HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 46


__ADS_3

"Tolong... tolong saya Pak polisi!" Royco terus berteriak seraya mengguncang-guncankan jeruji besi yang telah membelenggunya itu.


Merasa terganggu dengan teriakan itu, Briptu yang bertugas di sift tiga pun lantas pergi menghampiri selnya Royco.


"Hooooaam, ada apa? kenapa setiap hari Anda selalu membuat keributan di dalam sel? apa Anda Tidak capak, haa?!" tanya tegas Briptu itu dengan menahan kantuknya. Dia sedikit kesal.


Belum sempat Royco menjawab, sontak Bribptu itu pun langsung terkejut. Saat mata yang dalam keadaan setengah sadarnya itu, melihat wajah serta kulit Royco di penuhi bintik bisul yang berisikan cairan nanah.


"Anda... Apa saya nggak salah lihat?" tanya Briptu itu dengan mengucek matanya memastikan apa yang telah dilihatnya. Bau busuk juga baru menusuk hidungnya.


"Pak, tolong saya. Saya sudah nggak kuat Pak, wajah serta seluruh kulit saya semuanya terasa amat gatel sekali," pinta Royco memelas dan terus menggaruk tubuh serta wajahnya.


"Iya Pak, cepat bawa pergi laki-laki itu dari sel ini. Saya tidak mau jika nanti saya pun ikut tertular oleh penyakitnya yang aneh itu, saya sudah tidak kuat mencium aroma busuk dari laki-laki itu, Pak." sambung teman satu selnya Royco yang terlihat terus menutup lobang hidungnya, yang duduk di sudut sel itu menjauh dari Royco.


"Oke, oke. Saya akan mengeluarkan mu, kamu tunggu sebentar. Saya akan mengambil kunci selnya dulu." ucap Briptu itu yang tanpa pikir panjang lagi.


Ceklek...


Pintu sel pun terbuka, dan dengan jijik seraya terus menutup hidungnya. Briptu itu membawa Royco keluar dari selnya, tak lupa dia pun langsung mengunci kembali pintu sel itu.


"Ayo, saya antar kamu pergi ke rumah sakit." tawar Briptu itu.


Dengan terus menggaruk kulitnya yang gatel, Royco pun melangkah pergi keluar dari lorong sel tahanannya didampingi oleh Bribtu itu.


"Pak, Saya tinggal pergi ingin mengantar tahanan ini ke rumah sakit, tahanan ini terkena penyakit kulit yang sangat membahayakan. Tolong teruskan jaga malamnya yah," pinta Briptu itu kepada rekannya kerjanya.


"Baik, Pak," jawab rekan Briptu itu, dengan melirik aneh ke arah Royco seraya ikut menutup hidungnya.

__ADS_1


Bau busuk yang di timbulkan oleh Royco itu begitu sangat tajam sekali, sehingga siapa saja yang ada di dekatnya merasa mual serta ingin muntah.


"Howeek... howek...!" Briptu itu sesekali ingin muntah, merasa tidak kuat mencium aroma busuk dari penyakit Royco.


"Pak, tolong cepat. Bawa saya pergi ke rumah sakit, saya tidak tahan lagi dengan gatal ini." pinta Royco sepanjang perjalannya, dan tak pernah luput dari terus menggaruk.


"Helo, Anda pikir saya ini sedang apa? tertidur kah? makanya, jalannya yang cepat dong, biar kita bisa cepat sampai ke mobil. Memangnya saya betah apa? ada di dekat Anda sambil mencium aroma busuk yang keluar dari tubuh kamu ini. Saya juga ingin cepat-cepat membawa mu pergi, biar saya terbebas dari bau busuk yang sangat menyengat ini." ucap Briptu itu merasa kesal di dominasi jijik.


Setelah menyusuri lorong sel tahanan, Briptu serta Royco pun akhirnya sampai juga di tempat parkir mobil dinas yang ada dalam penjara itu.


"Cepat, kamu masuklah. Agar kita bisa langsung pergi ke rumah sakit!" titah Briptu itu terhadap Royco dengan membuka pintu mobil ambulance yang dipilihnya.


Tanpa banyak kata, Royco pun turut masuk kedalam mobil ambulance itu.


Brakk...


Dengan membunyikan sirine, Briptu itu pun langsung melajukan mobil menuju ke rumah sakit untuk mengantar Royco.


"Astaga! gatal ini sungguh sangat menyiksa gue, kalau tau begini gue kagak mau di hukum sama kakek." batin Royco yang seakan menyesalinya.


Royco tidak tau saja rutukannya dalam hati, mampu di dengar baik oleh kakek buyutnya.


"Apa kamu bilang, Cu? apa kamu mau di tambah lagi hukumannya?" tanya sang Kakek buyut yang dengan tiba-tiba saja langsung muncul dalam pendengaran Royco.


"Jangan kek, saya nggak mau di tambah lagi hukumannya. Ini saja sudah sungguh sangat menyiksa saya, Kek. Ampun Kek... ampun." tolak Royco seraya memohon ampun terhadap sang Kakek buyutnya.


"Hey, kamu sudah gila yah? kenapa kamu berbicara seorang diri? pake acara memohon ampun segala!" sambung Briptu itu, yang tidak mendengar suara selain suara Royco.

__ADS_1


"Nggak Pak, saya masih waras kok. Cuma gatel ini loh, seakan nggak mau pergi dari tubuh saya." ucap Royco mengelak.


"Kamu yang sabar, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit. Lagian kenapa sih kamu? tiba-tiba saja terserang penyakit seperti itu, tadi sore kan saya lihat kamu itu baik-baik saja. Kok sekarang tiba-tiba bisa seperti itu?" tanya Briptu itu, seraya terus menahan penciumannya.


"Saya nggak tau pak, tiba-tiba saja penyakit ini datang. Awalnya sih saya bermimpi Pak," terang Royco.


"Bermimpi...? mimpi apa?" tanya Briptu penasaran.


"Kalu saya menceritakan mimpi itu pada Bapak, bisa sampai besok pagi selesainya Pak, karena sangat panjang untuk di ceritakan. Lebih baik Bapak fokus saja mengemudikan mobilnya, biar cepat sampai ke rumah sakit sebab saya sudah tidak tahan lagi dengan gatal yang menyerang ini," ucap Royco seraya terus menggaruk.


"Saya sih inginnya begitu, memangnya kamu doang yang tidak tahan? sama saya juga tidak tahan. tidak tahan dengan bau busukmu," gerutu sang Briptu.


Sekian lama mereka menempuh perjalanan menuju ke rumah sakit, namun di tengah-tengah perjalan itu tiba-tiba saja Royco merasa kebelet ingin buang pipis.


"Stop Pak, berhenti sebentar dulu." pinta Royco.


Sontak saja membuat Briptu itu langsung terkejut, dan secara mendadak Briptu itu pun menginjak pedal rem mobilnya dalam-dalam.


Chiiit...


"Ada apa lagi sih? katanya kamu ingin cepat-cepat sampai ke rumah sakit?" tanya Briptu yang dibuat dongkol oleh Royco.


"Maaf Pak, saya kebelet ingin buang air pipis. Boleh nggak saya pergi turun dari mobil untuk buang pipis, soalnya saya sudah tidak kuat menahannya. Sudah ada di ujung tanduk ingin secepatnya bisa pergi pipis, Pak," ucap Royco yang mengungkapkan keinginan hasrat buang air kecilnya.


Sontak saja membuat Briptu itu sedikit bingung untuk memberikan ijinnya, bingung kalau dirinya mengijinkan tahanan itu untuk pergi membuang air pipis, takutnya itu hanya akal-akalannya saja untuk mengibulinya.


Supaya tahanan itu bisa dengan leluasa pergi kabur darinya, tapi kalau Briptu itu tidak mengijinkanya, disamping bau busuk yang terus menyiksanya. Kini akan di tambah lagi dengan bau pesing dari air pipis dari tahanan itu.

__ADS_1


"Nggak, ini nggak boleh terjadi. Bau busuk ini saja sudah sangat menyiksa, masa mau di tambah lagi dengan bau pesing jika tahanan itu sampai ngompol didalam mobil ini." batin Briptu.


__ADS_2