
Jalan menuju ke area persawahan itu terlihat sepi, nampak dua orang sahabat sedang berjalan beriringan, menuju ke salah satu saung yang berada di tengah tengah sawah.
Dua orang sahabat itu, tak lain mereka adalah Royco dan Amien.
"Mien, mana hal indah yang ingin kamu tunjukan padaku? kalau hanya pemandangan sawah saja sih, itu sudah sering saya lihat." tanya Royco seakan merasa di bohongi.
"Sabar napa Roy! sebaiknya kita meneduh dulu saja di saung ini." santai Amien seraya menaruh bokongnya duduk di saung yang terbuat dari bambu itu.
Dalam ketidak mengertiannya akan hal indah yang ingin Amien tunjukan, Royco pun turut duduk di samping Amien lalu berkata, "Kamu ingin mengerjai saya yah?"
"Yaeeelah, kamu Roy. Masa sama teman sendiri tidak percaya sih. Sabar napa, woles... woles..." sahut Amien dengan nada jenakanya. Dia tersenyum tanpa dosa dikala melirik Royco yang sudah berwajah asem, karena ulahnya yang belum ingin terus terangan sebab tujuannya kemari.
"Bagaimana saya mau mepercayaimu, di sini nggak ada apa apa kok?" Sudah merasa malas karena Amien yang bertingkah tidak jelas yang saat ini temanya itu memilih tersenyum bodoh , Royco pun hanya mampu memutar malas bola matanya.
"Geser!" Royco yang sedikit kesal, menendang kecil kaki Amien, lalu memilih merebahkan tubuhnya di saung itu. Amien tidak marah, justru tercengir memamerkan deretan gigi putihnya.
"Eh, Roy. Jangan tidur dong! Paling sebentar lagi hal indah itu akan datang, kamu sabar dikit ya," ucap Amien yang langsung menarik narik tangan Royco hingga terbangun.
Dengan perasaan malas, akhirnya Royco pun menarik tubuhnya untuk duduk. Lalu mendelik sinis ke wajah Amien yang setia tercengir tanpa dosa.
Disisi lain...
Terlihat Markisa berjalan melewati pintu gerbang asrama pondok pria, untuk pergi ke area persawahan. Sesuai janji Amien kepadanya yang akan mempertemukannya dengan Royco.
Tanpa Markisa sadari, ada Syarief yang tidak sengaja melihatnya.
"Bukankah itu Markisa... mau kemana dia? kok sore sore begini dia berjalan seorang diri, keluar dari asramanya?"
__ADS_1
Karena Syarif penasaran, dengan cepat dia pun langsung melangkah pergi keluar dari asramanya untuk mengikuti langkah kaki Markisa.
Markisa tak menyadari kalau langkah kakinya itu sedang di ikuti oleh Syarif.
Syarif yang sangat ingin tau kemana cewek pujaan hatinya akan pergi, dengan diam diam terus mengekor di belakang Markisa. Berharap dia bisa tahu kemana Markisa akan pergi.
Sekian menit lamanya Markisa terus berjalan, tak terasa dia pun akhirnya tiba juga di tempat yang menjadi tujuannya.
Tidak ada orang lain yang terlihat di persawahan sepi itu. Kemana Amien yang sudah menjanjikannya? gumamnya seraya matanya terus celangak celinguk ke sana kemari.
Syarif yang melihatnya langsung dibuat terheran, saat mengetahui langkah akhir Markisa pergi.
"Ngapain Markisa pergi ke tempat ini yah...? Apa yang akan dilakukannya di tempat sepi ini?" gumam Syarif yang langsung bertanya tanya dalam hatinya, seraya bersembunyi dibalik pohon besar, agar Markisa tidak mengetahui keberadaanya.
"Nah... itu dia sudah datang, Roy!" seru Amien dengan melihat ke arah Markisa berdiri.
"Hal yang paling indah, hal yang kamu damba dambakan Roy. Markisa... dia lah orang yang kita tunggu tunggu di tempat ini," terang Amien seraya menunjuk jauh ke arah Markisa.
Markisa? Royco mencerna nama yang disebut oleh Amien. Sejurus...deg. Dia pun mengikuti arah pandang Amien. Benar saja, itulah adalah Markisa yang sedang berdiri kebingungan layaknya sedang mencari cari.
"Bentar ya, saya panggil dulu!" Amien segera loncat turun dari saung itu. Royco sendiri sudah gugup duluan karena kelakuan Amien yang ternyata membuat plan pertemuan ini.
Padahal, Royco itu sebenarnya ingin menyembunyikan identitas atau jati dirinya ke Markisa, karena tidak pede pada wajah buruk rupanya. Tapi ini....Astaga! Royco antara senang tidak senang akan pertemuannya bersama Markisa. Satu yang Royco takutkan...Markisa akan kecewa padanya karena keadaan wajahnya yang sudah tidak sama lagi seperti dulu.
"MARKISA! KAMI DI SINI....!" teriak Amien menggema seraya tangan itu mengudara di atas kepalanya.
Markisa menoleh. Syarief pun ikut melihat jauh ke arah Amien. Bahkan, dari pandangan sinisnya, Syarief juga melihat ada Royco.
__ADS_1
"Sial! mereka ternyata membuat temu janji." Marah Syarief. Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal karena dia kalah satu langkah oleh Royco yang ingin merebut hati Markisa.
Oleh sebab itu, dalam hati Syarief bergumam jahat, "Saya tidak akan membiarkan kalian bersama kembali. Lihat saja! Pak Ustadz akan memergoki pelanggaran kalian terhadap pondok ini."
Syarief pergi dengan hati dongkol, ingin mengaduh seperti anak kecil.
Sementara Markisa, terlihat melangkah di jalan yang setapak, untuk pergi menghampiri saung yang ada di tengah tengah sawah itu. Guna menemui Amien serta Royco.
Royco yang kala itu, belum merasa siap untuk mengungkap jati dirinya kepada Markisa, sekarang terlihat bingung dengan langkahnya Markisa yang semakin mendekatinya.
"Aduh! Mien, Bagaimana ini? Sebisa mungkin saya harus cepat bersembunyi sebelum Markisa melihat saya." gugup Royco seraya mondar mandir mencoba lari dari pandangan Markisa.
"Tenanglah Roy. Ngapain sih pake harus sembunyi segala dari Markisa? ini semua sengaja saya atur, agar kamu dan juga Markisa bisa bertemu. Ini kok, kamu malah akan ngumpet saat Markisa menuju ke tempat ini?" ucap Amien mencoba menghilangkan rasa gugup di diri Royco.
"Ta--ta--tapi Mien. Saya belum siap untuk memberitahukan identitas ini kepada Markisa, saya takut Mien. Takut kalau nanti membuat Markisa kecewa, dengan penampilanku yang buruk rupa ini." terang Royco yang merasa tidak yakin dengan kondisinya.
"Sudahlah Roy, tenangkan diri kamu. jangan lari lagi dari kenyataan ini. Saya sangat yakin sekali, kalau Markisa mau menerima keadaanmu yang buruk rupa ini, karena saya melihat ada cinta yang tulus di hati Markisa untukmu." terang Amien yang mencoba menyakinkan hati Royco.
"Assalamualaikum..." Markisa yang langsung mengucap salam, saat dirinya dengan tiba tiba sampai di saung itu.
"Waalaikumsalam..." Jawab Amien dan juga Royco dengan kompak.
Suasana pun mendadak hening, saat Markisa sudah berdiri tepat, di hadapan mereka berdua.
Merasa malu dengan kondisi wajahnya yang sekarang, Royco pun langsung menundukkan wajahnya saat Markisa berada di hadapannya.
"Astaga! bukankah laki laki ini. laki laki yang kemaren? laki laki yang suaranya sama persis dengan kak Royco. Jadi... benarkah dia kak Royco?" batin Markisa yang melirik ke arah Amien seakan bertanya kepadanya, tentang sosok laki laki yang masih terlihat menundukan wajahnya itu.
__ADS_1
Amien pun seakan bisa mengerti dengan apa yang di lihatnya dari sorot mata Markisa. Tak lama Amien pun terlihat mengangguk, seakan mengiyakan pertanyaan dalam batin Markisa.