Hilang?

Hilang?
BAB 21 (Sebuah Keputusan)


__ADS_3

Aku tau pasti dengan apa yang aku rasakan, namun di satu sisi aku ragu apakah keputusan yang ku ambil ini sudah benar. Tidak mungkin aku akan hidup dalam rasa ketidakpastian itu terus menerus.


Rama yang sudah sekian lama terombang ambing akan perasaanya sendiri, kini seakan sudah memantapkan dirinya dalam menetapkan hatinya. Pada siapa hati yang akan ia tuju nanti, apakah ia akan mengakhiri pada kisah masa lalunya ataukah memulainya dengan yang baru.


"Maaf ya, kamu jadi tertahan lama di sini." Ucap Diana merasa bersalah pada Rama yang tak bisa pulang lebih cepat karena permintaan mamanya.


"Tidak apa, kan aku sendiri yang mau datang kesini. Besok juga libur kan." Balas Rama menenangkan Diana.


"Fiuh baiklah, pulanglah sudah larut juga kan."


"Ok, aku pulang ya.." Kata Rama berpamitan lalu melangkah menuju ke arah mobilnya yang terparkir.


Menatap punggung yang menjauh darinya,sejenak membuat Diana terdiam entah apa yang sedang ia fikirkan, ekspresinya tampak sedih menatap punggung Rama yang mulai menjauh dari hadapanya.


Ketika mobil Rama keluar dari halaman rumahnya, menjauh hingga sudah tak terlihat. Ekspresi tenangnya yang sudah sekuat tenaga ia pertahankan perlahan runtuh dengan keluarnya air mata dari kedua manik matanya.


"Aku.. sudah memutuskan." Ucap Diana menatap lurus ke arah mobil Rama yang telah menjauh dari hadapanya dengan tatapan nanar, tampak kesulitan melanjutkan kata-katanya, ia terdiam sejenak lalu dengan segera mengusap air mata yang keluar membasahi kedua pipinya dan berlalu masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang terlihat yakin. Entah keputusan apa yang akan ia ambil ke depanya.

__ADS_1


......................


Pukul 22.30 malam, Rama tiba di gedung apartemen-nya. Setelah memarkirkan mobilnya, ia tak langsung keluar dan sejenak merenung di dalam mobil.


Ekspresinya di landa rasa dilema dan keraguan tapi di satu sisi ia juga tampak yakin akan keputusan yang harus di ambilnya. Ia menghela nafas panjang melepas rasa kegelisahan yang selama beberapa hari ini mengganggunya.


Ketika ia hendak turun dari mobil, tiba-tiba ada sebuah mobil yang tengah melaju ke arah yang sama dengan arah mobilnya. Mobil tersebut berhenti tepat di depan mobilnya yang terparkir. Melihat mobil tersebut sudah menghentikan lajunya dan berhenti tepat di depan mobilnya, Rama bergegas keluar dari dalam mobil miliknya.


Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti begitu melihat siapa yang turun dari dalam mobil yang ada di depanya.


Mata keduanya tampak bertemu dan saling menatap satu sama lain dalam jarak yang cukup dekat, namun lagi-lagi hanya Rama yang terlihat megenalnya. Anjani tampak cuek dan hanya memandang sekilas sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa sekilaspun menoleh ke arah Rama.


"Aku bahkan gak bisa memanggilmu, padahal jarak kita dekat." Gumam Rama terlihat sedih melihat Anjani yang berjalan di depanya.


Seolah dejavu mengingat kejadian yang sama ketika masa sekolah yang hanya bisa berjalan di belakang Anjani tanpa berani menyapanya.


"Padahal aku sudah memutuskan." Gumamnya lagi.

__ADS_1


Namun, ketika ia hendak melanjutkan jalannya tiba-tiba saja Anjani menghentikan langkah kakinya hingga membuat Rama yang berada di belakangnya juga ikut berhenti. Anjani menoleh ke belakang lalu menatap datar ke arah Rama.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Ucap Anjani tiba-tiba dengan ekspresi datarnya.


Rama tersenyum simpul mendengarnya, ia tau kalau tak mungkin Anjani mengingatnya.


"Iya, waktu di dalam lift." Balas Rama tersenyum menatap Anjani.


Anjani terdiam menatap wajah Rama.


"Begitukah, ok." Mendapat jawaban tersebut Anjani memalingkan tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya.


"Tapi kenapa aku merasa kita saling kenal." Gumam Anjani begitu membalikkan tubuhnya, ia seolah tak yakin dan mencoba mengingat kembali soal Rama. Tampaknya Anjani merasa terganggu soal ekspresi Rama yang setiap kali menatapnya, seperti orang yang mengenal dirinya.


Kalau dia mengenalku kenapa dia tidak mencoba menyapaku? Aku kesal setiap kali dia menatapku begitu.


Tak lagi memperdulikan hal tersebut, Anjani melanjutkan langkahnya tanpa bertanya lebih jauh meski sedikit penasaran. Sedangkan Rama terlihat terdiam pada tempatnya dan memandang punggung Anjani yang mulai menjauh dari hadapanya dengan ekspresi agak bimbang.

__ADS_1


__ADS_2