
"Pak Ustadz," panggil Syarief yang baru sampai dari area persawahan. Dia ingin mengadu tentang pertemuan Royco dan Markisa yang baru saja dilihatnya.
"Apa, Rief? dan netralkan dulu nafas mu," ujar Pak Ustadz yang melihat Syarief ngos-ngosan.
"Tidak ada waktu untuk sekedar mengatur nafas, Pak Ustadz. Ayo ikut saya segera untuk menciduk Royco dan Markisa yang sedang bermesraan di sawah saat ini," terang Syarief dengan sekali tarikan nafas. Dia tidak mau telat hanya untuk berlama-lama berucap.
"Jangan__Eeh."
Pak Ustadz terjeda karena Syarief main tarik tangannya untuk segera berjalan ke arah sawah.
...****...
Di sisi Royco dan Markisa serta Amien sebagai saksinya penyatuan keris itu bersama sarungnya. Seketika, dibuat terpaku dengan kepala kompak mendongak ke langit.
Bagaimana bisa? Langit yang tadinya cerah, kini seketika mendung disertai petir dan guntur saling beradu, sehingga guruh amat seram terdengar memekakkan telinga mereka. Tak lupa angin kencang pun berhembus bagai badai yang siap menelan korban.
"Ini ada apa? kenapa cuaca tiba-tba buruk?" panik Amien disertai ketakutan yang terpencar di wajahnya saat ini.
"Entahlah? saya juga tidak tau," bingung Royco.
"Astagfirullah, jauhkan-lah kami dari musibah apapun itu, Ya Allah," doa Markisa. Akibat angin besar itu, kerudung nya hampir terlepas.
Byuuus...
Brakkk...
Tetiba badai angin pun dengan seketika langsung menghempaskan atap saung, akibat bersatunya keris sakti dengan sarungnya yang sudah dipegang oleh Royco saat ini.
"Arrghhh, kak Roy tolong aku...!" teriak Markisa yang sangat ketakutan oleh badai angin itu.
"Iya, Dek. Kamu jangan takut, kakak akan segera menolongmu." ujar Royco yang terlihat susah payah berjalan, karena hembusan angin itu menghalangi langkahnya dalam menghampiri Markisa.
"Dek, kamu nggak papah?" tanya Royco seraya mendekap dengan sangat kuat tubuh Markisa, yang ketakutan itu.
"tidak kak, aku tida---" Markisa terputus saat badai angin itu tetiba berganti menjadi hujan.
Grayak...
__ADS_1
Kini giliran hujan yang turun dengan sangat derasnya, langsung mengguyur tubuh ketiganya sehingga membasahai seluruh tubuh mereka bertiga.
"Roy, kenapa cuaca tiba tiba berubah ubah yah?" tanya Amien terlihat menutupi pelipisnya dengan tangan, berjalan pergi menghampiri Royco dan Markisa.
"Nggak tahu Mien, saya sungguh tidak mengerti dengan ini semua. Mungkin ini, akibat dari penyatuan keris dengan sarungnya," terang Royco asal asalan karena dia pun bingung.
"Kak Roy, wajahmu...!" seru Markisa melongo nan tertegun menatap lekat-lekat wajah Royco.
"Iya Roy, wajahmu..." sambung Amien yang ikut berekspresi seperti Markisa.
"Wajah kakak kenapa, Dek?" tanya Royco dengan memegang bahu Markisa, yang terlihat bingung.
Markisa terdiam tak mampu berkata kata, saat menyaksikan keajaiban yang terjadi. Ternyata hujan itu, mampu membuat wajah Royco seketika berubah.
Tak mendapatkan penjelasan dari Markisa mengenai wajahnya, Royco pun berjalan menghampiri Amien, berharap Amien bisa menjelaskan mengenai hal yang terjadi menimpa wajahnya.
"Mien, apa yang terjadi mengenai wajah saya? Tolong, kamu jelaskan!"
Royco sungguh sangat kebingungan, saat Markisa dan juga Amien memilih terdiam tak mampu menjelaskan perubahan wajah pada Royco.
Disaat kebingungan sedang melanda diri Royco mengenai wajahnya, tak disengaja Royco melihat pantulan wajahnya sendiri di genangan air sawah.
"Wajah saya...? wajah saya sudah sembuh." Royco terlihat senang amat kegirangan, seraya meraba raba lembut wajahnya. Tak lama dia pun berjalan menghampiri Markisa, mengungkapkan rasa bahagianya.
"Dek, wajah kakak sudah kembali normal, kakak sangat senang sekali." ujar Royco seraya mendekap Markisa masuk kedalam pelukannya. Mencoba membagi kebahagiaannya bersama orang terkasihnya.
"Iya kak, aku juga menjadi ikut senang." jawab Markisa bebisik lirih di telinga Royco.
Dalam batin markisa merasa sangat senang, disamping kesembuhan Royco dari buruk rupanya. Markisa pun kembali mengingat pesan kakek tua yang hadir dalam mimpinya, yang katanya kelak akan berjodoh dengan cucunya, yang berarti itu adalah Royco.
"Woi! kalian anggap saya ini apa? hanya patung kah? sehingga kalian berani berpelukan di depanku. Saya juga ingin memeluk kalian, boleh?" tanya Amien mupeng, seraya merentangkan kedua tangannya.
Royco pun langsung menoleh, seraya memanggutkan kepalanya bertanda boleh.
"Asiiiiik," Amien dengan senang berlari mendekat ke arah Markisa, untuk menggoda Royco mencoba memeluk Markisa.
"Eits! mau kemana kamu Mien? awas yah kalau kamu berani memeluk Markisa," cegat Royco seraya mengacungkan kepalan tinju ke arah Amien untuk mengancam.
__ADS_1
Amien langsung mengerucutkan bibirnya, seraya berkata, "Iya deh, saya nggak akan memeluk Markisa. Saya hanya akan memelukmu saja Roy."
Tak lama, seberkas cahaya putih pun datang di hadapan ketiga orang yang sedang berpelukan itu, yang membuat ketiganya langsung terkejut hebat, saat melihat kemunculan seorang kakek kakek yang berpakain serba putih.
Yah... kakek kakek itu adalah, kakek buyutnya Royco, yang kini menemuinya secara langsung. Dengan menampakan wujudnya sendiri.
"Kakek..." panggil Royco terlihat kaget dibuatnya, Markisa juga Amien pun dengan kompak melihat ke arah pandangan Royco.
"Cucu... cepatlah kamu ajak mereka pergi dari tempat ini sekarang juga! karena tak lama lagi, akan ada orang yang tidak suka terhadapmu datang untuk menciduk pertemuan ini." pinta sang kakek buyut yang tidak ingin cucunya terusir dari pondok, jika sampai pertemuanya dengan Markisa terciduk.
"Siapakah orang itu kek?" tanya Royco penasaran.
"Syarief... dia sengaja membawa seorang Ustadz untuk menciduk kalian, karena dia ingin melihatmu dihukum dan dikeluarkan dari pondok." terang kakek buyut yang langsung kembali pergi lagi setelah memberitahukan maksudnya.
"Syarief?" Royco serta Markisa tak lupa Amien, dengan kompak mengulang. Dalam hati Royco langsung bertanya tanya tentang tujuan Syarief yang ingin menciduk pertemuannya dengan Markisa.
"Apa tujuan Syarief melakukan hal ini yah?" lirih Royco.
"Ya... ingin kamu dikeluarkan dari pondok lah, masa itu saja kamu tidak tahu sih Roy? karena orang itu sangat membencimu, apa lagi kalau dia tahu bahwa Markisa itu adalah kekasihmu. Dia tidak akan rela membiarkan Markisa bersamamu, kamu tahu sendiri kalau Syarif itu menyukai Markisa. Jadi... dia akan melakukan cara apapun supaya kamu terusir dari pondok. Berharap ingin memiliki Markisa dari kamu," terang Amien, yang mendengar saat Royco bergumam.
"Ya sudah, ayo kita cepat pergi dari sini sebelum Syarief bisa menciduk kita di tempat ini. Kita pergi lewat jalan yang berbeda yah pada saat datang, kalau kita lewat jalan yang sama. Takut nanti berpapasan dengan Syarief, bisa gawat nantinya." pinta Royco.
"Baik..." jawab Amien cepat Sementara Markisa hanya mengangguk menuruti hal yang baik saja demi tidak sampai terciduk oleh Syarief.
...****...
Disisi Syarief, yang nampak terlihat sedang berjalan dengan langkah yang tergesah gesah, sambil menarik narik tangan pak Ustadz berharap bisa dengan cepat sampai ke area persawahan untuk menciduk pertemuan Royco dan juga Markisa.
Kini dia sudah sampai juga di tempat itu, namun alangkah kagetnya saat dirinya tidak melihat satupun orang di tempat itu.
"Kemana mereka semuanya, kok tidak ada yah di tempat ini?" tanya Syarief terlihat bingung seraya melihat lihat kesekeliling tempat itu.
Pak Ustadz hanya menatap tajam ke arah Syarief, merasa terbodohi karena tak ada satupun orang di tempat itu.
"Syarief! kamu membodohi saya yah?" tanya Pak Ustadz terlihat geram oleh ulah Syarief.
"Tidak pak Ustadz, saya tidak berbohong. Beneran tadi saya melihat Royco dan juga Markisa ada di sini, bahkan bersama Amien juga." terang Syarif.
__ADS_1
"Ustadz tidak percaya, sekarang ayo ikut saya! Ustadz akan memberimu hukuman karena sudah mempermainkan saya. Lihat Rief, karena ulahmu saya harus hujan hujan. Dan karena ulahmu juga, saya terlambat untuk pergi ke masjid." ujar Pak Ustadz yang dibuat dongkol oleh Syarif.
...****...