Hilang?

Hilang?
BAB 23 (Keputusan Yang Berbeda)


__ADS_3

"Pada akhirnya dia tau juga." Gumam Johan mendengar Rama yang telah menceritakan perihal pertemuanya dengan Anjani padanya lewat telfon kemarin.


Menatap lurus ke luar jendela kamarnya, Johan tampak memandang serius pemandangan di depanya dengan perasaan campur aduk.


Kegelisahannya yang selama ini ia takutkan, kini sudah tak lagi berguna karena Rama telah mengetahui perihal Anjani, bahkan bertemu langsung denganya.


Ia yang berharap agar Rama tak mengetahuinya karena takut membuat Rama kembali goyah ketika melihat Anjani, kini sangat berharap agar sahabatnya bisa segera mengetahui isi hatinya dan tak merasa bimbang lagi.


Yah.. ada baiknya mereka berdua di pertemukan, dengan begitu akan ada pencerahan baginya. - Batin Johan.


......................


"Jadi... apa yang akan kamu lakukan setelah bertemu denganya?" Tanya Johan.


"Entahlah aku juga gak yakin apa ini benar, tapi aku memutuskan akan lebih berani mendekatinya." Balas Rama dengan yakin.


"Jadi itu keputusanmu."


"Benar, karena ada hal yang harus aku pastikan. Dengan begitu aku tidak akan menyesal lagi." Jelas Rama.


"Baiklah lakukan apa yang menurutmu baik, buat keputusan yang bijak agar tidak ada yang tersakiti. Dan yang lebih penting dari itu adalah kamu bahagia." Ucap Johan menasehati.


"Iya, aku juga berharap tidak ada yang terluka karenaku, karena itu aku akan menyelesaikan hal yang menggangguku selama ini." Kata Rama dengan nada rendahnya.


"Aku percayakan semua sama kamu, karena aku yakin kamu tidak akan membuat keputusan yang salah." Yakin Johan pada sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Thanks, aku lega kamu mendukung keputusanku dan juga sudah mau mendengar ceritaku." Balas Rama merasa lega.


"Santai, lain kali kita ketemu di luar dan obrolin hal itu lebih panjang lagi." Ucap Johan.


Rama tersenyum, mendengar teman sekaligus sahabatnya tak menyalahkan dia dan mau mendengar kesulitanya bahkan mendukung dirinya.


Obrolan yang cukup panjang tersebut kembali meyakinkan Rama, pada keputusan yang ia ambil, pada langkah yang akan ia lakukan, dan pada jalan yang ia tuju nanti. Ia tersenyum puas mendapat dukungan dari sahabatnya, melegakkan hatinya yang selama beberapa hari ini cukup membuatnya kacau.


...****************...


Pagi hari yang terlihat lebih cerah dari hari kemarin, membuat Diana tampak bersemangat menyambutnya. Hari-hari melelahkanya seolah terhapus hanya dengan melihat pemandangan di pagi hari yang cerah ini.


"Kamu tampak lebih cerah hari ini, apa ada hal yang bagus." Ucap Rama yang tiba-tiba berdiri di sampingnya yang tengah menikmati pemandangan.


Mendengar suara dan kehadiran seseorang yang tiba-tiba berada di sampingnya sedikit mengagetkan Diana, melirik sumber suara tersebut dan ia mendapati Rama yang tengah berdiri tepat di sampingnya. Diana menatap Rama yang tengah berdiri di sampingnya dengan senyum merkah di bibirnya.


Rama mencoba menatap ke arah yang sama dan mengamatinya, namun ia tak menemukan hal yang sama seperti apa yang di ucapkan oleh Diana.


"Begitukah, kenapa aku melihatnya sama ya! apa aku keliru?" Balasnya sembari menatap ke arah Diana.


Tatapan itu sejenak membuat Diana terpaku dan merasa tersipu, namun ia dengan segera memalingkan wajahnya dan kembali mengontrol ekspresinya.


"Mungkin kamunya yang tidak merasakan." Jawab Diana kemudian.


Mendengar hal tersebut, Rama tersenyum simpul.

__ADS_1


"Apa orang tua kamu masih disini?" Ucapnya kemudian.


"Iya mereka masih disini, mungkin mereka agak lama disini."


"Aku belum bilang terimakasih soal kemarin, soal ajakan makan malamnya."


"Aku yang harusnya berterimakasih karena kamu mau datang ke rumahku padahal kamu pasti lelah."


"Mungkin agak sedikit lelah, tapi aku senang bisa bertemu dengan orang tuamu."


Obrolan kecil dan santai ini tampaknya hanya Diana yang lagi-lagi merasa canggung. Meski ia terlihat tenang, nyatanya selama ini ia sudah sekuat tenaganya menyembunyikan rasa canggungnya ketika berbincang dengan Rama. Ia yang sekarang di hadapkan pada hal yang sama, menjadi tersadar pada kenyataan bahwa ia tak tau kapan akan bertahan lebih lama lagi pada perasaanya ini.


Ia yang kemarin sudah memutuskan akan lebih berani mendekati Rama, seolah tersadar dengan kenyataan yang di depanya, melihat sikap Rama yang hanya menatapnya biasa meski ia bersikap hangat padanya.


'Aku butuh kepastian agar aku lebih tenang, karena itu aku akan mengungkapkan perasaanku padanya sekarang. Apakah hubungan kami akan canggung ya.. setelah aku mengungkapkan perasaanku? tapi.. kalau tidak begitu, nanti aku jadi berharap tak jelas lagi. Aku ingin ini lebih jelas, karena itu aku membuat keputusan kemarin.' Gumam Diana dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.


"Rama.." Panggilnya dengan nada rendah dan ekspresi yang tampak serius dengan penuh kemantapan menatap Rama di sampingnya.


Namun, belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Rama yang sedang berdiri di sampingnya dengan tatapan wajahnya yang tengah menunggu lanjutan perkataanya, tiba-tiba saja di panggil karena ada pasien darurat yang harus segera di tangani, membuat perkataan itu terputus begitu saja.


"Maaf ya, sepertinya aku harus pergi dulu. Kita lanjutkan nanti, ok." Ucapnya kemudian berlari menuju ruang pasien meninggalkan Diana sendiri.


"Ok." Balas Diana agak menyayangkanya.


Huft.. ia menghela nafas panjangnya menatap langit-langit dengan tatapan sendu.

__ADS_1


"Mungkin aku belum boleh mengatakannya." Gumamnya dengan agak sedih.


__ADS_2