
Wanita yang anggun dengan tampilan yang rapi, namun memiliki ekspresi yang dingin dan cuek itu kini berjalan dengan eleganya di bandara menuju tempat kelahirannya yang telah lama ia tinggalkan.
Ternyata butuh waktu lama bagi dirinya untuk menginjakkan kakiknya kembali pada kehidupan di masa lalunya yang telah lama ia tinggalkan. Hanya di dampingi asisten pribadinya, ia meninggalkan kota new york yang telah cukup lama menjadi tempat untuk mengembangkan diri dan juga mengubah dirinya.
"Saya sudah carikan tempat tinggal sesuai apa yang ibu perintahkan, sebuah apartemen yang cukup bagus dan luas dengan lokasi yang cukup dekat dengan jarak kantor."
"Em.." Hanya jawaban singkat yang ia lontarkan menjawab setiap perkataan Lea sang asisten pribadinya dengan lirikanya yang sekilas memandang wajah sang asisten tanda menyetujui perkataanya.
Dengan memandang setiap sudut keramaian yang nampak di depan matanya dengan tatapan tanpa ekspresinya, wanita yang bernama Anjani Safira tersebut tak sekalipun mengalihkan pandanganya dari samping kaca mobilnya. Memandang lekat setiap hal yang nampak di depanya dengan sesekali menghela nafas pendeknya.
Tak ada yang tau apa yang sedang ia fikirkan, mengingat ia menunjukan ekspresi datarnya. Mungkin hanya ia yang akan memahami apa yang sedang ia fikirkan.
......................
Waktu berlalu begitu saja dan sampailah mereka di depan gedung apartemen. Setelah perjalanan panjang nan melelahkan tersebut, tak ada kata lain selain menuju ke rumah untuk mengistirahatkan sejenak tubuh yang telah mengalami jet lag akibat perjalanan panjang tersebut.
Keduanya menuju tempat yang akan menjadi rumah pribadi bagi Anjani kedepanya selama berada di sini.
__ADS_1
Lea yang merupakan asisten pribadi Anjani tak hentinya memberikan pelayanan terbaiknya bagi Anjani dan dengan ramah dan telatenya ia membantu Anjani untuk menuju apartemen barunya.
"Barang-barang yang anda minta, semua sudah saya pindahkan dan tata pada tempatnya, saya juga sudah menaruh makanan di dalam kulkas untuk anda." Ucap Lea begitu sampai di depan apartemen Anjani.
"Hem, terimakasih. Istirahatlah, kita bicara lagi nanti." Balas Anjani dengan nada ramah dengan sedikit senyum simpul pada Lea yang telah membantunya.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Ucap Lea lagi dengan membungkuk sopan lalu berlalu dari hadapan Anjani.
Kini, di dalam apartemen yang luas tersebut terasa sekali kesunyianya dengan hanya seorang penghuni yang menempatinya.
Ia melepas mantel yang menutup tubuhnya, lalu membaringkan sejenak tubuhnya pada tempat tidur dengan helaan nafas panjangnya. Ia terlihat termenung menatap langit-langit kamarnya.
"Aku lelah." Gumamanya, lalu perlahan mulai memejamkan mata.
...****************...
Di dalam salah satu rumah sakit, terdapat seorang dokter tengah beristirahat sejenak bersama rekan-rekanya setelah berhasil menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1
"Selamat dok." Ucap salah seorang dokter perempuan dengan ramah pada dokter laki-laki yang tengah duduk dengan masih memakai pakaian operasinya.
Mendongak dan menatap pada arah suara tersebut, ia dengan segera membetulkan posisi duduknya.
"Kali ini kamu melakukannya dengan baik." Ucapnya lagi memberi pujian pada dokter yang duduk di sebelahnya.
Rama, nama dokter tersebut. Ia tersenyum simpul mendengar pujian yang keluar dari mulut rekanya yang bernama Diana.
"Terimakasih, aku hanya melakukan sesuai prosedur." Balasnya merendah.
"Aku dengar dia pasien yang kekeh menolak untuk di operasi! tapi kamu berhasil membujuknya, bahkan berhasil melakukan operasinya. Sepertinya sebutan dokter penyelamat itu tidak berlebihan." Puji Diana.
"Kamu berlebihan, aku hanya menjalankan tugasku sebagai dokter. Aku tidak sehebat itu." Ujar Rama sambil menatap ke arah Diana yang berada di sampingnya.
"Yah..kamu selalu merendah dengan apa yang kamu lakukan, tidak heran semua suka padamu."
Entah kenapa kata-kata itu sejenak mengheningkan suasana di antara keduanya.
__ADS_1
"Ah, aku lupa harus kontrol pasienku, aku pergi dulu ya! Selamat sekali lagi." Ucap Diana menepuk pundak Rama dengan lembut dan berlalu dari hadapanya.
Hanya anggukan kecil dari Rama untuk merespon ucapan Diana yang mulai meninggalkanya.