
Bernando terbangun dari tidurnya. Ketika suara jam Beker berbunyi tepat di atas nakas dekat tempat tidur yang ia tempati. Itu pertanda waktunya Bernando harus bangun dari tidurnya. Bernando bergeliat lalu berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia menatap langit-langit yang ada di kamarnya, berharap hari baik akan menghampirinya hari ini.
Bernando bangkit dari tempat tidur, langsung menuju kamar mandi ingin membersihkan diri. Tiba-tiba ia teringat dengan sosok Amor yang menangis saat dirinya memberitahu kenyataan yang sebenarnya mengenai kematian ibu dan ayahnya.
Ia merasa bersalah memberitahu kepada Amor saat Dirinya belum berhasil meraih apa yang seharusnya didapatkan oleh Amor, yang sekarang dikuasai oleh Nyonya Yuan dan juga Soraya. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain, selain memberitahu apa yang ia lakukan di luar, agar Amor memaafkan dirinya.
Cepat-cepat Bernando menyelesaikan ritual mandinya. Lalu ia keluar dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Pintu terbuka lebar, membuat salah satu asisten rumah tangga di sana masuk untuk memanggil Tuan Bernando.
Saat asisten rumah tangga itu masuk, ia langsung berlari keluar sementara Bernando tidak sempat untuk melihatnya. "Kenapa kau berlari? tanya Amor penuh selidik. Lebih baik kamu saja Amor yang memanggil Tuan muda Bernando." ujar Nyonya Risma kepala asisten rumah tangga yang bekerja di sana.
Amor dengan mata sebabnya naik ke atas untuk menghampiri Bernando sesuai dengan permintaan Nyonya Alena. Karena nyonya Alena tidak ingin putranya terlambat masuk kantor hari ini. Amor yang melihat pintu terbuka lebar pun masuk saja, tanpa mengutuk pintu terlebih dahulu.
"Kamu kalau lagi seperti ini, tutup pintu rapat." gerutu Amor. "Eh Sayang, ada apa? tanya Bernando merasa tidak bersalah.
"Pantas saja Bibi tadi berlari keluar, karena melihatmu berpenampilan seperti ini. Kalau kamu sedang ingin mengganti pakaian atau mandi, lebih baik pintu kamarmu Kamu tutup dengan rapat."
Apa kamu tidak malu Ibu Risma melihatmu berpenampilan seperti ini?
"Memangnya kenapa? aku tidak telanjang kan masih menggunakan handuk juga." jawab Bernando dengan santai membuat Amor menatapnya dengan tatapan tajam.
Amor menggelengkan kepalanya menatap Bernando dengan tatapan penuh arti.
Kalau hanya aku yang melihat tidak apa-apa. karena kamu juga sudah pernah melakukannya kepadaku, walaupun itu karena kamu paksa dan kamu dalam keadaan mabuk. Tapi kalau orang lain yang melihat, apa kamu sedikitpun tidak merasa malu? apalagi yang melihatmu wanita paruh baya." ucap Amor sambil menggelengkan kepalanya.
Bernando langsung meraih tubuh Amor ke pelukannya. Jangan marah-marah sayang, nanti kamu cepat tua. Lagian aku tidak melihat kalau Bibi Risma datang ke sini tadi." ucapnya sambil menakup wajah cantik Amor dengan Kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Kau masih menangis? matamu terlihat sembab. Aku tidak suka melihat kau menangis dan aku tidak akan mampu melihat air matamu mengalir di wajah cantik ini.Kau tidak perlu menangis. Serahkan semua masalah ini kepadaku. Aku akan menyelesaikannya, percaya padaku.
"Bukan Aku tidak percaya, kau dapat menyelesaikan masalah ini dengan caramu sendiri. Tetapi yang tidak aku bisa terima mereka membunuh kedua orang tuaku secara tragis. Bahkan pihak kepolisian juga tidak mengusutnya sama sekali.
Mereka cukup pintar untuk mengelabui pihak kepolisian dan juga masyarakat. Dengan melakukan pemberitaan kalau kecelakaan mami itu merupakan murni kecelakaan. Aku tidak bisa terima ini. Mereka harus mendapat hukuman sesuai apa yang mereka lakukan.
Mereka sudah membunuh kedua orang tuaku. Apa salah kedua orang tuaku sehingga mereka tega melakukan itu."
"Sudah saya katakan, kedua orang tuamu tidak ada salah. Tetapi yang salah Nyonya Yuan, yang ingin merebut harta kekayaan kedua orang tuamu.
"Tapi aku punya rencana yang dapat menjebak mereka sendiri. Kamu tenang saja, tidak perlu khawatir. Biarkan aku dan Qori yang memikirkannya. Ada anak buahku yang siap Aku perintahkan untuk melakukan apapun.
Tuan Gani juga tidak bersedia membantu mereka. Karena Tuan Gani, menjunjung tinggi kepercayaan yang diberikan oleh Tuan Daniel dan nyonya Ellen kedua orang tua kamu. Aku yakin dan percaya, Tuan Gani tidak akan serakah.
Amor menganggukkan kepalanya ."Terima kasih atas apa yang sudah kau lakukan kepadaku. Aku yakin kasus ini akan segera terungkap.
Segeralah pakai pakaianmu, Mami sudah menunggu di bawah kita sarapan pagi." ujar Amor sambil berniat meninggalkan Bernando. Tetapi saat Amor melangkahkan kakinya berniat keluar, tangan Bernando menarik tangan Amor hingga Amor terjatuh ke pelukan Bernando.
"Kau jangan seperti ini, ini sudah jam berapa, nanti kamu telat ke kantor. kalau ingin memperpanjang ini, jangan sekarang.Mami sudah menunggu di bawah." ujar Amor sambil berusaha bangkit dari pelukan Bernando.
Bernando mengembangkan senyumnya, menatap Amor dengan tatapan penuh cinta."Kau mengatakan seperti itu, itu artinya setelah aku pulang dari kantor nanti, kau harus siap-siap.
"Siap-siap apa?
"Pokoknya kau harus siap-siap, jika aku sudah pulang dari kantor.
__ADS_1
"Terserah kamu deh, dasar mesum." gerutu Amor sambil langsung berlalu meninggalkan Bernando di sana. Sementara Bernando
senyum sumringah melihat wajah Amor yang sudah merah merona, bak kepiting rebus.
"Aneh bin ajaib, wanita sederhana tapi mampu memporak-porandakan hatiku." gumam Bernando sambil langsung memakai pakaian kantornya. Ia menatap penampilannya di depan cermin. Setelah ia merasa sudah terlihat rapi dan elegan ia melangkah keluar. Berniat menghampiri Nyonya Alena dan Amor yang sudah menunggunya di ruang makan.
"Maaf membuat kalian menunggu ."
"Maaf.... maaf..., kamu kirain mami ini istri kamu, yang selalu bisa setia menunggu kamu sarapan pagi. Ini sudah jam berapa baru kamu turun , sarapan juga butuh waktu. Kalau kau tidak memberikan contoh yang baik di kantor, Bagaimana dengan karyawanmu nanti." gerutu Nyonya Alena membuat Amor tertawa cengengesan.
"Iya deh, maaf sudah membuat kalian menunggu." ucapnya sambil menarik piring yang sudah berada di hadapannya.
Drama sarapan pagi pun telah usai, kini Bernando berniat untuk pergi ke kantor.
Sementara Amar yang sudah berpenampilan rapi, dan terlihat cantik ikut bersama Bernando. Sebagai asisten pribadi Bernardo Amor meraih tas yang yang dipegang oleh Bernando. " kau tidak hanya asisten pribadiku sayang, kau Nyonya Bernando jadi tidak perlu membawakan tasku. Biarkan aku saja yang melakukannya." ucap Bernando sambil meraih tubuh Amor kepelukannya dan memberikan kecupan hangat di kening Amor.
Ehemmm....
Nyonya Alena berdehem. "Mami ada di sini, kalau ingin bermesra-mesraan jangan di hadapan mami. Papi kamu sudah tidak ada tempat mami bermesraan, jadi enyah dari hadapan Mami, jika kau ingin bermesraan dengan calon istrimu." gerutu Nyonya Alena dibalas tawa dari Bernando.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
__ADS_1