
Untuk sesaat Royco kembali merebahkan badannya ke bed, menahan agar dirinya tak cepat sampai puncak. Demi bisa membuat Madu puas, dia terus menahan genjotan demi genjotan yang dilakukan Madu.
Madu layaknya seperti sekor kuda betina yang sangat liar, dia terus berpacu dalam mencari puncak kepuasan yang selama ini didambakannya dari seorang Royco.
Tak perduli meskipun hati Royco bukan untuknya yang terpenting baginya, dia bisa mendapatkan kepuasan batin yang selama ini tidak pernah dia dapatkan lagi.
"Gila nih cewek, sebegitu haus 'kah dirinya akan sentuhan batin ini? sehingga terlihat begitu sangat liar permainannya, apakah aku bisa memberikannya kepuasan? sementara pisang ambon ku, sudah merasakan denyut-denyut mau memuntahkan laharnya." batin Royco was-was.
"Ahhhh uhhh ahhhhh," rintih Madu seraya meremas bukit kembarnya sendiri, bergoyang mengatur ritme hentakannya dengan menggigit ujung lidahnya.
"Uuuhh!" lenguh Madu dengan memelankan goyangannya, seraya mencium boba kecil Milik Royco dan sesekali meraba lembutnya.
"Mas, enak Mas." ucap Madu dengan lirih seraya memutar-mutarkan panggulnya pelan, mencari titik puncaknya dan menatap nakal Royco.
Royco hanya terdiam, tak mampu berkata apa-apa lagi. Pikirannya disibukan dengan rasa kekhawatirannya terhadap pisang ambon miliknya, yang sudah menunjukan adanya tanda-tanda mau memuntahkan lahar hangatnya.
Akan sangat berbahaya jika Royco sampai memuntahkan lahar hangatnya dalam posisi Madu masih ada diatasnya, tentunya akan sangat sulit untuk dirinya mencabut dan mengeluarkan pisang ambonnya.
Merasa takut, takut akan dirinya tidak bisa menahannya, sehingga memuntahkan lahar hangatnya dalam rahim Madu. Yang tentunya hal yang tidak diinginkannya mungkin saja bisa terjadi.
"Ahhh, shiiit lah. Aku nggak bisa seperti ini, aku nggak mau kalau sampai hal itu terjadi." batin Royco.
"Eits," Madu tetiba terkejut saat Royco mendorong dirinya jatuh menyentuh bed, Royco terlihat melangkah turun dari bed. Tak lama Royco dengan agresifnya langsung memegang kedua kaki Madu dan menariknya ke tepi bed.
Dan dengan tangan itu Royco melebarkan jenjang kaki Madu, setelah itu Royco pun langsung menuntun masuk pisang ambonnya ke dalam liang nikmat kepunyaan Madu.
Royco perlahan mulai mendorong bokongnya dan slebb ahhhh, pisang ambonnya dengan mudahnya menerobos masuk untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Madu terlihat sedikit menggeliat merasakan sensasi yang sangat luar biasa, yang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata. Biarlah mereka saja yang sudah berpengalaman mungkin tau rasanya seperti apa.
"Haist!" Royco dengan cepat mengentakkan panggulnya Maju mundur, layaknya seorang joki kuda yang sedang berpacu.
"Yahhh Mas, iya terus Mas...enak Mas," Madu dengan rintihannya, merasa sudah ada di jalurnya mendekati titik puncaknya.
"Hiiyahhhhh," Royco yang semakin menambah kecepatan laju pacunya, sembari merema* kedua bukit kembar Madu.
"Ihhhh ihhhh ahhhh emmm," rintih Madu yang semakin keras, mengisi penuh sudut kamarnya.
Royco terus menghentak dengan cepat, membuat Madu menggeliat kesana kemari mencengkeram kuat sprei sebagai tahannya.
"Ihhhh ihhhh iya Mas, terus Mas. Yesss nooo yesss Mas, arghhh arrghh arrgh." seketika itu juga peredaran darah Madu mengalir deras, begitu sangat lancar sehingga syaraf-syaraf yang tadinya tegang. kini menjadi renggang terasa lemas karena Madu mendapatkan kepuasan yang diinginkannya.
"Mas, aku sudah sampai. Makasih, sudah membuatku merasakan kembali surga dunia yang begitu nikmat ini." ucap Madu dengan terputus putus, karena Royco masih menghentakkan panggulnya.
"Iya, sama-sama. Sebentar lagi aku juga mau sampai nih, kamu yang kuat yah, karena aku akan lebih kencang lagi menghentakmu." ucap Royco dengan tersengal-sengal.
"Nggak bisa, aku nggak mau mengambil resiko yang sangat besar. Karena aku sangat mencintai gadis itu, maafkan aku kali ini aku nggak bisa mengabulkan permintaan mu." ucap Royco yang terus bergoyang seraya memegang jenjang kakinya Madu.
"Ku mohon Mas, kali ini saja. Muntahkan lahar itu kedalam rahimku, aku janji nggak akan menuntutmu jika nanti benihmu sampai jadi." rengek Madu, yang tidak menerima begitu saja penolakan Royco.
"Apa kata-katamu bisa di percaya?" tanya Royco yang masih bergoyang, menghentakkan panggulnya maju mundur.
"Percaya saja sama aku Mas, aku nggak pernah sekalipun mengingkari kata-kata yang telah aku ucapkan." ucap Madu mencoba menyakinkan.
"Baiklah kalau kamu terus memaksa, apa boleh buat sekarang kamu bersiaplah, sebentar lagi aku mau sampai. Dan aku akan memuntahkan laharnya di dalam sana, sesuai dengan apa yang kamu inginkan." ucap Royco setuju yang belum berhenti bergoyang.
__ADS_1
Kali ini Royco akan menuruti permintaan dari Madu, yang memintanya untuk memuntahkan laharnya di dalam. Karena Madu sudah berjanji tidak akan menuntutnya jika sampai nanti Madu hamil karenanya.
Terlihat Royco semakin bersemangat, karena terlihat dari banyaknya keringat yang merembes keluar melalui pori-pori kulitnya, Pada saat semakin cepat menghentakkan panggulnya.
"Ahhhh ahhhh, sayang aku mau sampai. Bersiaplah merasakan semburan lahar ku," ucap Royco terlihat semakin cepat bergoyang.
"Iya Mas, sembur 'kan saja di dalam. Aku sudah tidak sabar menantikannya.
"Ahhhh uhhhh ahhhh," rintih Royco dalam mengiringi hentakannya untuk menuju puncaknya.
"Iyaahhh yahhhh ahhhh ahhhhh, arrghh arrggh arrgh." Royco terlihat mengejang, dan dengan kuat menekan panggulnya untuk menyemburkan laharnya di dalam sana.
Sementara tangan Madu terlihat menarik dengan kuat panggulnya Royco untuk menekan tindihannya.
Semburan air laknat itu, amat terasa deras yang dirasakan Madu di dalam rahimnya. Hangat hangat gimana gitu. Sungguh sangat sulit untuk di jabarkannya, tentunya rasa itu sudah sangat hapal benar bagi orang yang sudah merasakannya.
"Makasih Mas, karena hari ini Mas telah membuatku puas, Mas sudah memberikan apa yang aku butuhkan dalam mengisi kekosongan batin dari seorang janda." bisik Madu.
"Saya harap, kamu nggak akan mengingkari kata-katamu soal benih yang saya tanam di rahimu." Royco memastikan.
"Tenang saja Mas, Mas nggak usah khawatir soal itu dan Mas nggak perlu merasa takut." untuk kedua kali Madu menyakinkan Royco.
Tak lama Royco pun langsung mencabut pisang ambonnya dari liang nikmatnya Madu, terlihat langsung mengalir keluar, lahar putih dari dalamnya, seakan rahim itu tidak bisa menampungnya lagi.
Gubrak...
Royco langsung menjatuhkan tubuh polosnya, di samping tubuh polosnya Madu. begitu juga dengan Madu, dia langsung memiringkan tubuhnya dan langsung memeluk Royco dengan menyilangkan kakinya.
__ADS_1
Untuk sesaat mereka berdua saling terdiam satu sama lainnya, memikirkan masalahnya masing-masing. Terlihat Madu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos dirinya dan juga Royco.
Sebelum akhirnya mereka berdua tidur terlelap, karena merasa capek setelah saling serang dalam menggapai kepuasan masing-masing.