HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 66


__ADS_3

Matahari semakin merangkak di atas sana. Pantulan cahaya panasnya kian terasa, bagi Royco yang belum kelar menggunting rumput di area pondok santriwati.


"Lelah juga," ujarnya seraya menyeka peluh yang akan menetes dari pelipisnya.


"Saya harus selesai sebelum waktu Dzuhur tiba," semangat nya tanpa ingin istirahat. Karena pikirnya akan semakin memperlambat kerjaannya.


Padahal, tenggorokan nya amat terasa pahit karena kehausan.


Sebelum kembali bekerja, mata Royco sedikit menggerlya ke penjuru taman itu.


"Sepi ya, jam segini?" gumamnya. Dalam hati, berharap bisa melihat Markisa. Meskipun, hanya sekedar memandang dari kejauhan, karena Royco tentu saja sadar diri yang perangainya buruk rupa. Sangat tidak pantas untuk Markisa yang mempunyai wajah jelita.


Tiba tiba, Royco mengingat tentang sarung keris yang berada pada Markisa.


"Apakah betul sarung keris itu? kok bisa sih dipegang oleh Markisa? Apa ia sekedar menemukannya, terus menyukai barangnya dan berakhir disimpannya?"


Royco bertanya tanya sendiri, seraya terus menggunting rumput-rumput liar.


Tanpa Royco sadari, sebenarnya ada Markisa yang sejak tadi memperhatikannya dari balik batang pohon mangga. Dia merasa sangat penasaran akan suara yang dimiliki oleh sosok laki laki itu, suara seorang Royco. Orang yang teramat sangat dicintainya, kini hadir dengan tiba tiba saja menyerupai laki laki yang sedang sibuk menggunting rumput rumput itu, yang sekarang lagi di lihatnya dari balik pohon.


"Siapa pemuda yang penuh luka itu? kenapa suaranya mirip dengan Kak Roy yah...?" batinya yang dibuat sangat penasaran, seraya mengingat kejadian dikala dirinya terjatuh lalu laki laki itu mencoba membantunya.


Karena penasaran, Markisa pun mendekati kearah Royco, dengan tangan itu terlihat membawa sebotol air mineral.


"Assalamualaikum..." salam Markisa tepat di belakang Royco.


"Waalaikumsalam..." sahut Royco seraya berbalik. Tadinya, dia tiadak tahu kalau itu Markisa, setelah melihat wajah jelita itu Royco tertegun.


"Sekiranya kamu haus, saya ada sebotol air mineral. Ambilah, mungkin bisa mengurangi rasa haus kamu." tawar Markisa seraya melayangkan botol air mineral itu..


Royco belum bergeming. Matanya sibuk memandangi wajah Markisa, wajah yang sudah lama tak dilihatnya lagi. KIni wajah itu, hadir tepat dihadapannya.


"Heemmm..." Markisa yang ditatap intens memilih berdehem, untuk menyadarkan Royco agar tidak menatapnya seperti itu.


"Ambilah!" Markisa menaikan oktafnya, karena Royco masih saja tertegun.

__ADS_1


Royco yang tersentak, karena nada oktaf Markisa spontan meraih sebotol air itu dari tangan lembut seorang Markisa. Lalu berkata, "Te--te--terima kasih..." gagapnya.


"Tuh 'kan, suaranya sama persis dengan Kak Roy." batinya yakin. "Tapi... kok wajahnya seperti itu." sambungnya kembali ragu.


tak mau berandai andai, Markisa ingin menyakinkan dirinya dengan cara bertanya langsung ke Royco, "Apakah sebelumnya kita saling kenal? Suara mu mengingatkan saya kepada seseorang? Apakah kamu kak___"


"Markisa!"


Markisa kembali menelan pertanyannya, karena suara tegas Ibu Ustadza, memanggilnya dari lima meter tempatnya berdiri.


"Saya permisi..." pamit Markisa. Wajahnnya terlihat kecewa, karena rasa penasaarannya belum terjawab. Dalam hati kecilnya bertanya tanya, "Siapa sosok laki laki itu? apakah dia Kak Roy ku? atau mungkin hanya orang lain, yang kebetulan mempunyai suara yang sama dengan Kak Royco?"


Dalam langkanya pergi, Markisa pun sesekali menoleh ke belakang, menatap sejenak sosok orang yang mampu membangunkan ingatannya mengenai cinta pertamanya yaitu Royco.


Royco masih terdiam terpaku, terlihat matanya tak berkedip, mengiringi langkah Markisa pergi. Dalam hati kecilnya, ingin sekali bisa memberi tahukan kalau dirinya itu adalah Royco.


"Iya Iss, saya ini Kak Roy mu... Kak Roy yang sangat begitu mencintaimu. Tapi... Kak Roy yang dulu itu, sekarang dia sudah berubah menjadi sosok buruk rupa, yang mungkin saja akan membuatmu ketakutan. Dan akan membuatmu menyesali, karena pernah menjalin hubungan dengan pria yang sekarang begitu sangat menyeramkan ini."


Batin Royco yang seakan sudah tau pertanyaan Markisa yang terjeda, dan diapun berencana menyembunyikan identitasnya, karena tidak ingin membuat Markisa kecewa dengan rupanya yang sekarang.


Namun apalah daya Royco, dia tidak bisa melakukan hal itu untuk menahan Markisa pergi.


"Roy!" Dari arah kanan, ada Pak Ustadz meyapa seraya berjalan meghampiri Royco untuk melihat hasil kerja santrinya itu.


"Ustadz," sahut Royco yang salah tingkah. Takut gurunya ini melihatnya mengobrol bersama Markisa tadi.


"Bagaiman pekerjaan mu? sudah beres?" tanya pak Ustadz.


"Ah..Mm, tinggal masukin ke karung pak Ustadz." Royco melirik rumput rumput yang masih berserakan di tanah.


"Selesaikan segera, Roy. Waktu hampir dzuhur. Jangan sampai lalai dalam kewajibanmu dan berakhir di hukum lagi," khultum pak Ustadz.


"Baik, Ustadz," jawab Royco. Lalu bergegas membereskan rumput tersebut.


"Saya menunggu di masjid ya, Assalamualaikum." Pamit Pak Ustadz yang tidak mau mengganggu Royco bekerja.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." jawab Royco tapi tangannya itu masih setia bekerja.


Usai bekerja, Royco bergegas mandi bebek karena takut telat lagi untuk menjalankan ibadah.


Hingga saat ini, Royco berjalan ke masjid yang sudah terlihat ramai oleh santri lainnya. Amien dan Syarief pun sudah rapi dengan baju kokoh mereka.


Amien tersenyum melihat kedatangan Royco. Tidak seperti Syarief yang menyeringai devil.


"Roy, bagaimana hukuman pertamanya? sedap sedap gurih kah?" canda Amein seraya tersenyum geli.


Royco membalas senyuman itu. "Sedap lah! secara saya ketemu bidadari di sana," kata Royco mengingat Markisa yang datang membawakannya sebotol air minum.


Hal itu sebenarnya, sudah membuat Royco sedikit terhibur akan perasaan besarnya terhadap Markisa.


"Wah, betulkah? Enak dong! saya juga mau dihukum ah. Mana tau ketemu bidadari seperti kamu." konyol Amien. Royco tersenyum lagi akan sifat Amien yang main ceplos saja.


Keduanya itu tidak tahu kalau ada Syarief yang mengikutinya mereka yang sedang berjalan ke arah tempat wudhu.


"Awas ya kalian kalau ada yang naksir salah satu santriwati yang bernama Markisa!"


Mendengar suara dingin Syarief, sontak Royco dan Amien membalikan tubuh mereka.


Tentu, Royco tidak suka mendengar ancaman Syarief. Tanpa sadar, matanya menatap sinis Syarief.


"Apa? kamu tidak terima, hah? asal kamu tahu, santriwati yang bernama Markisa itu adalah gebetan saya. Bahkan, seluruh pondok santriwan di sini sudah pada tahu semuanya. Benarkah, Amien?"


Amien yang ditanya, spontan mengangguk karena memang betul kalau dari dulu Syarief sudah sering curhat padanya mengenai Markisa.


"Tapi Markisa adalah pacar saya." Royco spontan mengakui itu tanpa pikir dua kali, karena terpancing oleh Syarief yang terang terangan ingin mengklaim Markisa seenak jidat.


"Hah? saya tidak salah dengar 'kan?" hahahaha...Syarief tertawa ledek. Dia mengira Royco hanya membual. Amien saja sampai mengucek ucek telinganya, sama seperti Syarief yang tidak percaya akan pernyataan Royco.


"Mimpi kok di siang bolong!!!" ketus Syareif. sejurus menerobos bahu Royco dan amien yang menghadang jalannya untuk menggapai tempat wudhu.


"Dah yuk, kita sholat dulu." Amien pun beranjak karena Adzan sudah menggema. Tapi... nanti setelah selesai sholat. Amien akan mencerca pertanyan ke Royco tentang pengakuannya pada Markisa.

__ADS_1


__ADS_2