
Matahari cerah di langit biru pada jam 12 siang hari ini. Sang Surya memang sedang berjaya, tetapi di sebuah desa yang jauh dari permukiman penduduk, terlihat asri nan sejuk karena pohon pohon yang menjuntai sebagai penangkal radiasi panas alami sang surya.
Di desa itu, ada sebuah bangunan pondok pesantren yang berdiri kokoh, suara toa masjid nya terdengar mengumandangkan adzan yang amat merdu menggema di segala penjuru pondok itu, hingga suaranya menyentuh hati Markisa yang kini telah belajar mengaji bersama Ustadza.
"Iss, waktu dzuhur telah tiba, sebaiknya kita akhiri dulu belajar ngajinya untuk pergi ke masjid, dan menunaikan sholat dzuhur berjama'ah dengan para santri yang lainya." ucap Bu Ustadza.
"Baik, Bu Ustadza." jawab Markisa yang langsung menutup lembaran alquran nya kemudian menciumnya.
"Ustadza duluan yah, Iss," pamitnya yang langsung pergi meninggalkan Markisa sendirian.
"Iya Bu Ustadza." jawab Markisa dengan singkat.
Untuk sesaat Markisa langsung melamun, memikirkan pria yang menjadi tambatan hatinya. Sedang apakah pria itu? apakah pria itu sedang merindukannya? seperti halnya dirinya, atau mungkin pria itu tidak merindukannya dan malah melupakan dirinya begitu saja.
"Kak Roy, aku kangen. Aku ingin bertemu denganmu, kapan kak Roy datang untuk menemuiku?" batin Markisa yang tidak bisa melupakan nama itu dari benaknya.
Semenjak dipaksa untuk menimba ilmu agama oleh Ayahnya di desa terpencil ini, Markisa sudah berusaha sekuat dirinya untuk melupakan Royco. Tetapi, semakin dia menepis dan melupakan Royco, semakin pula rasa rindu menari nari di hati dan pikirannya mengubun dan membumbung tinggi ingin segera bertemu.
Tak ingin larut dari mimpi yang mustahil Royco ada di tempat terpencil ini, Markisa segera beranjak untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat islam.
Tidak dipungkirinya, kalau dia sudah berlumuran dosa besar yang pernah melakukan zina, dengan itu... demi membayar perbuatan maksiatnya, Markisa bersedia untuk menimba ilmu agama dengan hati bersungguh-sungguh. Dan atas dorongan kuat dari Ibu Nur Karisma, selaku wali kelasnya dan sekaligus jebolan dari pondok pesantren yang sekarang Markisa tempati.
Jodoh sudah ada yang ngatur. Hari ini, Markisa akan pasrah.... bilamana dia dan Royco dipertemukan kembali dan berjodoh maka alhamdullilah, tapi bila mana sebaliknya... maka apa boleh buat, pasrah saja. Tetapi, dalam doanya yang khusyu dia selalu menyematkan nama Royco di ujung asa sajadah nya, seperti saat ini yang kedua tangannya sedang menengadah ke atas meminta kepada tuhannya.
"Ya allah, ya tuhanku. Jika kak Roy adalah, jodoh yang kau pilih 'kan untuk ku, maka dekat'kan dia sedekat mungkin kepadaku. Dan jika kak Roy bukan jodoh yang kau pilih untuk ku, maka jauhkanlah dia dari kehidupan ku. Dan bantu hambamu ini untuk bisa melupakan dan menghapus ingatanku akan dirinya, ingatan akan pernah melakukan kesalahan dan dosa besar bersamanya. Dan ampunilah segala dosa-dosa besar kami itu," ucap Markisa dalam do'a nya terlihat khusyu, dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir dan membasahi pipi dengan isak tangisnya.
__ADS_1
Markisa begitu sangat menyesali perbuatannya yang pernah melakukan kesalahan itu bersama kekasih hatinya yaitu Royco. Meskipun Royco jauh darinya, namun doa terbaik selalu dikirimkan untuk Roy terkasihnya.
"Iss, kamu nggak apa-apa?" tanya Ustadza yang melihat Markisa menangis setelah berdoa.
"Saya nggak kenapa-kenapa kok Ustadza, saya cuma lagi teringat akan kesalahan besar yang pernah saya lakukan, hiks." jawab Markisa dengan terisak.
"Kesalahan besar apa, sehingga membuat mu menangis terisak-isak?" tanya Ustadza lagi.
Markisa sesaat langsung terdiam, memikirkan kesalahan besar yang pernah dilakukannya dengan Royco. Apa mungkin dirinya bisa menceritakan kesalahan besar itu kepada Bu Ustadza, sedangkan kesalahan besarnya itu termasuk aib nya sendiri. Aib yang seharusnya disimpan rapat-rapat, bukan menceritakan atau mengumbarnya ke orang lain termasuk Bu Ustadza.
"Maaf Bu Ustadza, kesalahan besar saya adalah aib yang harus saya simpan baik-baik. Jadi saya tidak bisa menceritakannya ke orang-orang, termasuk Bu Ustadza. Bukankah dalam islam, melarang kita untuk membuka aib kita sendiri? termasuk saudara sesama muslim kita," ucap Markisa dengan nada sopannya agar guru ngajinya tidaklah tersinggung.
"Kamu benar sekali Iss, islam adalah agama yang memuliakan derajat umat. Jadi sebagai seorang muslim, kita tidak diperkenankan untuk membuka aib sendiri. Termasuk aib saudara sesama muslim kita. Yasudah kalau begitu, Bu Ustadza pamit pergi yah," ucap Bu Ustadza yang membenarkan ucapan Markisa, dan pamit pergi.
"Baiklah," ucap Bu Ustadza yang langsung pergi keluar dari dalam Masjid.
Tak terasa, malam pun datang dengan cepat. Setelah seharian penuh Markisa terus belajar dan terus belajar mengenai ilmu agama di pondok pesantren itu. Kini tiba saatnya bagi Markisa untuk pergi tidur, melewati malam yang baginya teramat sangat sepi untuk di lewatinya.
Hoooooaem...
Markisa menguap dan langsung mencari posisi nyamannya, berharap bisa cepat terlelap agar bisa pergi ke alam mimpi.
Selang beberapa saat...
Dengan tiba-tiba saja datang seorang kakek-kakek, dengan pakaian yang serba putih menghampiri Markisa dalam mimpinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," salam sang Kakek kepada Markisa. Sontak membuatnya langsung terkejut mendengar salam dari Kakek itu.
"Waalaikumsalam, Kek." jawab Markisa dengan sopan, sambil menatap penuh ketakutan Kakek-kakek itu.
"Maaf Kek, Kakek ini siapa? dan Kakek mau apa?" tanya Markisa dengan sedikit ketakutan.
"Jangan takut Nak, Kakek tidak berniat jahat sama kamu. Kakek cuma mau minta tolong saja sama kamu," terang sang Kakek.
"Apa yang Kakek harapkan dari seorang wanita yang lemah ini? sehingga Kakek meminta tolong sama saya." ucap Markisa dengan bingung.
"Kakek mempunyai seorang Cucu buyut, dan sekarang dia sedang lupa diri. Bimbinglah dia ke jalan yang benar cucu Kakek itu. Sekarang hidupnya sedang tersesat, jadi Kakek harap kamu mau membantu Kakek yah." pinta sang Kakek.
"Cucu Kakek itu siapa? apa saya mengenalnya?" tanya Markisa penasaran.
"Kamu sangat mengenalnya Nak," jawab sang Kakek.
"Namanya siap Cucu Kakek itu, terus bagaimana caranya saya bisa menemukan Cucu Kakek itu?" tanya Markisa penuh selidik.
"Ambil benda ini Nak, benda ini kelak akan mempertemukan kamu dengan Cucu Kakek." terang sang Kakek.
Markisa pun langsung meraih benda itu dari tangan sang Kakek, kemudian melihatnya penuh teliti sambil membolak-balikan benda itu.
"Maaf Kek, kira-kira benda apa ini? dan kenapa benda ini yang nantinya akan mempertemukan saya dengan Cucu Kakek? saya sungguh tidak mengerti dengan semua ini Kek," ucap Markisa merasa bingung.
"Benda ini adalah tempat atau sarung dari sebuah keris sakti, keris sakti itu milik Kakek yang sengaja Kakek berikan kepada Cucu Kakek. Apabila keris itu menyatu dengan tempatnya, kelak kamu akan berjodoh dengan orang yang memegang keris itu. Dan Jika keris itu sudah menyatu, tolong secepatnya keris itu dikembalikan kepada Kakek lagi." terang sang Kakek dan langsung menghilang. Markisa pun terkejut dan seketika terbangun dari tidurnya. Belum sempat menetralkan rasa kejutnya, kini semakin terkesiap hebat karena benda yang diberikan oleh kakek itu dalam mimpinya, kini nyata dalam telapak tangannya.
__ADS_1