
Di pedesaan, sinar matahari pagi masih nampak malu malu memperlihatkan taringnya. Terdengar, suara burung bercuit cuit riang di antara pepohonan rindang desa itu, dan ayam jantan pun berkokok nyaring menggangu pendengaran Royco yang terbaring lemah di sebuah kamar kecil.
Uhuuk uhukk...
Royco terbatuk batuk lemah, semua tubuhnya terasa tidak bertenaga. Mata sayup itu pun terbuka perlahan.
"Di mana ini?" tanyanya dengan suara parau. Matanya pun mengerlya kesana kemari. Kamar asing sederhana yang dilihatnya.
"Kakiku."
Sejurus, Royco tersadar sepenuhnya kalau semalam dia terluka parah. Dia pun melirik ke luka bekas tembak itu yang sudah ditempeli ramuan yang enta apa itu.
" Sudah diobati kok." Pria tua yang menolong Royco, bersuara seraya berjalan ke kasur. Ia pun membawa sebuah ramuan untuk Royco.
"Minum lah, Dek. Ramuan obat ini akan membantu memulihkan tenaga mu yang hilang," ucap Pria tua. Dengan tangan itu memberikan gelas yang berisi ramuan obat.
Royco hanya diam terpaku, melihat pria tua itu tak sedikitpun mempunyai rasa jijik terhadapnya, yang sedang gatal gatal hingga mengeluarkan aroma bau amis nanah yang begitu menyengat.
"Kok diam? ambilah dan minum obat ini. Tenang saja, ini ramuan menyehatkan kok, kamu nggak usah takut takut." bujuk pria tua itu seraya terus menyodorkan gelas berisi obat.
Royco pun langsung mengambil gelas itu dari tangan pak tua, tak lama dia pun langsung menenggak habis ramuan obat itu.
Gluuk...
"Uh! pahit. Obat apaan ini? kok rasanya sungguh sangat aneh?" keluh Royco dengan suara pelan karena menahan mual.
"Namanya juga obat, ya jelas pahit lah. Kalau manis itu bukan obat namanya, melainkan gula. kamu ini ada ada saja." Pak tua itu terkekeh kecil.
" Oh iya, Dek. kamu kenapa bisa seperti ini? luka di kakimu sepertinya habis kena tembak yah?" tanya Pria tua penuh selidik.
Degg...
Sontak saja membuat Royco langsung terdiam saat mendapatkan pertanyaan dari pria tua itu, Dalam hatinya berkata, apa mungkin saya memberitahukan luka di kakiku yang terkena tembak saat mencoba kabur dari tahanan, kepada pak tua ini?
"Kok diam? kalau kamu nggak bisa menceritakannya pun tak apa. Yasudah, kamu beristirahatlah, jangan banyak bergerak dulu, tunggu sampai kesehatanmu benar benar pulih." ucap pria tua itu yang kemudian berlalu pergi.
"Pak tua." panggil Royco yang tiba tiba saja membuat langkahnya terhenti.
"Ada apa, perlu sesuatu?" tanya pak tua yang langsung menoleh.
"Makasih atas pertolongannya." ucap Royco.
__ADS_1
"Sama sama... sudah hanya itu saja? nggak ada hal lain lagi yang ingin kamu katakan?" tanya pria tua itu berharap Royco akan menceritakan soal luka di kakinya.
"Nggak ada." jawab Royco dengan suara paraunya.
"Yasudah kalau begitu, jika kamu membutuhkan apa apa lagi. Kamu tinggal panggil saya saja, saya ada di belakang rumah kok, ngasih makan hewan hewan ternak saya, kasihan mereka dari tadi sudah berteriak minta di kasih makan." ucap pak tua.
Royco terlihat mengangguk setuju disertai senyuman bangga, akan kebaikan pria tua itu yang sudah mau menolong serta merawatnya.
Pak tua itupun langsung pergi meninggalkan Royco, untuk mengurusi semua hewan ternaknya yang ada di halaman belakang rumahnya.
Royco sendiri memilih untuk beristirahat lagi.
...****...
Pagi berganti siang menjelang sore. Royco yang baru bangun dari tidurnya, memutuskan untuk keluar dari kamar dengan langkah tertatih tatih.
"Sudah bangun? sini duduk!" Pak tua itu langsung menyapa Royco yang berdiri di depan kamar, melambainya untuk duduk di sofa lusuh yang di makan waktu.
Royco menurut, melangkah pelan seraya mengerlya segala sudut rumah pak Tua yang sepi.
"Pak, sepi rumahnya?" tanya Royco mencairkan suasana yang masih canggung baginya karena merasa tidak enak hati.
"Ya, Bapak hanya tinggal seorang diri. Istri sudah dicintai oleh Gusti Allah, anak anak sudah pada berkeluarga dan tinggal di kota." Terang si Pak tua seraya tangannya sibuk membersihkan barang barang antiknya dengan lap kering.
"Santai saja. Dan ah...makan ini saja tak apa 'kan?" pak tua itu melirik satu piring singkong rebus.
"Ini juga alhamdulilah, Pak. Terima kasih dan maaf merepotkan." Royco yang lapar, menjawab antusias. Sejurus, meraih sepotong singkong rebus, lalu melahapnya.
Pak tua sendiri lebih sibuk menata barang antiknya di atas meja. Royco sedikit kepo dengan beberapa benda unik tersebut.
"Wah, Bapak pecinta barang antik?"
"Eum, sangat suka! baguskan?" sahutnya seraya terus melap benda itu yang sebenarnya tidak kotor.
"Bagus, Pak. Sangat unik----"
"Ah, iya saya masih punya satu barang unik lagi. Sebentar yah, saya mau mengambil barang itu. Mungkin kamu akan terkesima setelah melihatnya." ucap pria tua yang langsung bangun dan pergi mengambil benda itu.
Royco mengangguk seraya terus menyantap singkong rebus dengan lahapnya.
Tak lama, pria tua itupun datang dengan membawa keris sakti, yang baru saja semalam dia temukan secara tidak sengaja karena benda itu jatuh pas di bawah kakinya.
__ADS_1
"Inilah benda uniknya, bagus 'kan?" ujarnya ke Royco seraya memamerkannya di depan mata Royco.
Deg.
Uhuuuk...
Uhuuuk...
Sontak Royco dibuat terkejut setengah mati, sampai dia keselak oleh singkong yang dia makan.
Saat matanya melihat benda yang sedang di tunjukan oleh pria tua itu di hadapannya, benda yang kini sedang dicari carinya itu nampak ada jelas terlihat di depannya.
Dengan cepat pria tua itupun langsung menaruh kerisnya di meja, lalu pergi mengambil segelas air untuk Royco.
"Minumlah segelas air ini, semoga saja bisa membantumu, menurunkan singkong yang tersangkut pada tenggorokan mu." ucap Pria tua itu dengan tangan terus menyodorkan segelas air.
Tanpa ragu Royco dengan cepat langsung mengambil segelas air itu dari tangan pak tua, dan kemudian, dia pun langsung meminum air tersebut hingga habis.
Gluuk...
Glukk...
Gluuk...
"Pelan pelan Dek minumnya, jangan sampai kamu tersedak lagi." tuturnya memperingatkan Royco.
Ahhh...
"Legah, makasih pak tua." ucap Royco seraya melirik terus ke arah keris yang sangat mirip punya.
"Bagaimana, kamu sudah baikan?" tanya pak tua itu memastikan keadaan Royco.
"Sudah, Pak." singkat Royco menyahut.
Pak tua itupun duduk lagi dari kursinya, kembali sibuk dari barang antiknya.
Royco yang penasaran dengan keris itu, memberanikan diri untuk bertanya. "Pak, keris itu apakah milik Bapak?"
"Iya!" singkat sang Bapak tanpa melirik Royco yang melongoh.
" Apakah cuma sekedar mirip?" Batinya. Masih kepo, Royco bertanya lagi. "Nemu di mana pak? Ah, maaf. Maksudku beli di mana?" Royco meralat ucapannya yang kurang sopan-nemu.
__ADS_1
"Heheheh, Yang lebih tepatnya nemu. Sesuai pertanyaan pertama kamu." Jujur sang Bapak. Royco sudah melongo dengan jantung dag dig dug.
Fix, itu adalah milikku yang hilang. Alhamdulillah, terimakasih Tuhan, batin Royco. Masalah nya sekarang, Apakah Bapak ini mau memberikannya ke aku. Lanjutnya ragu karena sang Bapak amat penyuka barang antik.