
Anjani yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi antara suster Anna dan Rama, terlihat penasaran akan hal tersebut.
"Suster, laki-laki tadi seorang dokter?" Tanya Anjani begitu Rama keluar.
"Iya benar, beliau seorang dokter. Tapi.. beliau tidak bertugas disini."
"Siapa namanya?"
"Namanya Rama. Lebih tepatnya Rama Ardiansyah Putra, anak pemilik rumah sakit ini, sekaligus dokter yang tengah menangani anda."
Anjani terdiam sejenak. Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang.
Tatapan itu selalu dia tunjukan setiap bertemu denganku. Apa kita pernah bertemu ya? Aku bahkan tidak mengingat apapun. Padahal dia bilang tidak mengenalku, tapi kenapa dia menatapku begitu?
Tampaknya kali ini Anjani penasaran dengan sosok Rama, ia yang sejatinya seorang gadis yang cuek dan terkesan tak acuh, kini menaruh perhatianya pada sosok Rama yang berulang kali tak sengaja ia temui.
"Maaf bu, saya datangnya agak terlambat, soalnya tadi ada sedikit kendala." Kata Lea masuk ke dalam ruangan inap Anjani selepas ia mengurus administrasi pembayaran.
"Tidak apa." Balas Anjani singkat.
"Apa anda keluarga pasien?" Tanya suster Anna yang masih berada dalam ruangan pada Lea yang baru masuk.
"Ah iya benar, saya keluarga sekaligus wali untuk pasien."
"Kalau begitu tolong minta bantuanya ya! Pasien tidak boleh makan apapun dulu dalam beberapa jam, karena ini untuk pemulihan beliau. Karena dokter yang menangani beliau akan sedikit terlambat, jadi hanya ini yang bisa saya sampaikan. Untuk lebih jelasnya lagi, nanti akan di jelaskan oleh dokter Dana." Jelas suster Anna.
"Baik, terimaksih suster."
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi." Pamit suster Anna pada Anjani juga Lea lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Begitu suster Anna keluar, dan menempatkan mereka berdua pada ruangan yang luas tersebut. Anjani perlahan mencoba membangkitkan tubuhnya, di bantu oleh Lea yang sigap membantunya untuk duduk.
Ia menatap Lea yang kini persis berada di sampingnya.
"Lea, aku ada permintaan buat kamu!" Ucap Anjani tiba-tiba.
"Permintaan? permintaan soal apa ya bu?"
"Bisa tolong cari tahu soal dokter yang bernama Rama Ardiansyah Putra!"
Sejenak Lea terdiam mencoba mencerna nama tersebut.
"Baik, akan saya usahakan." Jawab Lea kemudian dan mengiyakan permintaan dari Anjani, meski ia sendiri baru mengenal nama tersebut.
...****************...
"Kenapa? ada yang kamu pikirin?" Tanya Johan pada sahabatnya tersebut.
Namun, hanya helaan nafas panjangnya yang terdengar untuk menjawab pertanyaan dari Johan.
"Kenapa sih? apa ada sesuatu di kamar cempaka no 27 itu? Sikapmu berubah semenjak dari sana."
"Aku.. " Rama tampak ragu untuk mengatakanya.
"Apa nih!, jangan bikin penasaran dong."
__ADS_1
"Tadi aku gak sengaja ketemu sama Anjani."
"Hah!"
Mendengarnya seketika mebuat Johan kaget.
"Maksudmu dia ada disini?" Kata Johan memastikan sambil menunjuk arah rumah sakit.
"Iya."
"Aish.." Dengus Johan.
"Jadi itu yang bikin kamu kepikiran dari tadi?"
"Em.." Jujur Rama.
"Sebenarnya kamu ini suka gak sih sama dia?"
Rama terdiam, ia tak tau harus menjawab apa. Karena ia sendiri tak yakin akan perasaanya.
"Dasar labil, cepat bereskan perasanmu itu. Capek tau gak sih ngelihat kamu gini terus." Ujar Johan menatap kesal Rama.
"Karena itu haruskah aku menemuinya! aku gak tau apa yang harus aku lakukan jika bertemu denganya, karena setiap kali bertemu denganya, aku selau ragu unutuk menyapanya."
"Aish.. repot amat nih anak. Temui dia dan ajak dia bicara dengan begitu kamu akan tau perasaanmu mengarah pada siapa dan untuk siapa." Kesal Johan.
"Begitukah..."
__ADS_1
"Kenapa jadi ragu gini sih, padahal kemarin kaya udah yakin banget buat keputusan, sekarang malah ragu lagi. Kalau kamu begini terus, yang ada kamu akan kehilangan semuanya."
Rama tak bisa membantah perkataan Johan, karena itu memang faktanya.