
Di sekolahan, tepatnya di sebuah parkiran motor untuk para siswa dan siswi. Terlihat Adi masih sibuk berebut kunci motor milikinya yang di ambil oleh Leci.
"Cepat, berikan kunci motor gue sekarang juga. Atau kalau engggak...?" ucap Adi dengan menggertak.
"Atau kalau enggak, kenapa? elo akan mengambil paksa kunci ini dari gue, haa?! silahkan saja kalau elo berani. Nih kuncinya ada di dalam sini," ucap Leci dengan sengaja membusungkan bongkahan dadanya.
Glukk...
Adi langsung menelan salivanya, untuk sesaat dirinya langsung terdiam, dengan mata itu menatap penuh napsu bongkahan dada Leci yang terlihat masih padat.
Setan bertanduk pun serasa berbisik di telinganya...sikat, bro!
Apakah iya? kemampuan keris milik OB sialan itu bisa membuat Leci mendesaaah di bawa tubuh gue dengan kata pasrah? batin Adi.
Dia masih meragukan keampuhan keris tersebut. Sebagai pembuktian lebih lanjut, dia ingin memperdaya Leci sebagai pelampiasan hasratnya. Tidak ada Markisa maka gadis di hadapannya pun jadi.
"Oke! gue mau maafin lo, asalkan ikut gue sekarang juga."
Dengan patuh, Leci bak terhipnotis oleh Adi yang saat ini menarik tangannya ke arah toilet pria.
"Di, kalau lo mau pipis jangan bawa bawa gue dong! lo kagak malu apa?" polos Leci yang belum tau maksud Adi membawanya keruagan teritori khusus laki laki itu.
Adi tidak merespon pertanyaan polos Leci. Dia hanya sibuk memeriksa sudut toilet sekolahan itu. Serasa kosong tanpa ada siswa lain di dalamnya yang notabennya sudah jam pelajaran, dia pun bergegas menutup pintu toilet itu rapat-rapat tanpa cela yang akan mengintip aksinya bersama Leci.
"Kok di kunci? Lo mau ngapain gue, Di?" tanya Leci polos.
"Sudah, jangan banyak tanya lagi. Lo mau 'kan dapat maaf dari gue?" tanya Adi.
"Iya, Di." Jawab Leci singkat.
"Kalau begitu, turuti keinginan gue." ucap Adi dengan langsung mendekatkan bibirnya itu ke bibir Leci.
Degg...
__ADS_1
Jantung Leci langsung berdetak amat kencang, wajahnya pun sampai terlihat memucat dan butiran keringat dingin pun mulai membasahi penuh keningnya. Melihat Adi dengan perlahan-lahan mulai mencoba untuk mencium bibirnya.
Eits! Leci dengan tetiba langsung mengelak, merasa belum siap untuk memberikan bibirnya kepada Adi.
"Di, gue mohon. Jangan lakukan itu sama gue, gue belum siap untuk melakukan hal itu. Sebagai seorang siswa, kita belum pantas untuk berbuat seperti itu." tolak Leci halus.
"Ayo, lah Ci. Katanya lo mau maaf dari gue?" ucap Adi dengan napsu yang sudah di ubun-ubun.
"Iya Di, tapi ... haruskah dengan melakukan hal itu?" tanya Leci.
Harus Ci, kenapa tidak ? kesalahan yang lo lakuin itu sangat besar. Bahkan dengan memberikan bibir lo ke gue, rasanya belum cukup untuk bisa menebusnya. batin Adi.
"Halahhh, jangan banyak tingkah lo, Ci." Adi bak orang yang sedang kesetanan. Dia langsung mendorong bahu Leci hingga punggung gadis itu tersudut antara tembok dan tubuh Adi yang mengunci nya hingga tidak bisa mengelak lagi.
"Jangan, Di. Lepaskan gue!" pinta Leci dengan nada rendah penuh permohonan.
Adi tidak menghiraukannya, dia terus memajukan wajahnya ke bibir Leci.
Dengan penuh kekuatan, Leci mengelak dengan cara mendorong dada Adi. Namun, kekuatannya tidak sebanding.
Dan seketika itu juga Adi langsung merema* dengan lembut bongkahan dada milik Leci, sehingga membuat Leci langsung menggeliat dan sedikit merintih.
Ahhhhhh...
Leci yang sudah tersentuh titik rangsaaangannya, kini sudah mulai terlihat pasrah saat bibir Adi terus-terusan memaggutnya. Bahkan Leci pun tak segan-segan membalas pagutan dari Adi, sampai terlihat lidah mereka saling membelit.
Sambil terus mencium bibir Leci, tangan Adi mulai melepaskan kancing seragam milik Leci satu demi satu, hingga terlepas semua kancing itu dari seragamnya.
Sudah terlepas semua kancing seragam itu, Adi pun langsung melepaskan baju seragam Leci dan membiarkannya terjatuh begitu saja menyentuh lantai.
Nampak kulit mulus dan putih bersih dengan dua buah bukit kembar yang masih padat, sedang bergelantungan dengan indah di dada Leci, meskipun bukit kembar itu masih terbungkus kain bra.
Dan dengan rakusnya tangan nakal Adi langsung mengeluarkan bongkahan dada milik Leci dari kain Bra yang menutupinya. Mata Adi di buat melotot saat melihat keindahan bukit kembar milik Leci, dengan boba yang terlihat masih kecil di ujungnya menunjukan kalau bukit itu belum pernah dijamah sekalipun.
__ADS_1
Tak mau membuang waktunya hanya untuk menatapnya saja, Adi dengan sangat rakusnya langsung mengendus dan menyesap bukit kembar milik Leci.
Chupps...chupps...chupps
Terlihat Adi begitu sangat lahapnya menikmati bongkahan itu, hingga membuat Leci merintih dan semakin larut dibuatnya.
Ahhhhhhhh...
Saking larutnya sampai terlihat tangan lembut Leci pun semakin mendekap erat kepala Adi dengan menjambak manja rambutnya.
Merasa tak nyaman dengan kain Bra itu, tangan Adi pun langsung melepaskan dan menjatuhkan kain itu dari tubuh mulus Leci.
Kini keindahan dari dua buah bukit kembar milik Leci terlihat sangat sempurna, setelah tak ada sehelai pun benang yang menghalanginya.
Melihat keindahan yang sangat sempurna itu, Adi kembali mengendus dan menyesap bukit itu dengan sangat rakusnya.
Ahhhhhhh...
Adi sesekali mengambil nafas kemudian, kembali menenggelamkan wajahnya untuk mengendus, dan menyesap bukit kembar milik Leci hingga membuat Leci seperti menyusui seorang bayi besar.
"Yahhhhh eummm ahhhh,"
Leci dengan terus menjambak manja rambut Adi, dan mendekap nya semakin erat hingga menempel ke dadanya.
Sambil terus menyesap dan membuat tato merah di bukit kembar Leci, tangan nakal Adi mulai menelusup masuk ke dalam rok seragam milik Leci.
Namun dengan tetiba tangan Leci langsung menepisnya, seakan tangan Adi tidak di perbolehkan masuk untuk menyentuh area liang kenikmatannya.
"Jangan Di," ucap Leci dengan tangan itu menepis tangan Adi yang mencoba menelusup masuk untuk menyentuh liang sumurnya.
Ditempat lain, tepatnya di sebuah kontrakan. Nampak Royco terlihat sedang sibuk, bahkan sampai kebingungan dalam mencari-cari keberadaan keris pusaka miliknya.
Barang barang miliknya sudah diacak acak hingga bak kapal pecah, tapi pencariannya nihil.
__ADS_1
"Astaga! hilang kemana yah keris itu? di kontrakan pun kagak menemukannya. perasaan gue sih kagak pernah lupa untuk selalu membawanya pergi kemanapun. Apa jangan-jangan keris itu jatuh di sekolahan yah? ahhh, dari pada gue di buat penasaran. Sebaiknya gue pergi ke sekolahan untuk mencarinya, semoga saja gue menemukan keris itu di sana, kalau kagak. Entah lah musibah apa yang akan menanti gue?" batin Royco yang langsung berlalu pergi menuju ke sekolahan.
...****...