
Sekujur tubuhnya seketika merasa kaku, dengan ekspresi yang tampak kaget begitu melihatnya. Sebuah pemandangan yang tak ia kira sebelumnya. Ini merupakan pertemuan pertama kali bagi dirinya setelah sekian lama, karena itu ia agak canggung dan bingung dalam mengatasinya.
Rama tampak tak bisa mengontrol ekspresi terkejutnya. Tubuhnya terasa kaku untuk sekedar berdiri tepat di sampingnya, ia bahkan tak memberanikan diri untuk sekedar melirik ke arahnya.
Benar, tepat di sampingnya berdiri ada Anjani yang tampak habis dari supermarket mengingat ia yang terlihat sedang membawa sebuah bingkisan plastik yang berada di tanganya.
Berada di dalam lift yang tertutup dan agak sempit dengan hanya dua orang berada di dalamnya sangat membuat tak nyaman, terkhusus bagi Rama yang masih agak tak percaya bisa bertemu dengan Anjani setelah sekian lama, sosok perempuan yang sudah cukup lama mendiami hatinya.
Jika Rama tampak canggung dan mengingat dirinya setelah sekian lama, tidak dengan Anjani yang terlihat tak mengenali sosok Rama yang berdiri di sampingnya, mengingat ekspresinya yang tampak datar dan tak memberikan reaksi apapun.
Ting.. suara pintu lift terbuka, berhenti di lantai 37, tempat Rama tinggal berada. Karena mungkin agak sedikit termenung, Rama terlihat tak fokus dan mendengar suara pintu lift terbuka, hingga membuat Anjani yang berada di sampingnya tampak melirik ke arahnya yang tak kunjung keluar lift padahal pintu sudah terbuka.
__ADS_1
"Anda tidak turun?" Ucapnya pada Rama, membuat Rama tersadar dari lamunannya.
"Ah.. iya maaf.. " Jawabnya agak terbata menatap pintu terbuka lalu bergegas turun sebelum pintu kembali tertutup.
Masih berdiri di depan lift yang akan tertutup, Rama menatap lurus ke depan, dan dari celah pintu lift yang akan tertutup itu ia memberanikan diri untuk melihat Anjani. Kedua mata mereka akhirnya saling bertemu di sela pintu lift yang akan segera tertutup tersebut.
Begitu lift benar-benar tertutup, Rama masih tetap berdiri mematung di depan lift sambil mencerna dan memahami dengan apa yang ia alami. Ia menatap ke atas arah lift akan berhenti, dan tepat saat itu lift berhenti di lantai 38, lantai yang berada tepat di atas tempat tinggalnya.
...
Di sisi lain, Anjani yang sudah berada di dalam apartemen-nya sepulangnya ia dari supermarket, merebahkan sejenak tubuhnya di atas sofa sambil menaruh belanjaan-nya di atas meja.
__ADS_1
Ketika ia mencoba memejamkan matanya, sejenak ia teringat dengan seorang laki-laki yang bersamanya di dalam lift. Ia teringat akan tatapan laki-laki tersebut ketika mata mereka saling bertemu di sela pintu lift yang akan segera tertutup. Meski tak tau kenapa bisa membuatnya kepikiran, hanya saja itu membuatnya penasaran soal tatapan laki-laki tersebut, yang menurutnya agak sedikit aneh.
"Apa dia mengenalku ya?." Gumam Anjani lalu tak lagi memperdulikanya.
Sedangkan Rama yang tampak kelelahan karena beberapa hari ia lembur dan pulang agak malam, membuatnya sedikit tak bersemangat.
Hari ini ia inginya langsung tidur begitu pulang dari rumah sakit, namun nyatanya ia tidak bisa tidur sama sekali meski ia sudah beberapa kali memejamkan matanya. Ia masih kepikiran soal pertemuanya kembali dengan Anjani.
Ia beberapa kali menghela nafas panjang tanda merasa bingung dengan dirinya sendiri.
"Padahal dia tak mengingatku.. " Gumamnya mengingat Anjani yang tak mengenali dirinya saat itu. Ia tersenyum kecut sambil mengasihani dirinya sendiri yang kembali goyah.
__ADS_1