Hilang?

Hilang?
BAB 3 (Anjani Safira)


__ADS_3

...(Aku bukan Kamu, hidupku terlalu berat untuk berbagi pada seseorang.) - "Anjani Safira"....


...----------------...


"Woi, mana makanku!"


"Dasar lambat, sudah lapar nih."


"Bisa kerja gak sih?"


"Sialan"


"Brengsek."


"Mati sana lu."


Umpatan demi umpatan keluar dari mulut yang harusnya di panggil ayah itu. Tiada hari yang baik di lalui oleh seorang Anjani di rumah yang seharusnya menyambutnya dengan baik. Hari-harinya ia lalui dengan selalu mendengar kedua orang tuanya bertengkar dan melihat sikap kasar ayahnya.


Karena hal tersebutlah ia enggan untuk pulang ke rumah dan suka menyibukkan dirinya sepulang sekolah. Ia akan pulang jika hari sudah petang, karena ia memilih mengambil kerja paruh waktu di salah satu minimarket untuk menambah uang sakunya.

__ADS_1


Dia tidak di besarkan dalam keluarga yang berada dengan cukup uang, keluarganya tak pantas di sebut sebagai seorang keluarga.


Sosok ayahnya tak baik untuk dirinya, setiap harinya hanya mabuk-mabukan dan sering kali melakukan kekerasan pada ibu dan juga dirinya hingga membuatnya muak dan lelah.


Sedangkan ibunya, hanya memperdulikan dirinya sendiri tanpa perduli dengan keadaanya, karena ia sudah cukup merasa frustasi dengan keadaanya yang setiap hari mendapat perlakuan kasar dari suaminya, hingga tak lagi memperdulikan anaknya dan membuat Anjani harus bertahan dan mencari kehidupannya sendiri.


Dalam keluarga yang kacau tersebut, Anjani bertahan meski sebenarnya ia muak dengan keadaanya. Karena tak ada tempat lagi untuk di tuju, ia tak ada pilihan untuk tetap bertahan dalam rumah tersebut meski sebenarnya ia enggan.


Sikap dinginya, sikap cuek dan acuh tak acuhnya adalah pertahanan dari dalam dirinya. Ia tau kapasitas dalam dirinya yang tak terlahir dari keluarga yang berada, dengan segala cara ia berusaha dengan keras agar bisa mendapatkan beasiswa di tempatnya sekolah, agar ia tetap bisa bersekolah dan keluar dari kehidupan kelamnya.


"Peringkat pertama sekolah, selamat untuk Anjani Safira."


"Pemenang lomba matematika se kecamatan, se kabupaten, se provinsi, se indonesia. Anjani Safira dari SD Nusantara, SMP Bimantara, SMA Bina Harapan Bangsa."


Nyatanya lomba dan peringkat yang sering ia dapatkan di berbagai kesempatan sejak ia SD tak membuatnya bahagia. Ia melakukanya hanya untuk bertahan hidup.


Meski sejatinya ia lahir dengan kepintaranya, nyatanya tak membuatnya untuk berhenti untuk tetap belajar. Karena hanya dengan hal tersebut ia menggantungkan hidupnya, dengan prestasinya di sekolah akan mempengaruhi kehidupanya di masa depan, yang nantinya dapat membuka jalan bagi dirinya untuk keluar dari kehidupan kelamnya.


...****************...

__ADS_1


Ketika jam telah menunjukan jam pulang sekolah, hanya menyisakan Anjani yang masih sibuk di dalam ruangan kelasnya. Ia terlihat sedang mengerjakan tugasnya di tengah semua murid yang berhamburan keluar dari kelasnya.


Ruangan kelasnya yang sudah sepi, menyisakan keheningan di dalamnya. Meski begitu, tak membuatnya bergeming dan tetap melanjutkan apa yang ia lakukan.


"Lho neng Anjani masih di dalam toh." Sapa seorang laki-laki yang menampakan wajah tuanya dengan senyum ramahnya menyapa Anjani yang masih di dalam kelas.


"Iya pak." Anjani menghentikan aktivitas belajarnya dan menampakan senyum kecil di sudut bibirnya pada penjaga sekolah yang bernama pak Nadir tersebut.


"Semua sudah pada pulang lho neng, masih aja belajar." Ucap pak Nadir lagi yang sudah mengenal Anjani.


Anjani hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Jangan terlalu serius atuh neng, nanti stres sendiri!" Pak Nadir memberikan sebuah nasihat yang seolah menghentakan hati Anjani.


"Bapak keliling dulu ya neng, lanjutkan belajarnya lagi." Dengan ramah pak Nadir berlalu meninggalkan kelas Anjani dan meninggalkanya seorang diri.


Hufft...


Helaan nafas panjangnya keluar sepergian pak Nadir dari hadapanya. Membuatnya termenung sejenak akan ucapannya.

__ADS_1


Meski ia tau itu benar, ia tetap melanjutkan aktivitas belajarnya, karena hanya sekarang ia bisa mengerjakan tugasnya mengingat kondisi keadaan di dalam rumah yang tak mendukungnya.


Setelah di rasa cukup, ia bergegas menutup semua buku dan memasukanya ke dalam tasnya, lalu bergegas keluar dari kelas yang sudah sepi itu.


__ADS_2