HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 36


__ADS_3

Pagi hari itu, pagi dimana Royco baru terbangun dari tidur panjangnya, setelah siang kemaren sampai larut malam. Dia menghabiskan waktunya untuk bercumbu mersa dengan Madu.


Sehingga mengharuskannya untuk tidur dan menginap di rumah Madu, untuk memberikan kehangatan serta kepuasan kepada janda muda yang haus akan belaian itu.


Hooaaaam.


Royco menguap seraya merentangkan kedua tangannya keatas, dan terlihat duduk di atas bed.


Sesaat Royco masih terdiam dengan duduk di atas bed, mencoba mengumpulkan kembali kesadaran yang telah hilang sehabis tidur. Tersadar Royco pun mencoba beranjak dari tempat tidur itu, namun dirinya malah dibuat kaget setelah tak sengaja, melihat dirinya sendiri terpampang di cermin dengan dada yang banyak di tempeli tato merah buatan Madu.


"Apa gue kagak salah lihat? sebanyak ini Madu ngebuat tato di tubuh gue? gila tuh cewek, sungguh sangat liar sekali." gumam Royco seraya mengusap-ngusap matanya, tidak percaya dengan apa yang telah di lakukan oleh Madu.


"Eh, Mas. Kamu sudah bangun?" tanya Madu yang baru keluar dari kamar Mandi, terlihat sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kenapa kamu membiarkan saya tidur dan menginap di rumahmu? kenapa kamu tidak membangunkan saya semalam?" tanya Royco dengan bertubi-tubi saat melihat Madu.


"Aku sengaja tidak membangunkan mu Mas," jawab Madu simple, sambil langsung menaruh bokongnya di samping Royco.


"Maksud kamu sengaja?" tanya Royco yang belum mengerti.


"Yahh, sengaja saja. Habis aku lihat, Mas itu tidurnya pulas sekali sih. Bahkan mulutnya Mas sampai terbuka loh, mau membangunkan Mas. Aku jadi nggak tega, kasihan aku ngeliahatnya." terang Madu dengan alasannya.


"Yasudah, berikan handukmu. Saya mau langsung pergi mandi, habis itu. Kamu anterin saya pulang." pinta Royco dengan wajah kecewa, karena tidak di bangunkan Madu semalam.


"Nih Mas, oh iya Mas. Sehabis mandi, Mas mau langsung sarapan atau mau di buatkan kopi saja?" tanya Madu penuh perhatian sambil memberikan handuknya.


"Buatkan saya kopi saja," jawab Royco dengan singkat dan langsung berlalu pergi menuju kamar mandi.


Sementara Royco pergi untuk mandi, madu langsung merias dirinya sendiri. Selesai itu, baru Madu langsung turun dari kamarnya untuk menemui ARTnya.


"Bibi...Bibi!"


Sampainya di bawa Madu berteriak memanggil ARTnya.

__ADS_1


Dengan tergopoh-gopoh sang ART datang dari arah dapur untuk menemui majikannya.


"Iyah, Nya," sahut sang ART takzim. Sejenak menatap majikannya dengan tersenyum-tersenyum sendiri, karena melihat sang majikan yang baru turun dari kamarnya semenjak siang kemarin.


"Kenapa Bibi melihat saya tersenyum-tersenyum sendiri? apa ada yang aneh pada diri saya?" tanya Madu.


"Iya Nya, saya melihat wajah Nyonya lebih ceria dari biasanya. Dan pagi hari ini, Nyonya terlihat sangat bahagia sekali." puji ART terhadap Madu.


"Masa sih Bi?" tanya Madu yang terbuai akan pujian itu.


"Iya Nya, saya nggak bohong kok." Sejenak sang ART terdiam dengan membatin, Jelas senang lah, orang dari semenjak siang kemarin Nyonya'kan ah uh ah sama brondong ganteng itu.


"Bibi bisa saja memuji saya, oh iya Bi. Adi mana yah? apakah dia sudah berangkat ke sekolah?" tanya Madu.


"Iya Nya, Bibi lihat sih. Tuan Muda pagi-pagi sekali berangkat ke sekolahnya, tumben-tumbennya loh, Nya. Tuan Muda berangkat sepagi itu." terang sang ART nya.


"Masa sih Bi? kemaren Bibi melihat Adi masuk ke kamar saya nggak?" tanya Madu penuh selidik.


"Aduh," keluh sang ART bingung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iy--iya, Nya. Saya lihat kemaren Tuan Muda naik ke atas, terus dia langsung turun lagi," ucap ART dengan gugup.


"Aduh Bibi, saya 'kan sudah bilang. Jangan biarkan Adi naik ke atas, Bibi bagaimana sih?" ucap Madu terlihat marah ke ART nya.


"Maaf, Nya. Bibi sudah mencoba untuk melarangnya. Tapi Tuan Muda tidak mau mendengarkannya," ucap ART merasa lalai.


"Yasudah, sekarang Bibi langsung pergi ke dapur dan buatkan segelas kopi." pinta Madu dengan mimik wajah kesal.


"Baik, Nya." jawab Bibi yang langsung melangkah pergi menuju dapur.


Di lantai atas tepatnya di kamarnya Madu, Royco terlihat sudah selesai mandi. Dan dia pun langsung memakai kembali pakaiannya itu, Namun disaat Royco akan memakai kemejanya itu.


Dirinya langsung di buat terkejut saat mendapati keris, yang di simpannya dalam kantong kemejanya itu, sudah tak ada lagi di dalamnya.

__ADS_1


"Waduh! dimana keris gue yah? perasaan, kemarin gue nyimpannya dalam kantong kemeja ini, kok sekarang nggak ada yah?" gumam Royco dengan membolak balikan kemejanya. Dan tak lupa saku celananya ia raba-raba berharap bisa menemukannya.


Tak menemukan keris itu dalam pakaiannya, Royco pun langsung mencari ke setiap sudut kamarnya Madu. Namun nihil baginya, karena keris tidak bisa di temukannya.


"Astaga! jangan sampai keris itu hilang dari tangan saya, nanti bisa terkena masalah. Bantu saya untuk menemukan keris itu ya Tuhan," racaunya, seraya terus mencari-cari keberadaan keris itu ke setiap sudut kamar itu.


Perasaan kalut kini sedang menghampiri diri Royco, karena sampai detik itu juga dirinya tak bisa menemukan keris sakti pemberian Kakek Buyutnya.


Royco merasa takut, kalau sampai dia tidak bisa menemukan kerisnya. Sang kakek Buyutnya akan marah, dan bisa saja sang Kakek Buyutnya langsung memberikannya dia hukuman.


Sebab dirinya tidak bisa menjaga amanat yang telah diberika oleh sang Kakek Buyut kepadanya.


"Mas," panggil Madu tetiba datang yang langsung mengejutkan Royco.


"Ihhhh kamu, bikin kaget saya saja." ucap Royco dengan kaget.


"Kamu lagi mencari-cari apa sih Mas? kok kamu sampai terlihat pucat?" tanya Madu penasaran.


"Saya lagi mencari benda yang hilang dari kantong kemeja saya, kamu melihat benda itu nggak?" tanya Royco berharap Madu tau.


"Benda apa yah Mas?" tanya Madu tidak mengerti tentang benda yang dimaksud.


"Ke---!" tetiba Royco terputus, dalam hatinya tidak mungkin mengatakan nama benda itu kepada Madu.


"Nggak jadi." ucap Royco.


"Ayo dong Mas, katakan saja. Apa benda yang sedang kamu cari itu? siapa tau aku bisa membantu mencarikan benda itu." bujuk Madu.


"Sudahlah, mungkin benda itu jatuh di tempat lain." ucap Royco dengan mata itu masih mencari ke sekeliling kamar itu.


"Yasudah, sebaiknya kita turun yuk Mas. Soalnya kopi yang Mas pinta sudah aku siapkan, takut keburu dingin nantinya." bujuk Madu.


"Ya tuhan, semoga saja keris itu ketinggalan di kontrakan. Bukan hilang di rumah Madu," batin Royco yang berharap keris itu tak hilang.

__ADS_1


Sejenak, Royco berhenti di tengah pintu dan berbalik lagi untuk meyakinkan dirinya kalau keris itu tidak jatuh di kamar Madu.


__ADS_2