Hilang?

Hilang?
BAB 42 (Merubah Arah Pandang)


__ADS_3

Gambaran apa yang seharusnya untuk melukiskan hubungan mereka. Dengan sifat yang bebeda dan karakter yang bertolak belakang 180 derajat, di tambah kehidupan sosial mereka yang tak sama semakin terlihat jelas gap di antara mereka.


Pembicaraan kecil dengan suasana tak nyaman dan canggung itu, sedikitnya merubah arah pandang mereka, baik bagi Rama maupun Anjani itu sendiri, meski terlihat jelas perbedaan di antara sudut pandang mereka.


......................


Kini, Anjani sudah berbaring di atas ranjangnya dengan di bantu oleh Lea. Ia kembali ke ruanganya setelah cukup lama berada di luar. Meski mendapatkan kebebasan sejenak dengan jalan-jalan di sekitar taman, namun di sisi lain juga menjadi momen yang sangat tak pernah ia duga sebelumnya.


Berbincang dengan Rama dan mengobrol dengan agak panjang denganya adalah hal yang di luar perkiraanya. Mengingat bagaimana hubungan keduanya yang tak begitu dekat dan akrab. Namun, karena hal itu ia jadi bisa menjawab rasa penasaranya akan Rama, meski tak sepenuhnya menjawab rasa penasaranya, setidaknya ia jadi tahu arti dari sikap Rama kepadanya.


Dan di lain sisi, Lea terlihat menyadari perubahan raut wajah Anjani yang terlihat tak baik, ia beranggapan bahwa ini pasti karena obrolanya dengan dokter Rama yang ia temui tadi. Meski ia agak penasaran dengan obrolan yang mereka lakukan, namun ia tak berani bertanya pada Anjani dengan memilih menutup mulutnya dan berpura-pura tak melihat apa-apa.


"Menurutmu.. kalau ada laki-laki yang ingin dekat dan akrab denganmu, apa itu berarti dia suka denganmu?" Seru Anjani tiba-tiba, membuat Lea sedikit terkejut dengan pertanyaan Anjani yang tiba-tiba ketika ia sedang meletakkan minuman di samping mejanya.


Lea terdiam sejenak, mencoba mencerna pekataan Anjani dan mencari jawaban yang pas untuk menjawabnya.


"Saya rasa sih begitu, kalau tidak tertarik dia tidak akan mendekat dan mencoba akrab dengan kita. Itu sih yang saya tau, soalnya saya taunya juga dari drama." Jawab Lea kemudian, dengan mencoba meyakinkan meski ia sendiri tidak yakin dengan jawabanya sendiri.


Anjani menatap Lea dalam diam hingga membuat Lea bingung sendiri dengan tatapan Anjani yang terlihat mengasihinya.


"Apa kamu tidak pernah pacaran?" Tanyanya kemudian.


"Em.. iya saya tidak pernah." Jawab Lea dengan ekpresi bingung melihat Anjani yang tiba-tiba bertanya seperti itu padanya.


"Kalau begitu mulailah pacaran, bukanya gadis seusiamu sudah pada menikah?"


"Eh" Ucapnya agak terkejut menatap Anjani.


"Kalau sekarang, saya tidak terlalu tertarik untuk menjalin hubungan." Ucapnya lagi.


"Benarkah! kenapa aku merasa bersalah karena membiarkanmu berada di sampingku ya, gara-gara aku kan kamu jadi kesulitan mendapat pasangan."

__ADS_1


"Ibu tidak perlu merasa bersalah, ini murni karena saya yang belum mau menjalin hubungan dengan laki-laki, dan saya lebih nyaman seperti ini sekarang." Jelas Lea.


"Apa kamu tidak ada niat untuk menikah?" Tanya Lea lagi, dan sejenak membuat Lea terdiam memikirkan-nya.


Anjani menghela nafas kecil melihat ekspresi Lea, ia seolah tau apa yang sedang Lea fikirkan.


"Kalau begitu mulailah bertemu lawan jenis dan dekat denganya, kalau kamu di sisiku terus yang ada kamu gak akan pernah menikah."Ujar Anjani.


"Ibu tidak perlu khawatir, nanti juga akan bertemu dengan sendirinya." Jawab Lea sambil tersenyum penuh keyakinan menatap Anjani.


"Ok, terserah kamu saja." Pungkas Anjani.


Anjani tau kalau dia tak akan pernah menjalin hubungan dengan siapapun, karena itu.. ia tak ingin melihat Lea memiliki nasib yang sama seperti dirinya, karena ia hanya ingin melihatnya bahagia dengan menemukan pasangan hidupnya.


Memiliki kehidupan yang dia harapkan dengan keluarga barunya dan bahagia bersama dengan keluarga kecilnya, adalah harapanya untuk Lea yang telah tumbuh bersama denganya.


...****************...


"Biasa aja kali, gak usah pake teriak."


"Ini tuh karena aku kaget, gak nyangka aku denger cerita ini keluar dari mulutmu sendiri.


Mungkin Johan tak akan pernah menyangka, melihat Rama yang telah menceritakan isi pembicaraanya dengan Anjani. Sebuah kejutan bagi dirinya dengan sikap berani yang di tunjukkan oleh sahabatnya.


"Meski aku salut karena kamu berani deketin dia, tapi aku jadi kesal karena kamu juga di cuekin sama dia." Ujar Johan.


"Terus, gimana kamu kedepanya nanti? dia menolak kamu dengan tegas begitu." Ucapnya lagi.


Mungkin itu juga yang di fikirkan oleh Rama sedari tadi, melihatnya yang diam termenung sembari memikirkan jawabanya.


"Entahlah, mungkin aku akan pelan-pelan dekatinya. Aku juga penasaran, kenapa Anjani tidak mau aku dekat dengannya, padahal aku hanya ingin mencoba akrab denganya." Jelas Rama menatap Johan.

__ADS_1


"Ini kan bukan yang pertama dia bersikap begini."


"Aku tau, tapi... aku merasa harus tau alasanya, dengan begitu aku tak akan penasaran."


Johan tampak terdiam menatap Rama di depanya. Melihat sahabatnya yang memasang wajah penuh keyakinan, membuatnya terpikirkan akan satu hal.


"Sebenarnya, kamu tertarik gak sih sama dia? " Tanyanya kemudian.


Sejenak ia terdiam.


"Aku gak tau, untuk saat ini aku hanya ingin dekat denganya saja." Balas Rama kemudian.


Johan memalingkan wajahnya dengan ekspresi tak percaya, ia mendengus tak tau harus berkata apa lagi pada sahabtanya.


"Dasar aneh, kamu bertahan selama ini karena kamu sendiri tidak tau apapun tentang perasaanmu? kamu tau gak sih kalau kamu itu aneh?"


Rama terdiam seolah membenarkan perkataan Johan.


"Sudahlah, meski aku bicara seperti ini pun tidak akan ada gunanya, karena hanya kamu yang tau isi hatimu sendiri. Dan mungkin benar, kamu memang harus dekat dengan Anjani, dengan begitu kamu akan tau bagaimana perasaanmu sendiri." Seru Johan.


Rama termenung mendengar perkataan Johan.


"Maafin aku." Ucapnya kemudian.


"Kenapa minta maaf, selesaikan saja apa yang mengganggu pikiranmu itu." Balas Johan.


Rama menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya, ia merasa terharu melihat sahabatnya yang selalu mau mendengar keluh kesahnya dan memberikan dukungan untuknya.


Karena itu, setiap kali ada masalah apapun, baik dirinya maupun Johan akan saling menghubungi dan bertemu di sebuah tempat yang selalu mereka datangi seperti saat ini untuk berbagi masalah.


Tempat yang tak terlalu santai maupun serius, juga terlihat nyaman meski berbicara serius sekalipun, dan cafe adalah tempat yang selalu menjadi pilihan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2