
30 menit yang lalu, tepat pukul 15.00.
Berada di ruangan VIP tempat seorang pasien di rawat, dengan seseorang yang tengah mendampingi dirinya dengan setia di sampingnya.
Pasien tersebut tak lain adalah mama Johan dengan di dampingi oleh suaminya yang juga papa dari Johan.
Rama yang tadi ingin menjenguk mama Johan, kini sudah berada dalam ruangan tersebut bersama dengan Johan.
"Tante udah baikan?" Tanyanya dengan duduk tepat di samping mama Johan.
"Udah, terimakasih ya sudah mau jengukin tante." Dengan senyum merkah menatap Rama dan memegang tanganya dengan lembut.
"Syukurlah tante, saya sempat kaget mendengar tante masuk rumah sakit, makanya saya datang jengukin tante sekarang." Ucap Rama merasa lega.
"Memangnya kamu sudah pulang? kok bisa jengukin tante sekarang,"
"Udah kok tante, kebetulan saya pulang agak cepat hari ini." Balas Rama dengan ramah.
"Dia sebenarnya di pulangin ma, soalnya dia bandel gak bisa berhenti melakukan operasi." Celetuk Johan.
"Oh ya! pantesan wajahmu terlihat lelah." Ucap mama Johan sambil memegang wajah Rama dengan lembut.
"Saya tidak apa-apa kok tante." Balas Rama dengan tersenyum.
"Kamu ini masih saja suka bekerja berlebihan." Ujar Papa Johan ikut menimpali.
"Iya, dia emang kaya gitu orangnya." Saut Johan menimpali perkataan papanya.
"Kamu juga sama, karena itu kalian jadi gak nikah-nikah."
__ADS_1
"Apa'an deh, kok jadi ke situ sih arahnya." Seru Johan agak kesal.
"Benar tuh apa yang di katakan oleh papamu, kalian berdua kan sudah waktunya menikah. Jadi.. kapan kamu mau kenalkan pacarmu ke mama!" Timpal mama Johan mengarah pada Johan anaknya.
Johan tak menjawab dan hanya memasang wajah tak acuh.
"Kamu juga Rama, jangan ngikutin Johan. Gih nikah sana, kasihan ayah sama mama kamu.." Ucapnya lagi merujuk pada Rama yang berada di sampingya.
Rama hanya bisa tersenyum tipis di sudut bibirnya.
Namun, di sela-sela obrolan mereka berempat, ayah Rama yang merupakan direktur di rumah sakit tempat mama Johan di rawat sekarang, tiba-tiba masuk ke dalan ruangan mama Johan, hingga membuat semua tampak kaget dengan kehadirannya begitupun dengan Rama.
"Lho kamu ada disini?" Ucapnya begitu mendapati sang anak yang berada di dalam ruangan mama Johan.
"Iya, aku lagi jengukin tante Lisa." Jawab Rama.
"Gak kok, mungkin baru 5 menitan. Apa ayah dokter yang bertanggung jawab pada tante Lisa?" Tanya Rama lagi merujuk dengan kedatangan Ayahnya.
"Enggak, ayah hanya ingin menjenguk Lisa. Kemarin kan ayah belum sempat."
"Terimaksih ya Dan, tapi kamu harusnya gak perlu repot-repot datang kesini." Seru mama Johan pada ayah Rama.
Dari pangggilan keduanya yang saling panggil nama dengan akrab, meyakinkan bahwa mereka sudah akrab sejak lama.
"Sebagai teman lama dan juga seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakit ini, aku wajib menjengukmu." Ucapnya lagi lalu menyapa suami Lisa, Samuel yang juga teman akrabnya.
Mereka akrab layaknya saudara. Tidak mengherankan jika kedua anaknya bisa dengan mudah akrabnya.
......................
__ADS_1
Setelah di rasa telah cukup lama ia berada di ruangan inap mama Johan, Rama mulai berpamitan dengan kedua orang tua Johan. Ia berjalan ke luar ruangan di temani oleh Johan dan juga sang ayah yang sudah harus kembali pada tugasnya sebagai dokter.
"Kamu mau langsung pulang?"
"Aku mau mampir ke rumah Yah."
"Oh baguslah, tapi.. sebelum kamu pulang, ayah boleh meminta tolong gak sebentar!"
"Minta tolong apa?"
"Tolong ke ruangan cempaka, kamar nomor 27 ya!"
"Memangnya kenapa?"
"Tolong sampaikan pesan ayah pada suster Anna dan berikan ini padanya. Bilang juga sama dia kalau ayah agak terlambat. Tolong ya!.. Pinta sang ayah lalu melangkah pergi menjauh dari hadapan Rama dan Johan.
Begitulah hingga akhirnya Rama datang ke ruangan Anjani hingga membuat keduanya bisa bertemu di tempat yang tak terduga tersebut.
Rama tak menyangka bisa bertemu dengan Anjani yang kini tengah terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kondisi yang tampak lemah dan juga pucat.
"Lho, anda kan anak dari dokter Dana. Ada apa ya?"
"Iya benar, saya datang kesini karena mau memberikan titipan ini dari dokter Dana." Balas Rama menyodorkan sebuah amplop pada suster Anna yang tengah memeriksa kondisi Anjani.
"Terimakasih." Jawab suster Anna menerima amplop tersebut dengan tersenyum.
"Apa anda ada urusan lagi disini?" Tanya suster Anna yang melihat Rama masih tetap berdiri di ruangan tersebut.
"Ah enggak, kalau begitu saya keluar dulu." Ucapnya lalu berlalu keluar dengan langkah pelan dan sesekali melirik ke arah Anjani yang kini tengah berbaring di atas ranjangnya.
__ADS_1