaku, kita ngobrol ngobrol dulu." Royco menggeser duduknya agar Amien bersisian dengannya.
"Kebetulan ada yang mau saya obrolin ke kamu, Roy," kata Amien yang ingin membuat kejutan pada Royco.
__ADS_1
"Apa tuh?"
"Temanin saya ke sawah nanti, mau ya? saya ingin menemui pacar saya," Amien sedikit jahil.