
Bolehkah aku berharap? berharap pada perasaan ini! Aku menyukainya tapi aku bingung untuk mengungkapkan perasaanku padanya.
Apa aku salah memendam rasa padanya? apakah menyukainya itu sebuah kesalahan?
Tidak bisakah aku berharapa agar dia bisa memandang dan melihat ke arahku, bukan sebagai teman atau kenalan yang dekat, tapi sebagai lawan jenis.
Mencintai seseorang itu ternyata tidak mudah ya!...
...****************...
"Kamu gak pa-pa?" Sapa Diana pada Rama yang terlihat termenung setelah melakukan operasi, ia juga tak lupa memberikan minuman yang ia bawa.
Rama tersadar dari lamunanya dan menatap ke arah sumber suara. Ia melihat kehadiran Diana dengan membawa sebuah minuman di tangannya dan tengah menyodorkan minuman tersebut ke arahnya. Dengan ekspresi tak bersemangat, Rama menerima minumanya lalu menggeser arah duduknya, membiarkan Diana duduk di sampingnya.
"Kamu pasti masih sedih karena tidak bisa menyelamatkan pasien tadi kan!, tapi.. itu kan bukan karena kesalahan kamu, kamu sudah berusaha yang terbaik, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri." Ucapnya mencoba memberi semangat pada Rama.
Rama tersenyum tipis mendengar penghiburan tersebut.
__ADS_1
"Padahal ini bukan yang pertama kalinya, tapi kenapa hatiku selalu sakit setiap kali mengalaminya." Dengan suara agak parau karena menahan kesedihannya, Rama terlihat masih tak bisa menerimanya.
"Itu wajar sih, karena kita juga manusia. Kita gak sempurna, dan masih banyak kekurangan."
"Benar, ini karena aku masih banyak kekurangan." Jawab Rama yang masih berusaha menyalahkan dirinya sendiri.
Melihat hal tersebut bukanlah hal baru bagi Diana, ia tau pasti bagaimana kelembutan hati Rama. Ia juga tau akan begini jika Rama gagal menyelamatkan seorang pasien. Rama pasti akan selalu menyalahkan dirinya sendiri.
"Kamu masih saja suka menyalahkan diri sendiri, kamu kan dokter bukan tuhan."
Rama terdiam seolah membenarkan ucapan Diana. Ia merenungkan sejenak hal yang bisa ia ambil dari pelajaran hari ini.
Rama menatap Diana yang duduk di sampingnya. Ia tersenyum tulus menatap ke arah Diana, membuat Diana yang berada di sampingnya agak malu dan canggung di saat bersamaan.
"Kenapa?" Tanyanya pada Rama yang melihat ke arahnya.
"Terimakasih, aku selalu ingin mengatakan ini setiap kali bertemu denganmu." Kata Rama lalu menatap lurus arah pandanganya.
__ADS_1
"Entah kenapa kamu selalu menghiburku di saat seperti ini, terimakasih ya.." Ucapnya lagi dan kembali menatap Diana.
Diana tersenyum tipis, merasa terharu, tapi di satu sisi ia juga merasa sedih mendengarnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku begini karena aku juga seorang dokter. Jadi aku tau bagaimana perasaanmu." Balas Diana dengan nada rendah dan mencoba mengendalikan ekspresinya.
"Aku tau, tapi tetap saja aku merasa berterimakasih." Ucap Rama lagi.
'Kumohon jangan tersenyum seperti itu, setiap kali melihatmu tersenyum membuatku sedih. - Batin Diana terlihat tak sanggup melihat kehangatan Rama yang selalu di tujukan padanya.'
"Kamu kenapa? kamu sakit?" Tanya Rama melihat ekspresi Diana yang terlihat tak baik.
"Diana." Panggil Rama lagi, dan menyadarkan Diana.
"Ah.. tadi kamu bilang apa?" Jawab Diana kemudian yang terlihat tak mendengar perkataan Rama.
Melihat ekspresi Diana yang tiba-tiba berubah tak baik, membuat Rama terdiam dan mencoba memahami perubahan suasananya.
__ADS_1
"Aku minta maaf.." Ucap Rama kemudian.
Mendengar hal tersebut membuat Diana yang berada di sampingnya jadi bingung menatap Rama yang tiba-tiba mengatakan permintaan maaf padanya.