HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
TAMAT


__ADS_3

Masih di ambang pintu, Royco terus mendengarkan semua percakapan percakapan Markisa dan keluarganya di dalam sana.


Bukan dia lancang untuk menguping, Royco hanya tidak mau menggangu Markisa dan keluarganya yang baru berkumpul dan mengetahui kebenaran kronologi hidup satu keluarga itu.


Royco hanya menyesali perbuatan zinanya bersama Madu.


"Nak, sebelum Ayah pergi ke tempat yang jauh. Ayah ingin sekali bertemu dengan Royco. Ayah sudah berdosa besar terhadapnya karena pernah memfitnah dia. Tolong carikan dia, Markisa..." Pinta sang Ayah dengan suara itu semakin terdengar lemah.


"Royco? Apakah Royco sama yang dimaksud oleh mantan suamiku?" batin Madu.


Sedang Markisa segera berbalik kebelakang, dia baru sadar kalau Royco tidakĀ  mengikutinya sampai ke ruangan ini.


"Sebentar, Ayah." ujar Markisa. Lalu melangkah keluar.


Adi dan Madu hanya memperhatikan Markisa yang entah mau apa bergegas keluar.


"Sini, Kak. Ayah ku ingin menyampaikan sesuatu," kata Markisa pada Royco setelah berada di luar ruangan. Tanpa menunggu jawaban Royco, Markisa segera saja menarik tangan Royco untuk masuk.


Madu dan Adi terkejut melihat keberadaan Royco.


"Kok...?" Madu menunjuk Royco. Ada hubungan apa Markisa sama pria yang pernah menjadi penghangat ranjangnya itu? Apa jangan-jangan...? batinnya menebak kalau wanita yang dicintai Royco waktu itu adalah Markisa-anaknya sendiri.


Sedang Ayah Markisa bernafas lega melihat adanya Royco sekarang ini.


"Kak Roy ada di sini, Ayah. Dia yang menemaniku kemari. Kami tidak sengaja bertemu di pondok yang sama," terang Markisa.


Royco hanya diam seraya menatap beliau di bed itu.


"Royco, tolong maafkan segala kesalahan ku__"


"Saya sudah lama memaafkan Anda, Pak," ujar Royco memotong ucapan beliau yanng terbata bata.


"Terimakasih, Nak. Tapi, saya akan pergi dengan tenang kalau kamu dan Markisa bersatu. Tolong sayangi anak saya. Cintai dia segenap jiwamu."


Beliau meraih tangan Markisa dan melambai kecil Royco, pertanda meminta tangan Royco.


Royco yang mengerti kode tersebut, segera menurut. Tangan Markisa dan tangannya pun sudah menyatu, atas tuntunan Ayah Markisa.


Madu dan Adi sedikit tidak setuju melihat itu, namun tak bisa protes apapun.


"Apa kamu setuju menjaga anak saya, Royco?"

__ADS_1


"Iya, Pak! Segenap jiwa dan hidup saya hanya akan menjadi milik Markisa. Sungguh, saya sangat mencintai anak Anda." Royco menjawab cepat dengan suara mantapnya. Inilah yang diinginkan Royco, bersatu dengan cintanya.


Ayah Markisa pun tersenyum dalam detik detik mata terpejam itu. Nafasnya sudah habis, meninggal seketika dalam hati damai dan tenang.


"Innalillahiwainnailahi roji'un." seru Royco yang menyadari kepergian itu.


"Ayah....! hiks, hiks..." pekik Markisa sudah menangis pilu. Adi pun bersedih akan kematian sang Ayah yang baru diketahuinya.


"Selamat jalan, Mas. Semoga kamu damai di sana," ujar Madu mendoakan.


Royco sendiri sibuk menenangkan Markisa yang terlihat tidak rela akan kepergian sang Ayah.


"Sudah dek, kuatkan-lah hatimu. Ikhlaskan kepergiannya, biarkan dia pergi dengan tenang."


"Hiks... hiks... hiks... Ayahhh jangan pergi Yah. Dokter... dokter, hiks... hiks..." Markisa menangis pilu seraya memeluk jasad sang Ayah.


Tak lama Dokter beserta suster pun datang, setelah mendengar teriakan histeris dari mulut Markisa.


"Ayo Sus, kita pastikan kondisi terakhir dari pasien. Apakah pasien masih bernafas atau tidak?"


"Baik Dokter..."


Dengan cepat, sang dokter pun langsung mengambil alat pengejut jantung.


Deg...


Deg...


Deg...


Tutt...


"Maaf Bu, saya sudah berusaha dengan semaksimal mungkin, namun takdir berkata lain. Pasien telah meninggal dunia." terang Dokter kepada Madu.


"Hiks... Mas, kenapa kamu pergi secepat itu? hiks..." tangis Madu, saat sang Dokter memovonis kematian mantan suaminya.


"Suster urus jenazahnya, agar pihak keluarga dengan cepat bisa langsung mengurusi pemakamannya.


Singkat cerita...


Di sebuah area pemakaman umum, yang tak jauh dari kediaman tempat tinggal keluarga Markisa.

__ADS_1


Nampak jenazah dari Ayah Markisa telah selesai dikuburkan, orang-orang yang mengantar pun sudah mulai berangsur angsur pergi meninggalkan tempat itu.


Terlihat Adi, Madu serta Markisa, masih terus menangis di pusaran makam sang Ayah. Markisa merasa tidak percaya Ayahnya akan pergi secepat itu. Royco pun ada di sisi Marisa dengan setia menguatkan.


"Ayahmu lebih disayangi oleh Allah Dek, jadi relakan dia untuk pergi yah." terang Royco.


Tak di sangka tak di duga, dari arah belakang muncul seorang gadis serta Ayahnya. Didampingi pula oleh beberapa orang yang mengenakan seragam polisi.


Ya.... gadis itu adalah Leci dan juga Ayahnya, yang datang untuk melayad, sekaligus menangkap orang yang menjadi pelaku hilangannya kegadisan Leci di sebuah toilet sekolah.


"Pak polisi, tangkap pria jahat itu!" seru Papanya Leci, yang terlihat geram amat marah sekali.


Sontak saja membuat Royco dan juga Markisa serta Madu tak lupa Adi, begitu sangat terkejut dibuatnya.


Lebih terkejut lagi yaitu Royco, dirinya mengira polisi akan menangkapnya kembali.


Pasrah... itu kata yang sempat terucap saat polisi itu melangkah pergi menghampiri pemakaman itu.


"Ayo ikut, kamu harus mempertanggung jawabakan perbuatan mu itu dengan masuk ke sel tahanan." ucap Pak Polisi seraya langsung memborgol kedua tangan Adi.


"Loh... apa salah saya Pak? kenapa anda tiba-tiba menangkap saya? lepaskan saya Pak, anda salah menangkap orang." Adi yang mencoba mengelak.


"Pak kenapa Anda menangkap anak saya? anak saya punya salah apa Pak?" tanya Madu merasa bingung dengan penangkapan Adi yang tiba-tiba itu.


"Anak ibu, telah melakukan tindakan pemerkosaan terhadap gadis yang bernama Leci." terang Pak Polisi.


"Bagaimana mungkin bisa Pak? anak saya orang baik-baik, nggak mungkin melakukan perbuatan buruk itu." terang Madu mencoba membela Adi.


"Maaf Tante, Adi telah melakukan tindakan pemerkosaan terhadap saya. Untuk itu saya mau Adi dihukum atas perbuatannya itu." Ucap Leci yang sangat ingin sekali Adi di hukum.


Jelas Leci menaruh dendam ke Adi, gara gara pemerkosaan itu, dia hampir kehilangan nyawa serta hampir depresi berat.


Mendengar pengakuan Leci, Markisa serta Royco menjadi kaget. Dalam hati Royco tidak menyangka, ternyata Adi lah yang melakukan pemerkosaan di toilet itu.


"Astagfirullah! ternyata Adi orang yang melakukan perbuatan di toilet itu? saya tidak menyangka, kenapa dia sampai berani melakukan itu?" batin Royco.


"Mah, tolong Adi Mah. Adi nggak mau hidup dalam penjara Mah..." Rengek Adi yang dengan tiba tiba saja membuat mata Madu langsung berkaca kaca.


"Nak, hiks... jangan pergi tinggalin Mamah Nak." tangis Madu seketika tumpah.


Tak butuh lama, pak polisi itu pun membawa Adi dengan sedikit pemaksaan karena pemuda itu selalu meronta tak mau ikut secara baik baik.

__ADS_1


Cerita pun End.


__ADS_2