HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 56


__ADS_3

Caci dan maki terus terlempar untuk Royco dari segerombol orang yang di laluinya, saat dirinya terus berjalan menghampiri sumber suara yang membuatnya begitu sangat penasaran.


Namun karena sudah biasa, Royco terus saja berjalan ke arah suara yang sedang mengaji itu.


Hingga, beberapa menit kemudian setelah bersusah susah di jalan yang masih saja menggendong kambing, yang sudah tidak bernyawa itu, Royco akhirnya sampai di depan gerbang bangunan tinggi yang jauh dari pemukiman penduduk.


Suara orang ngaji itu, kian menderu deru. Membuat Royco semakin terhipnotis. Kaki yang tadinya berhenti di depan gerbang kini memberanikan untuk melangkah masuk. Namun tidak bisa, gerbangnya ternyata dikunci.


Tak,tak, tak... Royco membuat suara nyaring di depan gerbang besi itu, dengan cara mengetuk besi tersebut menggunakan batu kecil yang baru saja di ambilnya.


Lantas, satu orang laki laki yang berpenampilan santriwan menghampiri gerbang, di mana Royco masih saja menimbulkan keributan kecil itu, tetapi bisa saja mengganggu kenyamanan santri yang sedang belajar.


"Anda siapa?" tanya santri itu sedikit ketus, seraya menatap ngeri penampilan Royco. Selain buruk rupa, penampilan itu di penuhi noda darah kambing yang telah mati mengotori baju Royco bagian depan.


"Saya ingin masuk kedalam, tolong buka'kan pintu gerbangnya." pinta Royco tidak sabaran.Bahkan, Royco tidak menjawab pertanyaan sang santriwan tersebut.


"Tidak boleh! apalagi dengan penampilan Anda yang sangat kotor ini, bahkan bau anyir yang sangat menyengat itu, bisa mengganggu kenyamanan pondok pesantren ini. Lebih baik Anda cepatlah pergi sekarang juga." usir sang santriwan. Setelahnya, langsung berlalu pergi.


Royco terlihat sangat kecewa dengan perlakuan sang santriwan, yang tidak mengijinkanya masuk kedalam pondok pesantren itu.


"Ya tuhan, ku pasrahkan segala urusan ini padamu. Sebab aku merasa yakin di balik kesusahan yang engkau berikan ini, ada kemudahan jalan untuk aku bisa melewatinya. Ijinkan aku masuk kedalam pondok pesantren ini, aku ingin bisa merubah jiwa yang kotor ini menjadi jiwa yang bersih, seperti seorang bayi yang baru lahir ke dunia. Aku yakin dorongan kuat menuju ke tempat ini, itu berasal dari engkau ya tuhan. Pasti ada hal indah yang ingin engkau tunjukan kepadaku, jadi mudahkanlah langkah ku masuk kedalam pondok pesantren itu." Royco berdoa seraya menengadahkan kepalanya ke atas.


Seraya membopong kambingnya yang telah mati, akhirnya Royco pun pergi meninggalkan pelataran pondok itu, membawa rasa penasaran yang masih sangat besar di dalam hatinya akan suara wanita yang mampu menyejukan hatinya.


Sesampainya di rumah Pak tua, Royco langsung meletakan kambing mati itu di tanah, kemudian dirinya pergi untuk memasukan lima kambing tersisa itu kedalam kandangnya.

__ADS_1


"Huuffts, akhirnya selesai juga tugas saya hari ini. tapi... bagaimana dengan kambing yang sudah mati itu, yah?" gumam Royco dengan menatap bingung kambing yang telah mati.


"Roy, kamu sudah pulang?" Tanya Pak tua yang tiba tiba muncul.


Membuat hati Royco langsung dag dig dug serr tidak karuan, takut akan Pak tua marah saat melihat salah satu kambing yang di gembalakannya mati.


"Su--sudah, Pak tua." Jawab gugup Royco.


"Roy, kenapa kamu terlihat gugup seperti itu? dan itu kenapa kambing saya Roy? apa yang telah terjadi menimpa kambing saya?" tanya Pak tua dengan bertubi tubi.


Deg...


Untuk sesaat Royco langsung terdiam, tak mampu untuk bisa menjelaskan tentang kematian kambing itu terhadap Pak tua.


"Ma--maafkan saya Pak tua, ka---kambing itu mati tertabrak oleh mobil." terang Royco dengan gagap.


Pak tua sengaja mengikuti langkah Royco dalam mengembalakan kambingnya, karena pada saat Royco pergi pamit untuk mengembala kambing, tetiba perasaan tidak enak langsung muncul menghampirinya, seakan mendorong kuat untuk mengikuti langkah Royco dalam mengembala.


Bahkan, kejadian perginya Royco ke pondok pesantren itu, Pak tua pun mengetahuinya. Pak tua sampai meneteskan air matanya, saat mendengar caci dan maki mengiringi langkah Royco berjalan sambil membopong kambing yang telah mati itu ke pondok pesantren.


Penolakan secara kasar dari salah satu santriwan itu pun, Pak tua juga menyaksikannya dari kejahuan. Dalam hati, Pak tua merasa bangga akan kesabaran Royco terhadap penghinaan jijik dari orang orang.


"Yasudah, kamu kuburkan langsung kambing itu."


"Roy, tunggu apalagi. Ayo cepat kamu kuburkan kambing itu. Kalau sudah selesai, segera temui saya, karena ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan mu." ucap Pak tua yang berlalu pergi menuju bale kayu.

__ADS_1


"Ba--baik, Pak tua." ucap Royco yang kemudian berlalu pergi mengambil cangkul. Dia bertanya tanya sendiri, kenapa pak Tua tidak marah sedikitpun kepadanya, yang terbilang sudah gagal mengurus ternak? Malah, pak tua itu terkesan biasa biasa saja.


Namun, karena tidak mau pusing. Royco pun mengabaikan pertanyaan batinnya. Royco segera melakukan tugasnya untuk mengubur kambingnya.


Selesai itu Royco pun langsung menemui Pak tua, yang terlihat sudah menunggunya duduk di atas bale kayu itu.


"Pak." sapa Royco. Pak tua pun langsung menoleh.


"Duduklah Roy," bujuk Pak tua terlihat bergeser memberi tempat untuk Royco duduk.


Royco pun langsung menaruh bokongnya di atas bale kayu itu, tepat di samping Pak tua Royco pun duduk.


"Maafkan saya Pak tua, saya merasa tidak becus dalam mengurus kambing kambing milik Pak tua. Untuk itu saya sudah siap menerima hukuman yang akan Pak tua berikan kepada saya." ujar Royco terlihat pasrah di depan orang tua itu.


"Sudahlah, lupakan hal itu. Sekarang ambilah keris ini," ucap Pak tua seraya tangannya menyodorkan keris sakti itu di depan Royco.


Royco terdiam terpaku melihat Pak tua menyodorkan keris itu, dalam hatinya berkata "Kenapa Pak tua memberikan keris ini? bukankah selama ini saya gagal dalam menjalankan tugas darinya, tapi... kenapa? di tengah kegagalanku Pak tua memberikan keris itu?" batin Royco bingung.


"Maaf Pak tua, kenapa Anda memberikan keris ini kepada saya sekarang? bukankah saya telah gagal dalam menjalankan tugas?" tanya Royco terheran.


"Kebesaran hati yang kamu miliki, sudah mampu membuat saya ingin bisa menyerahkan keris ini padamu, karena sejatinya kamu lah pemilik dari keris ini." ucap Pak tua terlihat tulus dalam memberikan keris itu.


"Ta--tapi, Pak tua?" Royco dengan gugup.


"Sudah, terima saja keris ini jangan ragu lagi Roy. Dan kamu simpan baik baik keris ini, jangan sampai hilang lagi dari tangan kamu." ucap Pak tua.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar akhirnya Royco mengambil keris itu dari tangan Pak tua, perasaan harupun langsung menghampirinya saat dirinya kembali memiliki keris sakti yang sempat hilang dari tanganya.


__ADS_2