Hilang?

Hilang?
BAB 36 (Tertampar Kenyataan)


__ADS_3

*Andai aku mendengarnya saat itu, dengan begitu aku tak akan ragu dan bimbang selama ini.


Aku senang hanya dengan kamu mengingatku, itu sudah cukup bagiku yang sangat sulit menyapa dan juga menegurmu*.


Rama terdiam dan terlihat sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya, begitu tipis hingga tak terlihat. Ia lalu menatap wajah Anjani di depanya dengan tatapan lembut.


"Maaf, Saya tidak mengerti maksud anda!." Kata Rama dengan mencoba mengontrol ekspresinya.


"Saya datang kesini karena dokter Dana sedang ada halangan, mungkin ada kesalahfahaman disini." Jawab Rama lagi mencoba mengalihkan pembicaraan.


Anjani terdiam menatap Rama.


"Anda kan tidak bertugas disini?" Kata Anjani menatap Rama dengan tatapan serius.


"Terkadang saya juga suka membantu disini, apa anda keberatan jika saya yang menggantikan dokter Dana.?"


"Aku tidak keberatan." Jawab Anjani cepat lalu beralih melangkah ke arah ranjangnya dan melupakan pertanyaanya karena melihat Rama yang terlihat terus mengalihkan pembicaraan.


Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Rama.

__ADS_1


"Pertanyaan saya tadi anggap saja anda tidak pernah mendengarnya." Ucapnya lalu melangkah kembali ke arah ranjang dengan terus membawa tabung infus di tanganya.


"Kalau itu soal apa yang anda tanyakan tadi, sayangnya saya sudah terlanjur mendengarnya." Jawab Rama dengan tersenyum simpul.


Anjani kembali menoleh ke arah Rama dengan tatapan tak percaya dan sedikit mengernyitkan dahinya begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh Rama.


"Apa maksud anda?"


"Tidak pa-pa, mari saya bantu." Balas Rama mencoba membantu menuntun Anjani menuju ranjangnya dengan memegang tabung infusnya.


"Saya bisa sendiri." Balas Anjani dengan nada dingin khas dirinya.


"Jangan menyukaiku."


Di tengah Rama memeriksa kondisinya, tiba-tiba saja Anjani berkata hal yang sangat mengagetkan bagi Rama yang mendengarnya.


Kini, mata keduanya saling bertemu dan menatap satu sama lain. Keheningan sejenak menghampiri keduanya.


Dari ekspresi Rama, ia seakan tertampar oleh kenyataan menyakitkan.

__ADS_1


Belum sempat Rama bicara untuk menanggapi perkataan yang di ucapkan oleh Anjani, Lea yang tiba-tiba masuk membuatnya mengurungkan niatnya.


"Sepertinya benar kata dokter Dana, kondisi anda sudah semakin baik jadi mungkin 2 atau 3 hari lagi anda sudah boleh pulang." Ucapnya memecah keheningan.


"Lebih jelasnya lagi mungkin lebih baik di jelaskan oleh dokter Dana nanti. Saya disini hanya membantu beliau dan menggantikan sementara. Karena yang bertanggung jawab sepenuhnya tetap beliau." Jelasnya lagi menatap Anjani dengan tersenyum ramah.


"Kalau begitu saya permisi." Ucapnya berpamitan pada Anjani dan Lea yang baru masuk.


Anjani menatap lurus punggung Rama yang perlahan mulai menjauh dari pandanganya.


Jangan menyukaiku, karena aku tak butuh itu.


Jangan berharab lebih dari itu, karena aku tak akan bisa membalasmu.


Dan jangan mencoba akrab denganku, karena aku tak pantas untukmu.


Melihat sikap Rama, Anjani tampak yakin pada tebakanya. Karena itu.. sebelum semua semakin jelas ia dengan segara mencoba memberi batas dan penegasan pada hal tersebut, agar kedepanya tidak ada yang terluka.


Di samping itu, Rama yang sudah keluar dari ruangan Anjani, berdiri mematung dengan ekspresi terpaku. Mendengar perkataan dari Anjani, sedikit menggoyahkan hatinya hingga membuat dirinya bimbang. Ia terlihat kesulitan dalam memahaminya.

__ADS_1


Dalam kebingungan dan keterkejutanya, Rama hanya bisa menghela nafas panjang.


__ADS_2