
Bernando tidak dapat membantah apa yang menjadi keputusan Nyonya Alena. Padahal dia juga mengkhawatirkan kondisi Nyonya Alena saat ini. Di usia Nyonya Alena yang sudah mulai senja, seharusnya dia harus istirahat. Bukan malah berniat menangani kantor dan meminta Bernando untuk istirahat sebelum hari pernikahan mereka berlangsung.
Padahal Bernando tidak ingin membebani Nyonya Alena dengan urusan kantor yang ia Pimpin selama ini. Tetapi Nyonya Alena selalu ngotot.
"Kalau Mami yang menangani kantor tidak menutup kemungkinan kondisi kesehatan manik akan drof Bernando tidak ingin Mami sakit." ucap Fernando berharap Nyonya Alena memahami kekhawatirannya terhadap Nyonya Alena.
Tetapi Nyonya Alena terus bersikeras untuk tetap dalam pendiriannya. Membuat Bernando menggelengkan kepala, sembari melirik ke arah Amor. Seolah-olah dirinya meminta persetujuan dari Amor.
Sementara di tempat lain, terlihat Alex berniat untuk menghampiri Qori di apartemen miliknya. Ia sangat merindukan wanita yang sangat dia cintai itu. Wanita yang mampu memuaskan dirinya di ranjang. Walaupun mereka belum memiliki ikatan pernikahan sama sekali.
Tok...
Tok ...
Tok ...
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Qori. Ia mengira Kalau Tuan Mark atau nyonya Lara yang datang menghampiri dirinya malam itu. Dengan terpaksa, Qori bangkit dari tempat duduknya. lalu ia membuka pintu apartemen miliknya. Ia terhenyak, Alex yang datang menghampiri dirinya. Padahal sudah pukul 08.00 malam.
"Kau ngapain malam-malam datang ke sini? bukankah kau mengatakan kalau kau akan ada acara malam ini dengan klien mu?
"Iya, awalnya aku mengira kami jadi meeting malam ini. Tetapi kliennya menunda pertemuan kami." ucap Alex kepada Qori yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.
Saat Qori sudah mempersilahkan Alex masuk ke dalam apartemen miliknya. Ia pun mempersilahkan Alex duduk di sana.
"Kamu kenapa?
"Ada apa, mengapa kamu sulit dihubungi? tanya Alex kepada Qori. Karna sebelumnya Alex sudah berusaha menghubungi Qori terlebih dahulu. Sebelum dirinya datang ke apartemen milik Qori
Saat itu juga Qori menjawab pertanyaan Alex. "Maaf ponsel aku, ku silent. Jadi aku tidak mendengar kau menghubungiku.
" Ada apa kau datang ke sini tiba-tiba seperti ini?"
"Aku datang, karena aku sangat merindukanmu. Apa kau sama sekali tidak merindukanku sayang?" tanya Alex kepada Qori sambil meraih tubuh Qori kepelukannya memberikan kecupan hangat di kening dan bibir Qori.
Jangan lebay deh, kalau kamu kangen saku kenapa tidak langsung datang?
"Ini kan aku sudah datang."
__ADS_1
"Iya, tapi pakai drama bertemu client dulu. sebenarnya tidak ada kan pertemuan itu?
"Kok kamu malah mengatakan seperti itu sayang?
"Entah peeling aja sepertinya kamu lagi menyembunyikan sesuatu dariku."
"Sesuatu Apa maksudmu sayang? aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa darimu. Kau tidak percaya kepadaku. Kalau kau tidak percaya, kamu boleh bertanya langsung kepada karyawan karyawati yang bekerja di showroom. Aku kemana saja hari ini apakah aku keluar atau tidak.
Satu harian ini, aku tidak pergi kemana-mana. Aku selalu berada di showroom, dan makan siang di restoran yang lokasinya tidak jauh dari seorang. Jadi tolong jangan menuduhku yang macam-macam." ucap Alex berharap Qori percaya kepadanya.
"Sudah daripada pikiran kamu macam-macam seperti itu lebih baik kamu cek nanti jika kamu tidak percaya." ucap Alex meraih tubuh Qori kepelukannya. lalu Alex memberikan kecupan hangat di bibir ranum Qori. Qori merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Ketika dirinya mendapatkan serangan mendadak dari Alex. ia benar-benar tidak mampu berkata-kata, selain dirinya merespon kecupan yang diberikan oleh Alex kepadanya.
Perlahan Alex kembali mengecup wajah cantik Qori. Hingga turun ke jenjang leher Qori membuat Qori merasakan getaran yang cukup hebat di tubuhnya.
"Sudah ah, ini apartemenku. Nanti takutnya Ayah dan Mami datang ke sini."
"lebih baik kita clubbing daripada kita di sini saja. bosan tahu." ucap Alex kepada Qori dibalas senyuman dari Qori
"Okey siapa takut gue jabanin." sahut Qori sambil beranjak dari tempat duduknya, masuk ke dalam kamar mempersiapkan diri. Agar mereka segera pergi ke sebuah klub malam, yang mana Qori Dan Alex sudah biasa mencari hiburan di sebuah klub malam.
"Kau memang benar-benar bisa menggoda aku. Sudah tidak tahan lagi ingin segera melahap kamu.
"ups.... jangan dulu, aku ingin pergi ke sebuah klub malam, hanya untuk menghibur diri. Sekalian berjoget bareng sama kamu" ucap Qori Sambil tertawa cengengesan sambil keluar dari apartemen miliknya diikuti Alex dari belakang.
Keduanya berlalu dari apartemen milik Qori menuju sebuah klub malam, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari apartemen milik Qori.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit, akhirnya mereka tiba di parkiran sebuah klub malam ternama di kota Manila.
Terlihat Qori Dan Alex menikmati dentuman musik. Tak lupa Qori Dan Alex juga menikmati minuman yang dapat membuat pikiran mereka rileks seolah tidak memiliki masalah sama sekali.
Sementara di tempat lain Amor dan Bernardo menatap Nyonya Alena dengan tatapan penuh arti. Nyonya Alena over protektif terhadap keduanya, karena pesta pernikahan Amor dan Bernando tinggal tiga hari lagi. "Kalian tidak perlu membantah, apa yang menjadi keputusan Mami. lebih baik kalian menurut, daripada harus membantah." ucap Nyonya Alena meminta Amor dan Bernando menuruti kata-katanya.
"Iya deh, kalau sudah itu keputusan mami, Bernando tidak bisa berbuat apa-apa." ucap Bernando sambil bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Nyonya Alena dan Amor di sana.
" Kau mau ke mana?
"ke markas!
__ADS_1
"Markas?
"Maksud kamu apa?
"Aku ingin bertemu dengan anak buahku sekarang Soraya ada di sana.
"Aku ikut." mohon Amor menginginkan dirinya diijinkan Bernando ikut melihat Soraya di sana.
"Untuk apa?
"Supaya kamu luluh dan kamu melepaskannya lagi? Tuduh Bernando
"Tidak, aku ingin melihat raut wajahnya yang ingin mengeluarkan aku dari rumah kedua orang tuaku. "Apa kau tahu, dulu Nyonya Yuan dan Soraya mengusirku dengan alasan aku hamil diluar nikah. Padahal kamu tahu sendiri bukan, bagaimana yang sebenarnya? ucap Amor mengingat dirinya diusir dari rumah kedua orang tuanya di saat kota Manila diterpa hujan badai dan petir menggetarkan kota Manila malam itu. Malam itu, Amor harus keluar dari rumah yang seharusnya ia tempat.
"Apa kamu serius ingin ikut?
"Iya, aku serius. Aku ingin sekali memberikan pelajaran kepada Soraya. Aku ingin dia merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan saat dirinya mengusir aku dari rumah kedua orang tuaku." wanita itu memang pantas mendapatkan pelajaran, agar dia tidak semena-mena terhadap orang lain.
Tidak menutup kemungkinan, Soraya akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Jika dirinya menginginkan sesuatu.
Ya kejadian yang menimpa Qori, juga akibat ulahnya. Karena Alex lebih memilih Qori dibandingkan dirinya. Seharusnya dia sadar Mengapa Alex tidak memilihnya, dan lebih memilih Qori.
Tapi itu sama sekali tidak dilakukan. Dia tidak intropeksi diri sendiri. Justru ia ingin membunuh Qori. Ini Salah satu tindakan kriminal yang tidak bisa diampuni.
Bernando dan Amor akhirnya berlalu dari rumah utama keluarga Bernardo. Tentunya setelah berpamitan kepada Nyonya Alena Sejujurnya Nyonya Alena merasa berat melepaskan keduanya, karena ia khawatir akan keselamatan keduanya. Apalagi seperti yang mereka katakan sebelumnya, Kalau Nyonya Yuan pasti Bernando ingin menghancurkan mereka.
Tapi seketika Nyonya Alena teringat dengan kemampuan putranya. Kalau putranya pasti bisa melindungi dirinya sendiri dan juga Amor. Saat di dalam perjalanan, Amor terus bertanya kepada Bernando Mengapa dirinya mengetahui segala apa yang terjadi kepada dirinya. Dan juga Mengapa Bernardo berniat untuk membantu dirinya.
Tapi lagi lagi Bernando menjawab hal yang sama seperti apa yang ia jawab dari hari hari sebelumnya.
Bersambung.....
hai hai redears dukung terus karya author agar outhor lebih semangat untuk berkarya trimakasih 🙏💓🙏
JANGAN LUPA TEKAN, FAVORIT, LIKE, COMMENT, VOTE, DAN HADIAHNYA YA TRIMAKASIH 🙏💓
sambil menunggu karya ini up kembali, yuk mampir ke karya baru emak "Antara kutub Utara dan Selatan.(YOU & ME
__ADS_1