
Di samping menunggu Rama yang tengah mandi, untuk menghilangkan kebosananya Johan memilih menonton tv yang tepat berada di depanya, meski ekspresi di dirinya enggan untuk melakukanya.
Karena suasana apartemen yang agak sunyi, ia menyalakan televisi di depanya agar memberikan sedikit nyawa di dalam apartemen yang cukup besar ini.
"Masih disini?" Ucap Rama begitu keluar dari kamar dengan tampilan yang segar selepas mandi.
"Ngajak ribut nih orang, kan dia yang suruh harus diam disini selama mandi." Balas Johan melirik sahabatnya dengan ekspresi tak suka melihat penampilan Rama yang tampak berkilau selepas mandi.
"Kenapa?" Tanya Rama menyadari ekspresi sahabatnya.
"Kamu tanya karena gak tau?" Sindir Johan.
"Aku bertanya karena gak tau." Jujur Rama.
"Ck, dasar.." Decak Johan merasa sebal dengan dirinya sendiri.
Meski sempat ada sedikit kecanggungan sebelumnya, keduanya bisa balik dengan nyaman berbicara lagi layaknya tak terjadi sesuatu.
Karena kedekatan keduanya membuat keduanya saling memahami satu sama lain, dan saling mentoleransi sikap masing-masing.
"Duh, rasanya aku males pulang." Ujar Johan sambil menyenderkan kepalanya di atas sofa.
"Yaudah nginap disini aja."
"Pengennya sih, tapi besok pagi aku harus tinjau lokasi yang lagi aku handle." Balas Johan dengan menghela nafas panjangnya.
__ADS_1
"Proyek apa sih? penting?"
"Semua proyek yang aku tangani itu penting, layaknya dokter yang lagi menangani seorang pasien." Jawab Johan dengan tegas menatap Rama.
Mendengar itu membuat Rama tersenyum simpul di sudut bibirnya.
"Jangan tersenyum, kamu meremehkanku?"
"Aku senyum karena aku sadar." Ucapnya sambil menatap Johan dengan senyum merkahnya.
"Jangan senyum aku benci kalau melihatmu senyum."
"Kenapa? apa karena aku ganteng kalau lagi senyum?" Ejek Rama menambah kesal Johan hingga membuatnya tak berhenti mengumpat.
"Ok."
Rama mengantar Johan hingga depan pintu apartemennya.
"Sayang banget cuma sebentar, udah malem juga sih aku kesininya. Aku balik ya!" Ucap Johan begitu keluar dari apartemen Rama.
"Hem.." Balas Rama kemudian.
Rama kembali masuk ke dalam apartemennya begitu melihat Johan mulai menjauh dari pandanganya.
...****************...
__ADS_1
Berada di tempat yang berbeda dengan waktu dan suasana yang berbeda, terlihat jelas memperlihatkan dunia yang berbeda.
New york, pukul 09.00 pagi.
Nampak seorang perempuan tengah memandang lurus dari atas apartemen-nya, memandang ke bawah kepadatan kota new york di pagi hari dengan tampilan orang yang baru bangun.
Raut wajahnya memperjelas kondisinya, di tambah dengan helaan nafas panjangnya yang menampakkan kelelahanya. Namun, tak menghilangkan nilai dari visualnya.
"Jam berapa kita akan berangkat?" Ucapnya pada seseorang yang berada di belakangnya.
"Satu jam dari sekarang, bu." Balasnya dengan sopan.
"Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" Tanyanya lagi sambil menatap ke arah orang di belakangnya, yang tak lain adalah asisten pribadinya.
"Sudah, bu."
"Kalau begitu aku mau mandi dulu, tolong siapkan sarapan dan pakaianku selama aku mandi." Ucapnya lagi dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
"Baik, akan segera saya siapkan." Balasnya lalu pamit dari hadapan perempuan tersebut dengan menunduk sopan padanya.
Perbincangan singkatnya dengan asisten pribadinya, menyudahi percakapan keduanya.
Hingga waktu berlalu begitu saja, dan tibalah keduanya untuk pergi dari kota new york menuju kota kelahiranya. Sebuah kota yang sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini dan menjadi titik awal dari kehidupanya saat ini.
Kini, ia telah kembali pada kota yang telah lama ia tinggalkan hampir 10 tahun lamanya itu.
__ADS_1