HASRAT TERLARANG SEORANG OB

HASRAT TERLARANG SEORANG OB
Bab 57


__ADS_3

Cuit cuit suara burung di pagi hari terdengar merdu yang nangkring di ranting pohon dekat rumah kecil yang di tempati Royco bersama Pak Tua.


Kukkuruyuk....


Suara ayam jago pun tak mau kalah berbunyi, untuk menyambut pagi yang masih berembun.


Lantas, kedua hewan bersayap tetapi berbeda jenis itu, mengusik tidur Royco. Pria yang dulunya berparas tampan, tetapi sekarang sudah buruk rupa karena kutukan, saat ini pun masih terlihat duduk di tengah tempat tidurnya.


Untuk mengumpulkan kembali kesadaran yang belum sepenuhnya sadar.


Hoaaaaaaaam...


Royco langsung menguap seraya merentangkan kedua tangannya, tak lama dia pun menyeret tubuhnya turun dari atas tempat tidur itu dan melangkah keluar dari kamarnya.


"Eh, Pak tua. Anda sudah bangun?" tanya Royco seraya mengucek ngucek matanya.


"Roy, kamu duduklah." pinta Pak tua.


Royco pun langsung turut duduk sesuai apa yang diminta oleh Pak tua.


" Roy, mulai hari ini kamu nggak perlu menggembala kambing lagi yah." pinta Pak tua.


"Loh... memangnya kenapa, Pak? tanya Royco tidak mengerti.


"Dulu saya pernah berjanji sama kamu akan membawamu pergi ke pondok pesantren itu, kini tiba waktu itu. Karena hari ini, saya akan mengantar sekaligus memasukan kamu ke pondok pesantren itu. Bagaimana, apakah kamu mau?" tanya Pak tua.


Degg...


Seketika itu juga Royco langsung terdiam, dalam hatinya ingin menangis pada saat melihat kebaikan hati yang di tunjukan Pak tua terhadap dirinya.


"Anda ini siapa sih, Pak? manusia kah? atau malaikat? Anda begitu sangat baik terhadap diri saya. Padahal'kan, saya ini cuma orang lain. Bukan anggota keluarga Anda." ucap Royco dengan mulut gemetar di sertai mata berkaca kaca terus menahan keinginannya untuk menangis.

__ADS_1


"Dengar yah Roy, Berbuat baik itu tak mesti anggota keluarga sendiri. Berbuat baik itu jangan pilih pilih, mau itu orang lain kah? atau saudara kah? selagi kita bisa membantunya kenapa tidak? lagian saya ini'kan sudah tua, tak lama lagi pasti saya akan pergi meninggalkan dunia yang hanya sementara ini. Kelak, kebaikan itu untuk bekal pahala saya di akhirat nanti." terang Pak tua.


"Pak tua, bolehkah saya memelukmu sekarang?" ijin Royco yang ingin sekali bisa memeluk tubuh pria tua yang sangat baik itu.


"Peluk lah Roy, mungkin ini terakhir kali kamu memeluk saya."ucap Pak tua yang mengijinkan.


"Ku mohon Pak tua, jangan berbicara seperti itu karena ucapan itu adalah doa. Tak baik berbicara seperti itu." ucap Royco.


"Loh kenapa Roy? bukankah kita sebagai manusia itu pasti akan meninggalkan dunia ini? jika sang pencipta sudah menghendakinya apa boleh buat. Karena itu sudah menjadi kehendak sang pencipta, dan itu sudah menjadi rumus dunia yang harus kita terima meskipun banyak manusia yang mengingkari hal itu." terang Pak tua.


"Iya, cuman..." Royco pun menjedah.


"Cuman apa Roy? sudahlah lupakan hal itu lebih baik, sekarang kamu pergi mandi, agar nanti kita bisa cepat pergi ke pondok pesantren itu." ucap Pak tua yang sudah tak mau lagi memperpanjang obrolan.


Royco pun terbangun dari duduknya, tak lama dia refkek memeluk tubuh Pak tua itu, sebelum akhirnya dia pun pergi untuk mandi.


Dalam hati, sebenarnya pak tua itu merasakan kesedihan, karena akan kehilangan Royco yang sudah menemani hari hari sepinya. Namun mengingat kalau Royco akan menempuh pembelajaran agama mendalam di pondok tersebut, ia pun merelakannya.


Beberapa menit pun berlalu, kini Royco sudah siap dengan pakaian rapih yang sebelumnya diberikan oleh pak Tua baik hati itu.


"Siap untuk berangkat?" tanya pak tua.


"Sangat!" Antusias Royco menjawab cepat.


"Kalau begitu, go... kita berangkat sekarang menuju ke pondok itu." seru Pak tua terlihat bersemangat tak ingin kalah dari Royco.


Dengan di dampingi oleh Pak tua, akhirnya Royco pun melangkah pergi menuju ke pondok pesantren. Sepanjang perjalanan itu, Pak tua tak henti hentinya terus memperhatikan wajah Royco yang buruk rupa itu.


Tetiba Pak tua langsung dikejutkan oleh, wajah Royco yang sesekali berubah menjadi laki laki yang sangat tampan sekali bak seorang bidadara yang turun dari kayangan.


"Astaga, sebenarnya siapa pemuda ini? sesosok manusia kah? atau seorang bidadara? apa mungkin yang saya lihat tadi itu, wajah asli dari sesosok orang yang buruk rupa ini?" batin Pak tua yang langsung bertanya tanya akan wajah Royco. Wajahnya pun seketika menegang.

__ADS_1


"Pak tua, kenapa wajah Anda bisa setegang itu? apa Anda sedang melihat setan? sehingga wajah Anda bisa sampai sepucat itu?" tanya Royco penasaran.


"Ti--tidak Roy, saya tidak sedang melihat setan. Saya melihat ada yang aneh pada wajah mu." terang Pak tua terlihat gugup.


"Sudahlah Pak tua, Anda jangan bercanda. Memang dari tadi wajah saya sudah sangat aneh karena buruk rupa." ucap Royco yang mengira Pak tua lagi sedang bercanda.


"Tidak Roy, saya tidak sedang bercanda. Saya sangat serius. Mungkin tak lama lagi wajahmu akan sembuh, dan yang saya lihat, wajahmu itu menjadi sangat tampan sekali bak seorang bidadara, Roy." terang Pak tua mencoba meyakinkan.


"Masa sih Pak tua? jika memang benar saya akan sembuh dari penyakit kutukan ini, saya berjanji sama Anda, saya akan memberikan apapun itu yang di inginkan oleh Anda." ucap Royco berjanji.


"Benar...apapun itu Roy?" tanya Pak tua memastikan.


"Benar Pak tua, apapun yang anda inginkan saya akan mengabulkannya. Itu jika memang benar saya tak lama lagi sembuh dari kutukan ini." ucap Royco antusias.


"Baiklah Roy, saya akan selalu mengingat janji yang kau ucapakan ini." ucap Pak tua seakan akan memegang janji Royco.


Sekian menit lamanya Pak tua dan Royco berjalan menuju pondok, mereka pun tiba juga di pelataran pondok itu.


Tek... tek... tek. "Assalamualaikum..." santun Pak tua memberi salam seraya mengetuk besi gembok ke pagar.


"Waalaikumsalam..." jawab salah satu santriwan yang langsung pergi menghampiri mereka.


"Maaf, ada keperluan apa yah? barang kali saya bisa membantu?" tanya sopan dari santriwan yang masih berdiri di dalam pintu gerbang.


"Ijinkan kami masuk, karena kami ingin bertemu dengan Pak kiyai yang mempunyai pondok ini. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada beliau." ucap Pak tua menjelaskan panjang lebar.


Kreekkek...


"Masuklah, akan saya antar untuk menemui beliau. Mari..." ucap santriwan dengan sopan. Namun matanya terkejut dikala baru sadar ada sosok buruk rupa tepat di belakang si Bapak. Tidak mau menyinggung persaan orang, sang santri itupun diam saja.


Dan, Pak tua serta Royco pun langsung melangkah masuk, untuk mengikuti santriwan yang menuntunnya pergi, menemui Pak kiyai pemilik dari pondok pesantren.

__ADS_1


Tok... tok... tok. "Assalamualikum..." salam santri seraya mengetuk pintu ruangan Pak kiyai.


__ADS_2