Hilang?

Hilang?
BAB 40 (Jangan Coba Mendekat)


__ADS_3

Dia terlalu sempurna untuk di raih.


Begitulah Anjani melihat sosok Rama yang ia ingat dulu. Meski telah lama tak bertemu, ia masih ingat bagaimana sosok Rama yang ia kenal dulu.


Baginya, Rama itu terlalu sempurna untuk di lihat dari berbagai sisi. Karena itu, tak ada hal yang bisa ia harapkan dalam hal tersebut, namun di satu sisi ia ingin mengetahui apakah hal yang ia fikirkan itu benar atau hanya tebakanya saja.


Meski awalnya cuek dan terkesan tak acuh pada hal tersebut, nyatanya itu juga sedikit mengganggu fikiranya. Baginya, berada di sisi laki-laki sangat sulit untuk dirinya, karena akan mengingatkan ia pada sosok mendiang ayahnya. Hal itulah yang membuatnya tak ingin terikat dengan laki-laki.


"Ayo, coba ke arah sana.." Pintanya pada Lea menunjuk arah berlawanan dengan tempatnya sekarang.


"Baik." Balas Lea.


Lea pun mendorong kursi roda Anjani, dan berjalan perlahan ke arah yang di tunjuk oleh Anjani. Menyusuri taman dengan langkah pelan dengan menikmati setiap keindahan bunga dan pemandangan di sekitarnya, mereka mencoba menghirup udara kebebasan sejenak dari suntuk dan sesaknya ruang inap rumah sakit.


......................


Di tempat yang berbeda, memperlihatkan dua orang yang tengah berjalan beriringan keluar rumah sakit, di sertai selingan obrolan kecil di antara keduanya untuk memecah keheningan dan juga rasa canggung.


Rama yang tengah mengantarkan dan mendampingi Diana ketika hendak keluar rumah sakit, kini sudah berada di luar ruangan rumah sakit dan tengah berjalan ke arah mobil Diana yang terparkir di halaman depan rumah sakit.


"Terimaksih sudah mau mengantarku hingga ke depan, padahal kamu gak perlu melakukanya." Ucap Diana begitu tiba di depan mobilnya.


"Tidak pa-pa, ini karena aku yang ingin melakukanya." Balas Rama sambil tersenyum.


Diana terdiam sejenak sebelum masuk ke dalam mobil.


"Apa kamu akan bertugas disini terus?" Tanya-nya kemudian dengan agak hati-hati.


"Emm.. entahlah, kalau saat ini aku masih belum memikirkan-nya."

__ADS_1


Diana mengangguk mengerti, namun dari ekspresinya terlihat agak tak senang mendengarnya. Namun ia dengan cepat mengontrol kembali ekspresinya.


"Baiklah, aku balik dulu ya!" Ujarnya kemudian sambil melambaikan tanganya pada Rama


"Iya, hati-hati.." Balas Rama sambil membalas lambaian tangan Diana.


Rama menatap punggung mobil Diana yang mulai menjauh dari hadapanya. Ia termenung sejenak dengan tatapan lurus menatap mobil yang sudah mulai hilang dari pandanganya.


Tatapanya terlihat serius dengan sesekali menghela nafas kecil. Entah apa yang ia fikirkan hingga membuat ekspresi seperti itu.


Dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam rumah sakit. Dengan langkah pelan dan sesekali menyapa para pasien yang ia jumpai secara tak sengaja di perjalanannya dengan ekspresi ramah. Ia yang masih memakai jubah dokternya, dengan perlahan menuju ruangannya.


Ketika ia tengah menuju ruangannya dengan langkah pelan, arah pandangnya tampak menangkap sesuatu. Sesuatu yang terlihat familiar dan tak asing bagi dirinya. Sosok yang ia lihat tersebut kini sedang duduk menyendiri di taman dengan kursi rodanya.


Ia menatapnya lurus dengan ekspresi agak bimbang. Melihat Anjani tengah duduk sendirian di taman, ada niat di hatinya ingin mendekatinya, namun di satu sisi juga ada kebimbangan hati untuk mendekatinya, mengingat pertemuan terakhir mereka di ruangan inap Anjani.


"Maaf, apa saya boleh duduk disini?" Kata Rama yang akhirnya memutuskan untuk menghampiri Anjani.


Meski Anjani menatapnya datar dan terkesan dingin, Rama tetap tersenyum menatapnya.


"Duduk saja." Balas Anjani kemudian dan memalingkan wajahnya ke depan.


Rama duduk di bangku dekat kursi roda Anjani.


Keheningan menyertai keduanya yang kini telah duduk bersebelahan. Rama tampak gugup harus berkata apa, sedangkan Anjani terkesan cuek akan hal itu.


"Aku minta maaf, kalau aku membuat kamu merasa terganggu." Ucap Rama kemudian membuka obrolan dengan pandangan lurus ke depan, di sertai dengan lirikan kecil pada Anjani.


Anjani hanya diam tak merepon, ekspresi wajahnya juga terlihat datar dan cuek.

__ADS_1


"Sebenarnya... aku cukup kaget melihatmu disini, tapi.. di satu sisi aku juga merasa senang." Ucapnya lagi menatap Anjani di sampingnya.


Dan kali ini Anjani meresponya dengan menatap ke arah Rama, namun ia tetap diam tak bersuara dengan ekspresi datarnya.


"Jadi... apa yang sebenarnya mau anda bicarakan pada saya." Balas Anjani dengan nada formal, seakan memberi batas pada Rama.


Hal tersebut tentu saja membuat Rama tersadar, pada perkataanya yang tadi berbicara semiformal padanya.


"Ada hal yang ingin saya katakan, hal yang sangat ingin saya lakukan sejak dulu namun tertahan karena kebodohan saya." Lanjutnya lagi dengan mencoba mengontrol ekspresi canggungnya.


Anjani terdiam menatap Rama. Seolah mengerti arah pembicaraan Rama.


"Jangan katakan.. apapun itu jangan pernah katakan." Ujar Anjani dengan ekspresi serius menatap Rama.


Rama sedikit menyunggingkan senyum kecil di bibirnya, matanya juga sedikit bergetar mendengar perkataan tegas itu.


"Meski anda tidak suka, tapi ini benar-benar harus saya katakan pada anda." Ucapnya kemudian dan kembali menatap Anjani dengan wajah serius.


Melihat ke gigihan Rama, Anjani hanya bisa menghela nafas panjang dan mengalihkan pandanganya ke depan, seolah tak tertarik dengan hal itu.


"Saya.." Mendengar Anjani tak memberi respon, Rama kemudian melanjutkan perkataanya, namun tertahan di tengah, seolah ragu untuk mengatakanya.


"Bolehkah saya dekat dengan anda!" Ucapnya melanjutkan perkataanya.


Lagi-lagi tak ada respon dari Anjani. Padahal, ini adalah hal yang sangat sulit bagi Rama untuk mengatakan dan juga melakukan-nya.


"Kenapa? apa itu karena anda tertarik dengan saya?" Balas Anjani datar lalu kembali menatap Rama.


"Itu.." Rama terlihat kesulitan untuk menjawab.

__ADS_1


"Jangan coba mendekat. Kalau benar perasaan itu ada, lebih baik sudahi saja.." Ujar Anjani dengan tegas.


Mendengar hal itu, tentu saja membuat Rama terpaku.


__ADS_2