
Dia memiliki wajah yang rupawan, dengan postur tubuh yang ideal bak seorang aktor. Sikapnya yang ramah dengan karirnya yang juga bagus sebagai seorang dokter, menambah nilai tersendiri untuknya dalam menyempurnakan penampilan-nya.
Sungguh tak ada celah di dalam dirinya, terlihat tak nyata karena saking sempurnanya. Baik fisik, sikap, karir hingga latar belakang keluarga begitu menonjolkan dirinya.
Namun, sangat berbanding terbalik dengan masalah percintaanya, ia seakan meninggalkan celah di dalam penampilan sempurnanya.
Padahal secara fisik dan karir, harusnya sangat mudah baginya bertemu dan dekat dengan perempuan manapun.
Karena kesendiriannya di usia matangnya, membuat banyak spekulasi muncul di sekitar dirinya.
Apa yang membuat seorang pria yang memiliki wajah tampan dan karir yang bagus, hingga detik ini masih tetap sendiri?
Namun, hal tersebut nyatanya juga masih menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri.
...
Rama Ardiansyah Putra, pria yang kini menginjak usia 32 tahun dan berprofesi sebagai seorang dokter bedah ternyata selama ini masih terjebak pada perasaan masa lalunya.
Masa lalu yang membuatnya bertahan hingga saat ini, pada perasaan semunya untuk seorang perempuan di masa lalunya.
Perempuan yang mampu menggoyahkan hatinya, hingga membuat dirinya bertahan pada perasaan sukanya pada perempuan tersebut dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Sungguh kesetiaan yang sangat mengharukan dan membuat siapapun akan merasa respect padanya. Namun apa jadinya, jika dirinya bertahan pada perasaan sukanya pada perempuan tersebut karena ia yang tak bisa memahami perasaanya sendiri. Hingga rasa penyesalan dan berharap itu selalui menghantui perasaan dan juga hidupnya.
...****************...
Pukul 21.00 WIB.
Di salah satu gedung apartemen yang mewah, terlihat seorang pria yang tengah bersantai sejenak dari aktivitasnya yang nampak cukup menguras banyak tenaganya.
Dari raut wajahnya menampakan kelelahan dan di satu sisi merasa ada kepuasan setelah seharian ini berjuang memindahkan semua barang-barangnya di dalam apartemen barunya.
Di dalam apartemen yang cukup luas tersebut, menciptakan kesunyian di tengah kesendirianya.
Ia berdiri di salah satu sudut jendela apartemennya, memandang lurus pemandangan yang di bawahnya yang terlihat menampakkan keindahan kota di malam hari.
Meskipun awal keputusanya yang ingin pindah ke apartemen sempat mendapat penolakan dari orang tuanya terkhusus mamanya, namun setelah ia berhasil meyakinkan kedua orang tuanya dan memberikan penjelasan akan kepindahanya, ia pun berhasil mendapatkan izin tersebut.
"Apa kamu harus pindah?" Dengan raut wajah tak setuju dan terlihat sedih ketika anaknya membahas soal kepindahannya.
Rama mencoba tetap tersenyum melihat reaksi mamanya yang menampakan kesedihan.
"Nanti Rama akan sering mengunjungi mama." Jawabnya dengan nada lembut.
__ADS_1
Mama Rama menghela nafas panjang mendengar ucapan anaknya yang seakan tak akan menarik keputusannya.
"Baiklah, kamu janji ya?" Akhirnya mama Rama dengan pasrah mengizinkanya, meski sebenarnya masih tak rela.
Rama tersenyum dan mengangguk mengerti dengan memeluk hangat mamanya.
"Kak, aku boleh tinggal sama kakak gak?"
Di tengah pelukan yang mengharukan itu, tiba-tiba adik Rama ikut menimpali hingga membuat ibu dan anak tersebut melepaskan pelukanya dan menatap ke arahnya.
Tentu saja ucapanya itu langsung di berikan tatapan tajamnya oleh mama dan ayahnya yang tak setuju dengan perkataan konyolnya.
"Kalau kamu ikut kakakmu, nanti kamu jadi membebani kakakmu, kamu kan susah di atur." Ucap mama Rama yang bernama Farah tersebut.
"Cih, masa kakak boleh aku gak boleh sih?" Protes Sahila, adik Rama dengan wajah cemberutnya.
"Itu karena kamu belum dewasa, jadi tidak boleh." Ucap Farah lagi.
"Aku sudah 20 tahun Ma?" Koreksi Sahila.
"Itu masih kecil." Ucap Farah dengan tegas hingga membuat Sahila benar-benar terdiam, dan tak bisa membantah ucapan mamanya lagi.
__ADS_1
Rama dan Ayah hanya diam mendengar pemandangan tersebut, dari sudut bibir Rama menampakan senyum simpulnya. Sebuah pemandangan yang sangat biasa di dalam keluarganya.