
Hari hari berlalu, Royco masih berada di desa. Belum ada kemajuan dalam pencarian sarung kerisnya. Itu tandanya, dia masih dalam buruk rupa yang dialaminya.
Hinaan demi hinaan dari para orang orang yang ada di desa itu kadang terdengar langsung dari telinganya. Tetapi, Royco hanya menanggapinya dengan kata sabar.
Tiada hari dirinya tanpa mengembala kambing milik Pak tua. Selain dari menjalankan syarat dari pak tua, sebenarnya Royco juga ikhlas untuk membantu si Bapak. Hitung hitung sebagai tanda dedikasi rasa terima kasihnya atas jasa Pak tua yang sudah menolongnya dari ujung tanduk kematian di waktu malam kaburnya dari penjara.
Seperti hari biasanya. Pagi ini, Royco sudah mulai menggiring enam ekor kambing kambingnya untuk menyeberangi sebuah jalan desa. Menuju ke ladang rumput yang hijau nan luas yang masih jauh dari jangkaun kakinya.
Terlihat, dia sedang menyebrang dengan anak kambing gendongannya. Namun di tengah aspal, dia berhenti. Karena induk kambing yang ada didepannya tiba tiba mogok untuk berjalan.
"Eits. Kenapa tiba tiba kamu berhenti berjalan, kambing? jangan bilang kalau kamu ingin digendong juga, seperti anakmu ini." ujar Royco mengajak berbicara kambingnya dengan konyol.
"Mbeee... mbeee... mbeee." jawab sang kambing seakan meledek Royco.
"Ehh, kamu malah meledek saya. Ayo, cepat jalan! Jangan seenak hatimu berhenti di tengah jalan." ujar Royco seraya mendorong dorong kambing itu.
Tanpa Royco sadari, saat dirinya berusaha mendorong kambingnya untuk kembali berjalan. Terlihat sebuah mobil mewah, melaju dengan kecepatan tinggi yang dikemudikan oleh seorang wanita, tanpa melihat ke depan, karena sibuk mencari gawainya yang jatuh di bawah kakinya.
"Ahh, ketemu juga," lirih sang wanita saat menemukan gawainya kembali.
"Ahhh, sial!" sang wanita mendengus kesal saat sadar, di depan laju mobil yang dikemudinya, Ada kambing serta sang pengembala lagi berdiri di tengah tengah jalan.
Tiin... tiin... tiin...
Seraya menyalakan klaksonnya, sang wanita itu bergegas menginjak pedal remnya. Namun karena laju itu terbilang di atas rata rata kemudi, maka naas. Sang kemudi gagal untuk mengendalikan henti mobilnya, sehingga tabrakan pun tak terelak. Orang di depannya rubuh ke tanah, itulah yang sempat ia lihat.
Chiiiiit....
Duarrr....
__ADS_1
"Astaga! siapa yang sudah saya tabrak? kambingkah...? atau pengembalanya?" Dalam kepanikan, wanita itu bertanya tanya seraya mengelus dahinya yang terbentur setir mobilnya.
"Hais, apakah saya sudah membunuh orang di desa ini?" tanyanya sendiri yang takut untuk keluar dari mobil. Wajahnya pun kian menegang karena ketakutan. Pelipis itu tetiba berkeringat dingin dengan jantung berdegup hebat. Takut takut orang yang di tabraknya sudah wafat, dan berujung di tuntut oleh penduduk Desa.
Di depan mobil itu, Royco yang kaget akan keberadaan mobil yang tak terduga, reflek menunduk. Yang tertabrak hanya kambingnya saja.
"Kambingku..." pekik Royco seraya berdiri untuk menghampiri kambingnya yang berada di dekat ban mobil.
"Ahh, syukurlah! Ternyata, cuma seekor kambing yang saya tabrak," lega sang wanita yang masih duduk dikemudinya.
Tak lama, wanita itu pun turun dari dalam mobilnya, untuk pergi menghampiri kambing serta pengembalanya.
"Mas, maafkan saya. Saya tak bisa mengendalikan mobil saya, sehingga mobil saya menabrak kambing Mas. Tapi Mas jangan khawatir, saya pasti akan tanggung jawab." ujar sang wanita yang langsung merogoh tasnya.
"Ambilah uang ini, uang ini untuk mengganti kambing Mas yang sudah mati itu." ucap sang wanita dengan tangan itu menyodorkan uang ke arah Royco yang belum menoleh kepadanya.
"Madu... ?" Royco dengan lirih saat meliahat wajah wanita itu.
"Se--setan..."
Gubrakk...
Madu langsung dibuat terkejut, saat melihat wajah mengerikan dari pengembala itu. Sontak membuat dirinya ingin pergi kabur, namun malang bagi Madu karena sepatu high heelsnya tersangkut hingga membuatnya terjatuh.
Melihat hal itu, dengan cepat Royco berlari kecil menghampiri Madu untuk menolongnya.
"Madu, kamu nggak kenapa kenapa'kan?" tanya Royco cemas. Seraya mencoba membangunkan Madu.
Namun, karena begitu sangat ketakutanya akan wajah buruk yang menyerupai setan, Madu pun berusaha untuk mengelaknya.
__ADS_1
"Jangan sentuh saya. Pergi! Menjauh dariku, Setan." Madu dengan ngesod mencoba menjauh dari wajah mengerikan itu.
Royco terlihat bingun, seraya menengok kesana kemari mencari sesosok makhluk yang membuat Madu ketakutan.
"Mana ada setan di siang bolong begini, tenanglah Madu. Saya ini Royco, orang yang dulu pernah menjadi teman main mu di ranjang." terang Royco mencoba membuat Madu tenang.
"Enggak! saya nggak pernah mengenal orang yang bernama Royco, pergilah menjauh kau setan. Jangan ganggu saya, dan ambilah uang ini." ujar Madu seraya menaburkan uang kertas itu ke wajah buruk Royco. Sebagai ganti rugi kambing yang telah mati.
Degg...
Hati Royco terasa di sayat sayat oleh sebilah pisau yang sangat tajam, dan luka itu seakan lansung tersiram oleh air garam, betapa sangat pedihnya luka yang dirasakan oleh Royco. Saat orang yang dulu pernah mengemis cinta, serta mengemis kepuasan darinya, kini berdalih tidak pernah mengenalnya. Bahkan dengan sangat lantang menyerukan dan memanggilnya setan.
"Astaga! seburuk itu kah wajahku? hingga Madu pun sampai menyamakan diriku dengan setan." Royco berbicara sendiri dengan menahan sesak di dada.
Dengan melepaskan kedua high heels, Madu pun berlari pergi meninggalkan Royco, menuju kembali masuk ke mobilnya. Dan dengan cepat, Madu langsung meninjak pedal gasnya, tanpa mendengar sedikitpun penjelasan dari Royco.
Alhasil, Royco pun sangat terluka, dan sebisa mungkin dia menerima. Mungkin itu salah satu ujian ujian terberat dalam misinya mencari sarung keris yang entah dimana keberadaannya.
"Sudahlah, mungkin ini karma yang harus saya jalani, setampan tampannya wajah seorang pria lama lama akan memudar seiring berjalannya waktu. Benar kata Pak tua, di dunia ini nggak ada yang abadi. Keabadian hanya milik sang pencipta saja, saya harus belajar banyak dari kejadian ini." lirih Royco, dan langsung mengurusi kambingnya yang telah mati.
"Bagaimana ini? apa yang harus saya katakan ke Pak tua nanti? jika salah satu kambingnya telah mati," gumam Royco merasa bingung.
Disela sela kegelisahan yang sedang Royco hadapi, kembali terdengar suara lantunan ayat ayat suci alquran yang berasal dari bangunan tinggi itu.
Mampu, membuat Royco kembali merasa tenang, sehingga dengan sesaat mampu melupakan musibah yang barusan dialamainya.
Entah, kenapa suara itu semakin kuat menarik Royco membawanya ke tempat bangunan tinggi itu, hingga membuat Royco tak mampu lagi menahanya ingin pergi ke tempat bangunan tinggi tersebut.
Dan dengan menggendong kambingnya yang telah mati, Royco bersama lima kambing yang tersisa akhirnya berjalan pergi menuju ke tempat bangunan sumber suara.
__ADS_1