HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
61


__ADS_3

Masih di sekitaran tembok pembatas santriwan dan santriwati...


Royco yang tidak mau mencari masalah di hari pertama di pondok tersebut. Terpaksa menelan rasa penasarannya akan suara perempuan yang mengaji di balik tembok yang menjulang tinggi itu.


"Eh, tunggu dulu, Roy!" Amien yang diajak pergi oleh Royco dari tempat tersebut, menahan tangan Royco. Dia penasaran juga kenapa Royco bertingkah aneh hanya karena suara orang mengaji. Bagi Amien sih, itu hal biasa saja.


Royco pun terhenti seraya menatap Amien dengan alis terjungkit satu.


"Biasa aja kali itu alisnya," seloroh Amien seraya mensentil pelan jidat Royco. Sang empu tidak menggubrisnya, karena Royco kembali mendongak tembok tinggi itu.


"Hayoo, kamu suka suara wanita yang ada dibalik sana ya?" Goda Amien dengan nada bercanda.


"Bukan masalah suka tidak sukanya, Mien. Masalahnya, suara itu terdengar familiar sekali," ungkap Royco yang dalam hatinya mengingat nama Markisa. Tetapi, Royco masih ragu juga, sebelum dia melihat siapa dibalik suara wanita yang sudah membuatnya terngiang-ngiang itu.


"Oh, begitu." Seru Amien sok paham. "Terus tunggu apa lagi? ayo pecahkan rasa kepo mu itu." lanjutnya yang mempunyai ide modus.


"Caranya?" tanya Royco bingung.


Amien tidak menjawab, melainkan mengambil tangga yang berada di samping gudang penyimpanan segala perabotan khusus perlengkapan pondok.


Melihat hal itu, lantas membuat Royco semakin bingung. Bukannya kata Amien tadi, kalau melanggar peraturan akan fatal hukumannya.


"Mau apa, Mien?" Tanya Royco seraya memperhatikan penuh selidik Amien yang sedang memasang tangga yang terbuat kayu bambu itu.


"Mau tidur," ujar Amien dengan mata malasnya berputar. Bodoh nya, Royco mengangguk spontan, sejurus melotot ke teman barunya itu. "Elaaah, ni anak baru masih lugu aja. Ya mau buat ngintiplah, masa iya tangga buat rebahan, hmm..." Amien kembali memutar mata malasnya.


"Iya! Aku tahu akan hal itu. Tetapi, kata kamu 'kan ini tidak diperbolehkan? Dan aku tidak mau hari pertama ku langsung di keluarkan, jadi lupakan sajalah idemu itu." Tolak Royco yang cemas ketahuan oleh santri lain, apalagi pak Ustadz atau Pak Kyai. Beeeh, bisa-bisa gendong tas lagi menuju pintu gerbang bin take out.


"Kata siapa tidak boleh? Ini boleh kok. Asalkan kalau ada orang lewat, kamu modus saja akan membersihkan tulisan yang menempel di tembok beton ini, gitu." Terang Amien dengan trik bodohnya.


"Tulisan... ?" Tanya Royco terlihat bingung, seraya matanya itu terus mencari cari keberadaan tulisan yang dimaksud Amien. Padahal sejatinya tidak ada coretan apapun di tembok itu.


"Iya tulisan, Roy." Amien menyakinkan Royco.


"Mana ada tulisan sih, Mien? Ngaco kamu, ah." Royco masih bingung. Dia sudah pusing karena kepo berat oleh si empu suara wanita itu, ini malah ditambah satu lagi kepusingan yang dibuat oleh Amien.

__ADS_1


"Lihatlah, ini tulisannya!"


Setelah selesai berseru, Amien dengan cepat menaiki anak tangga yang terbuat dari bambu itu. Sejenak, Amien celingak-celinguk, manatau ada orang yang akan melihat kejahilannya itu. Terasa kondusif, Amien sudah melancarkan aksinya yang akan menjadi alasan Royco untuk modus.


Royco hanya mampu melongo seraya mendongak ke atas, dikala tangan Amien dengan cekatan mencoret coret tembok ber-cat coklat itu, mengunakan kapur putih yang sebelumnya sudah ada di dalam kantong kemejanya.


Amien pun segera turun saat tugasnya sudah selesai.


"Ayo, naiklah!" Kata Amien mentitah Royco dengan wajah itu terlihat bangga karena sudah mengeluarkan trik modusnya yang rupa rupanya Royco senang karena pria buruk rupa itu tersenyum bangga padanya. Padahal, Amien tahu kalau perbuatannya itu salah. Namun demi membantu Royco, dia pun nekat untuk melakukan ke modusan.


Amien hanya berdoa, agar tidak ada satu orang yang tahu aksinya, yang memang dasar nya saat ini para santri sedang dalam kelas.


"Ayo cepat, Roy!" Amien memukul pelan lengan Royco yang malah terbengong bodoh.


"I-iya," gagap Royco. Dia pun menaiki pelan penuh karaguan, anak tangga yang terbuat dari bambu itu.


Amien dengan sigap menahan tangga tersebut, takut takut tangga nya kabur perlahan bin oleng merosot. Kan, kasihan Royco bilamana terjatuh. Sudah buruk rupa masa iya ditambah akan buntung atau lainnya. Eh, Amien tidak berdoa lho. Sueer! Namanya aja Amien, tapi tidak pernah mengaminin hal buruk yang akan terjadi pada Royco.


"Kalian sedang, apa?"


"Eh, Pak Ustadz." Amien tercengir bodoh yang sudah berbalik dan tidak memegang tangga yang digunakan Royco.


Sedangkan Royco masih di tengah tengah tangga, terpaku.


"Kalian sedang apa berada di sudut bangunan? Dan kamu, Roy. Sedang apa naik naik tangga segala?" Tanya Pak Ustadz Leman. Walaupun sedang berbicara, tetapi dalam hatinya terus saja berdzikir dengan tangan itu memegang sebuah tasbih.


"Itu, Pak... Hmm...." Amien tergagap. Sejenak, segera berdehem agar terlihat rileks di mata Pak Ustadz.


"Saya sedang menyuruh Royco membersihkan tulisan di tembok itu, Pak. Apakah kami salah dan melanggar peraturan?" Dusta Amien menutupi kekonyolan yang sedang dilakukannya bersama Royco.


"Bagus! ternyata kalian rajin juga yah? kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian, tapi ingat yah... kalian harus hati hati. Oh ya Mien, kamu pegang dengan benar tangga itu. Jangan sampai Royco terjatuh, kasihan dia kalau terjatuh nanti. Kamu paham Mien?" tanya Ustadz dengan memperingatkan mereka.


"Paham, Ustadz." seru mereka dengan kompak.


"Yasudah, saya permisi. Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam!" Keduanya berengan lagi dalam menyahut.


Kepergian Pak Ustadz, Amien dan Royco tanpa janjian, terlihat kompak mengelus dada legah masing masing. Syukur Pak Ustadz percaya, begitulah arti kelegahan mereka.


"Roy, buruan selesaikan urusanmu," seru Amien seraya mendongak ke atas.


"Baik!" Royco pun dengan cepat segera melangkah sampai ke ujung tangga di atas sana, demi bisa melihat orang yang masih terdengar suara merduhnya dalam melafalkan kitab suci Al-Qur'an.


Hingga sampai alkhirnya, mata itu sudah melihat segala pemandangan taman pondok bagian santriwati.


"Gimana, Roy?" tanya Amien penasaran.


Royco tidak menggubrisnya, karena kefokusannya tertuju ke pendopo gazebo yang memang ada seorang wanita sedang mengaji dalam kesendiriannya. Sementara, para santriwati lainnya hanya sibuk bercakap cakap dalam waktu istirahatnya.


"Ah, punggungnya doang yang terlihat," keluh Royco seraya matanya memicing tajam ke punggung seorang wanita yang memakai kerudung putih.


"Ayo, Roy. Jangan lama lama! Takut ketahuan!" Amien memperingatkan lagi. Tidak sengaja, Amien menggerakkan kakinya secara kasar karena ada gigitan semut.


Alhasil, tangga itu tertendang sampai oleng.


"Eh, Amien...." pekik Royco terkejut.


Gedubrak...


Aww....


Royco terjatuh, menimpa Amien. Hingga, suara kepekikan ringis mereka kompak terdengar pilu dengan tubuh Royco menindihi Amien. Lebih parahnya, bibir Royco terpatri di pipi Amein.


"Iiiuhhh, Roy. Sialan!" Amien mengusap jijik pipinya yang tidak sengaja di kecup oleh Royco.


"Yeakh, Maaf!" seru Royco pun seraya mengusap bibirnya yang terasa pahit karena pipi jerawat Amien. "Kayak kopi pahit..."


Hahaha...


Keduanya malah berujung tertawa konyol bersama.

__ADS_1


__ADS_2