
Tiga hari sudah Royco tidak pernah datang ke sekolahan untuk bekerja karena dirawat, kini diapun terlihat sudah kembali datang lagi ke sekolahan itu.
"Pagi, Pak." Sapa Royco kepada atasan yaitu Medi.
"Pa--" jawab Medi terputus karena terkejut melihat Royco, yang tengah berdiri tepat di hadapanya dengan memakai seragam lengkap OB telah menyapanya.
"Royco ... ?" gumam Medi dalam kagetnya, dan langsung terbangun dari duduknya untuk pergi menghampiri Royco.
"Kenapa anda melihat saya sampai terkejut seperti itu Pak?" tanya Royco yang heran melihat tingkah atasannya.
"Roy, kamu duduk dulu. Ada hal penting yang mau saya omongin ke kamu," ucap Medi dengan mempersilahkan Royco.
"Makasih, Pak." ucap Royco yang langsung duduk.
__ADS_1
"Roy, kamu jangan tersinggung yah." pinta Medi terlihat tegang.
"Kenapa saya harus tersinggung Pak?" tanya Royco tidak mengerti maksud Medi.
"Sebelumnya saya minta maaf sama kamu Roy, kemaren, Pak komite menemui saya. Dia mengancam akan mengganti yayasan ini, jika yayasan ini masih memperkerjakan kamu menjadi OB di sekolahan ini. Saya merasa sangat bingung Roy, sedangkan teman-teman OB serta saya sendiri. Masih butuh dengan pekerjaan ini, jadi saya harus bagaimana Roy?" tanya Medi mempertanyakan keadaannya.
"Maaf 'kan saya Pak, karena permusuhan saya dengan Pak komite, teman-teman OB dan juga Pak Medi jadi kena imbasnya. Demi mempertahankan yayasan ini, saya rela kok jika diberhentikan dari pekerjaan ini." ucap Royco menerima.
"Maaf 'kan saya yah Roy, sebenarnya ini bukan atas kemaun saya sendiri. Saya sungguh sangat terpaksa melakukannya," ucap Medi menyesal.
"Makasih Roy, saya tidak akan pernah melupakan pengorbanan yang telah kamu lakukan terhadap yayasan yang sudah menjadi rumah kita ini. Akan saya sampaikan salam kamu ke teman-teman OB serta Andre," ucap Medi seraya memberikan pelukan hangat kepada Royco.
"Saya Pamit Pak," ucap Royco yang langsung pergi.
__ADS_1
Medi mengangguk iya seakan sangat menyesal telah memberhentikan Royco dari pekerjaannya, telihat terus menerus memandangi punggung Royco yang sedang berlalu pergi hingga lenyap dari pandangannya.
Demi mempertahankan yayasan itu agar tidak digantikan dengan yayasan yang baru, Royco sampai rela mengorbankan dirinya keluar dari yayasan itu.
Terpatri pada bibir Royco senyum bangga bisa melakukan hal itu, meskipun dalam hatinya ada sedikit rasa kecewa, karena demi bisa menjauhkan anaknya dari dirinya Pak komite sampai menyalahgunakan jabatannya itu.
Untuk sesaat Royco menghentikan langkahnya, Pada saat dirinya berada di tengah lapangan untuk melihat ke lantai atas. Nampak seorang laki-laki tersenyum senang, yang sedang berdiri menyaksikan langkahnya meninggalkan sekolahan.
"Ini belum berakhir Pak Komite," Batin Royco yang kemudian langsung melangkah pergi, menuju pintu gerbang sekolahan.
Disaat Royco sudah keluar dari pintu gerbang sekolah, tetiba sebuah mobil berhenti tepat di dekatnya. Sedikit demi sedikit kaca mobil itupun mulai terbuka, dan seorang wanita sedang duduk manis di dalam kemudinya.
"Mas, masuklah kedalam mobil." pinta seorang wanita yang dengan tiba-tiba saja meminta Royco untuk masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
...***...