
"Hey, tunggu! jangan ke situ..." teriak Royco seraya mengejar kambing kambingnya yang ingin masuk ke ladang singkong milik Pak petani.
"Haduhhh, mampuslah aku! kalau petani itu menciduk kambing kambing ku memakan daun singkong miliknya, bisa bisa salah satu kambing ku langsung digoroknya." kata Royco yang mengingat ancaman Pak petani tadi.
Dengan cepat Royco pun langsung menggiring kambing kambingnya keluar dari ladang itu, seraya mulutnya berseru... Hush... hush... hush!
Sebelum Pak petani tahu, kalau kambing kambingnya-lah yang memakan tanaman singkong miliknya, dengan cepat Royco pun langsung menggiring hewan ternak itu pulang menuju ke rumah.
Sampai rumah, Roy pun menjalankan tugas terakhirnya untuk hari ini, dengan sigap menggiring kambing itu masuk ke dalam kandangnya.
"Bagaimana hari pertamu mengurus kambingku?" tanya Pak tua dengan tiba tiba muncul di belakang Royco.
Sejenak Royco terkejut, namun sesegera mungkin dia menetralkan rasa kejut itu, dengan tersenyum ramah. Lalu menjawab, "Susah susah gampang, Pak." jujur Royco.
Setelahnya, Royco pun berajalan bersama dengan Pak tua itu menuju teras rumah, kemudian dia pun langsung menaruh bokongnya di bale kayu. Disusul, Pak tua itupun ikut duduk di dekat Royco.
"Pak, boleh saya bertanya?" ijin Royco membuka obrolannya dengan Pak tua .
"Boleh, kamu mau nanya apa?" tanya Pak tua seraya menoleh ke wajah Royco yang berkeringat.
"Mengenai bangunan yang ada di seberang sana, kira kira... Itu bangunan apa yah? dan kenapa bangunan itu paling tinggi sendiri diantara bangunan yang lainnya?" tanya Royco penasaran.
"Ohhh, Bangunan itu? itu bangunan tempat orang orang yang ingin mendalami ilmu agama. Banyak juga yang menyebut kalau bangunan itu adalah sebuah pondok pesantren." terang Pak tua seraya menuangkan segelas air minum untuk Royco. Kemudian memberikannya ke Royco.
__ADS_1
Royco meraih segelas air minum tersebut, dan berkata, "Terima kasih, Pak." serunya seraya tersenyum, lalu meneguknya sampai tandas karena memang tenggerokannya serasa pahit nan kering kekurangan dahaga setelah panas panasan dalam menggembala.
"Memangnya kenapa dengan pondok pesantren tersebut?" sambung Pak tua penasaran karena anak muda yang buruk rupa ini tetiba menanyakan bangunan itu.
"Tidak kenapa kenapa, Pak! Hanya saja saya suka mendengar suara orang yang sedang mengaji itu. Merdu, hingga membuat hati saya sejuk nan damai." terang Royco dengan mata tertuju ke langit, mengingat dirinya yang penuh dengan dosa dosa zina.
Pak tua itu tersenyum tipis seraya menatap wajah Royco lagi. "Kapan kapan saya akan membawamu ke sana, kalau kamu ingin belajar ilmu agama lebih dalam, itupun kalau kamu bersungguh sungguh mau berubah." seru pak Tua itu.
Lantas, membuat Royco tersenyum manis dengan mata berbinar menatap pak tua yang baik hati ini. " Mau, Pak! saya sangat ingin mengubah hidup saya yang penuh dengan dosa ini, menjadi pribadi yang baik, walaupun......" Royco terjeda. Tiba tiba wajahnya tertunduk inscure sendiri. "Tapi... Apakah saya pantas menginjakkan kaki saya ataupun bergaul bersama orang orang yang suci nan pintar agama seperti penghuni pondok tersebut?" tanyanya. Karena jujur, Royco sangat menganggap dirinya orang yang paling hina di dunia ini.
"Royco," seru pak Tua itu yang pertama kali memanggil pakai nama.
Royco menoleh dengan mata tidak berani menatap mata sang lawan bicara. "iya, Pak?"
Untuk sesaat Royco pun terdiam, seakan dirinya mencerna semua setiap kata, demi kata yang Pak tua itu terangkan.
"Hey, buruk rupa!" seru Pak petani. Sontak membuat Royco serta Pak tua itu terkejut. Lalu menoleh ke arah pak Tani yang masih di pelataran.
" Duuuuh.... Gawat! pasti pak Tani itu mau memarahiku karena kesalahannku yang toledor dalam mengembala kambing tadi," batin Royco kicep.
Dengan keadaan marah, Pak tani itu melangkah menghampiri Royco.
"Dasar buruk rupa! kau apakan tanaman singkong milik saya haaa?!" tanya marah Pak tani seraya menunjuk wajah Royco.
__ADS_1
"Tenang dulu Pak, semuanya bisa dibicarakan dengan baik baik. Tidak perlu harus dengan marah marah, memangnya kesalahan apa yang telah di lakukan olehnya? sehingga Bapak sangat marah sekali padanya." tanya Pak tua penasaran.
"Bapak tanyakan saja sendiri sama si buruk rupa ini, apa yang telah di lakukannya terhadap tanaman singkong milik saya? semua tanaman singkong milik saya habis di makan oleh kambing kambingnya." terang Pak tani dengan geram.
"Apa benar yang dikatakan oleh Bapak ini Roy?" tanya Pak tua yang ingin kejelasan dari Royco.
"Ma--maaf'kan saya Pak tua, kambing kambing itu luput dari pengawasan saya. Sehingga kambing itu masuk ke ladang dan merusak semua tanaman singkong milik Pak tani itu," terang Royco dengan menunduk.
Memdengar itu? Pak Tua itu menghela nafas sabarnya.
"Yasudah, begini saja Pak. Berapa kerugian yang harus saya bayar, untuk mengganti semua tanaman singkong milik Bapak yang rusak oleh kambing kambing yang sebenarnya adalah milik saya.?" tanya Pak tua yang tidak mau memperpanjang masalah.
"Separuh lahan telah dirusaknya oleh kambing itu. Jadi Anda hitung saja berapa kerugian saya." Seru Pak Tani yang bingung juga mau menghargai berapa.
"Hem, baiklah." Sahut Pak tua seraya mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Segini cukup." tanyanya. Lima ratus ribu ia layangkan ke hadapan Pak Tani tersebut.
"Cukup tidak cukup!" kata orang itu seraya menarik uang itu. Lalu, menatap Royco dengan mata tajamnya. Royco hanya menunduk tidak enak hati ke Pak tua yang kembali membantunya plus mengalami kerugian karenanya.
"Lain kali jangan lalai lagi!" kata Pak Tani itu mengingatkan. Ia pun pergi dari rumah itu.
"Maaf sekali lagi, Pak." lirih Royco dengan pandangan tertunduk malu nan tidak enak hati.
"Sudahlah, anggap saja musibah yang perlu dipelajari oleh mu....kalau manusia tidak boleh lalai dalam tugas, baik itu kerjaan sekecil upil pun, kita tidak boleh meremehkanya, apalagi kerjaan kewajiban, kudu patut ditunaikan." petua si Bapak penuh arti untuk Royco cerna.
__ADS_1