HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 59


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Amien segera menunjuk tempat tidur yang akan dipakai oleh Royco selama tinggal di pondok itu.


"Yang itu, punya kamu. Ini punyaku dan kasur pojok sana milik santri lain," terang Amien seraya menunjuk nunjuk datar bed ukuran kecil cukup satu orang itu.


"Terima kasih," seru Royco yang kemudian pergi menghampiri bed miliknya.


Tanpa ragu Royco pun langsung menaruh bokongnya di atas bed yang akan menjadi tempat tidurnya.


"Empuk juga yah tempat tidur ini," ucap Royco menunjukan kekagumannya pada bed yang didudukinya.


"Jelas empuk dong Roy, ini'kan pondok pesantren yang paling terkenal hingga ke penjuru kota," terang Amien yang kemudian berjalan pergi menghampiri Royco seraya ikut menaruh bokongnya tepat di samping Royco.


Tindakan Amien itu membuat Royco langsung terheran karena Amien, yang tanpa merasa jijik dengannya tiba tiba saja duduk di dekatnya.


"Min, kamu nggak merasa jijik dengan keadaan tubuh ku yang penuh luka ini?" tanya Royco terheran.


"Eum, jujur. Awal saya baru melihat mu terasa jijik, tapi... " ucap Amien yang terjedah.


"Tapi...apa, Min?" tanya Royco dengan penasaran.


"Tapi... setelah Pak Kyai menceramahiku, saat berkata tentang wajah burukmu itu. Aku menjadi sadar, bahwa kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan, tidak boleh saling mengejek atau merendahkan satu sama lainnya. Wajah cantik dan juga tampan yang ada di diri kita ini, semuanya itu pemberian dari Tuhan yang patut kita syukuri." Terang Amien panjang lebar.

__ADS_1


"Benar kata kamu itu, Min. Tapi... sifat orang itu berbeda beda, ada yang baik ada juga yang buruk. Bahkan, ada orang juga yang berpura pura baik di depan kita, tapi di belakangnya malah punya maksud tidak baik. Hati orang susah di tebak. Hari ini saya bisa bertemu dengan orang yang baik, besok laginya mungkin bisa ketemu dengan orang yang jahat." ujar Royco dalam pengalaman hidupnya, yang sudah pernah merasakan baik buruknya sifat orang yang ada di luar sana.


"Eum ternyata, kamu pandai berceramah juga yah Roy? kayaknya nanti kamu akan menjadi penceramah kondang deh," tebak Amien dengan nada bercanda. Royco tersenyum lucu.


"Apa... penceramah kondang? itu terlalu dini, Min. Saya baru saja masuk ke pondok ini. Belum mendapatkan apa apa yang bisa saya bagi ke orang orang." ucap Royco dengan menepis angan angan menjadi penceramah.


"Hey, nasib orang siapa yang tahu Roy. Bisa saja hal itu terjadi sama kamu, sebab kamu mempunyai bakat akan hal itu. Apa lagi dengan kondisi kamu yang seperti ini, tentunya ada banyak pengalaman pahit dalam hidup mu yang bisa kamu bagi ke orang orang," ujar Amien sok tahu.


Saat mereka berdua lagi asik mengobrol, tetiba pintu kamar itu terbuka dan tak lama santriwan yang satu kamar dengan mereka pun melangkah masuk.


Syarif, itulah namanya. Terlihat menatap penuh sinis, saat melihat Royco yang buruk rupa itu berada dalam kamarnya. Rasa tidak suka pun datang dengan tiba tiba muncul menghampiri Syarif.


Entah kesalahan apa yang di lakukan oleh Royco, sehingga membuat Syarif dengan sekejap saja begitu sangat membenci Royco.


"Rif, saya mohon. Kamu jangan menghina kondisi fisik Royco, dia seperti ini karena mendapat kutukan. Wajah aslinya sih nggak begini Rif," terang Amien yang tidak ingin Syarif berkata hal buruk terhadap Royco.


"Halaaa! mau dia dikutuk atau enggak! Yang namanya buruk rupa, tetap saja akan buruk rupa Min. Lagian, kamu nggak merasa jijik apa, sama pria buruk rupa itu? kalau saya sih ogah dekat dekat sama dia. Dari kejauhan saja baunya sudah sangat menyengat apalagi dari dekat. Mungkin perut saya akan langsung terasa di obok obok kali sama bau busuk yang berasal dari tubuh si buruk rupa itu." terang Syarif yang merasa tidak suka dengan Royco.


"Enggak, saya nggak merasa jijik sama sekali. Bahkan yang kata kamu bau busuk itu, mana? sedikitpun saya tidak mencium bau itu. Mungkin itu hidung mu saja kali yang rusak, sehingga bau yang kamu cium dari luar sana sampai terbawa kesini." ujar Amien yang seakan membela Royco.


Sontak membuat Syarif menjadi begitu sangat marah sekali, rahangnya seketika itu juga langsung mengeras dan kedua tangannya terlihat mengepal dengan kuat, menahan kemarahan yang sudah sampai ke ubun ubun saat mendengar ucapan Amien yang seakan mengejeknya.

__ADS_1


"Keterlaluan kau Min! berani kamu menghina saya ha?! sini kamu Min, akan saya robek robek mulut mu yang lancang itu." Cerca Syarif dengan kemarahannya.


"Sekarang kamu tersinggung dengan ucapan ku yang biasa itu, Rif? bagaimana dengan hati dan perasaan Royco, Rif? akan ucapan buruk yang mencuat dari mulut kasar mu. Mungkin, perasaan Royco sama dengan perasaan yang sedang kamu alami Rif, berhubung Royco sabar dia nggak marah seperti kamu," terang Amien dengan nada baik baik, berharap temanya tidak marah lagi.


Tidak bisa menahan lagi kemarahan yang sudah sampai ke ubun ubun, tanpa pikir panjang lagi, kalau Amien itu temanya. Syarief pun langsung mengangkat tangannya yang seolah olah ingin memukul Amien.


"Kurang ajar kamu Min!" seru Syarif dengan tangan yang masih melayang ke udara, namun masih ragu melayangkan kepalan tinjunya ke Amien.


"Stop... stop! Sudah cukup! Jangan di teruskan lagi. Gara gara saya, kalian sampai mau berantem. Coba kalian pikir saja, dengan berantem kalian dapat apa, ha?! apa kalian mendapatkan sabuk emas kah? atau mendapatkan penghargaan lainya? yang ada kalian akan rugi, menang jadi arang kalah jadi abu. Nggak ada yang diuntungkan jika sampai kalian berantem!" ujar Royco yang berdiri di antara dua orang teman satu kamarnya.


"Biarkan saja Roy, biarkan Syarif memukul saya. Jangan mencoba untuk melerainya Roy, biar Syarif merasa puas dengan itu." ucap Amien pasrah.


"Kamu mau memukul saya Rif? ayo pukul saya sekarang juga, biar kamu merasa puas!" sambung Amien yang seakan memancing kemarahan Syarif.


Braak...


Tetiba pintu kamar itu terbuka, sontak membuat mereka langsung tertegun dengan kedatangan seorang Pak Ustad.


"Ada apa ini? apa yang sedang kalian ributkan, eum? hingga suara gaduh kalian terdengar sampai keluar?" tanya Pak Ustad yang sudah berdiri di dekat Amien. Laki laki yang mengunakan baju koko berwarna putih, menatap tanya nan tegas pada tiga pria yang tertuduk takut tidak mau menatapnya.


"Astagfirullah. Kenapa tidak ada yang berani menjawab pertanyaan sederhana saya, eum?"

__ADS_1


Tetap saja, Pak Ustad itu hanya menggeleng geleng akan kebisuan tiga orang itu.


__ADS_2