Hilang?

Hilang?
BAB 17 (Mimpi Buruk)


__ADS_3

Matahari mulai menutupi sinarnya, dengan datangnya bulan yang telah menerangi malam.


Tepat pukul 18.00, Anjani yang masih tertidur di tempat tidurnya tampak tenang dengan ekspresi wajah yang terlihat baik dari sebelumnya. Dan Lea yang masih setia mendampinginya, menunggunya dengan sabar hingga dirinya sadar sambil menyiapkan makanan untuknya.


Berada di lantai yang sama tempat tinggalnya saat ini, memudahkan Lea untuk merawat Anjani. Kegelisahanya tak bisa bohong melihat ekpresinya yang sedari tadi tampak tak tenang melihat Anjani yang tak kunjung bangun dari tidurnya.


"Pergilah.. cepat pergi, Ibu.. bilang cepat pergi dari sini" Ucapnya sambil memohon pada anaknya yang tengah berdiri tegak dengan ekspresi agak bengong.


"Ibu.. aku membunuhnya.." Ucap gadis tersebut dengan gemetar menatap Ibunya, ia mulai menangis dan terduduk lemas di hadapan ibunya.


Ibu yang melihat anaknya terduduk lemas dengan ekpresi kaget, mencoba menghampiri anaknya dengan terseret-seret menahan rasa sakit, lalu mengguncang tubuh anaknya agar anaknya kembali sadar, ia memeluknya untuk menenangkan anaknya.


"Tidak apa, tidak apa... kamu tidak bersalah, ibu yang salah jadi sadarlah.. ibu mohon pergilah dari sini." Ucap sang ibu menatap anaknya dengan tatapan kasihan.


"Sadarlah..." Teriak ibu frustasi.


Teriakan tersebut membangunkan Anjani dari tidurnya. Ia mengatur nafasnya yang terlihat tak beraturan setelah merasakan mimpi buruk tersebut.

__ADS_1


"Mimpi.. "Gumamnya sambil mengusap wajahnya dengan nafas yang masih tak beraturan.


"Oh ibu sudah bangun!." Ucap Lea melihat Anjani yang sudah bangun dari tidurnya ketika ia hendak mengecek kondisinya.


Masih di tempat tidurnya dengan kondisi yang tampak tak baik akibat mimpi buruk, Anjani menatap Lea yang masuk ke dalam kamarnya dengan tatapan setengah sadar.


"Kebetulan saya sudah menyiapkan makanan untuk ibu di atas meja makan." Ucap Lea lagi.


"Terimakasih, nanti aku makan, aku mau mandi dulu." Balas Anjani masih setengah sadar dengan nafas yang masih tersengal akibat mimpi buruk tersebut.


"Baik.. loh tapi wajah anda berkeringat, apa anda merasa sakit lagi?" Kata Lea melihat Anjani yang mengeluarkan banyak keringat di wajahnya dengan ekspresi khawatir.


Mendengarnya membuat Lea terlihat lega.


"Mimpi buruk?" Gumam Lea dalam hati, namun Lea seakan menyadari sesuatu begitu Anjani mengatakannya, ia terdiam sejenak tanpa berani bertanya lebih jauh.


"Apa mau saya bantu menyiapkan air mandinya?"

__ADS_1


"Tidak, aku bisa sendiri."


"Baik, kalau begitu saya keluar dulu."


"Em.. "


Anjani mencoba mengatur nafasnya kembali, ia mencoba meminum air yang tepat berada di sebelah tempat tidurnya agar lebih tenang, dan perlahan ia bangkit dari tempat tidur menuju ruang kamar mandi dengan terus mencoba menghilangkan mimpi buruk yang ia alami tadi. Tak hentinya ia menghela nafas panjangnya tanda untuk menenangkan hatinya.


...****************...


Waktu menunjukkan pukul 08.00 malam, dengan wajah yang tampak lelah dengan kondisi yang tampak sedikit tak bersemangat.


Rama berjalan dengan pelan menuju tempat tinggalnya.


Hari yang selalu melelahkan baginya yang berprofesi sebagai seorang dokter. Hampir setiap harinya ia harus lembur dan pulang malam hingga sedikit menguras kondisi tubuhnya.


"Tadi Johan tampak aneh, tiba-tiba menyuruh ketemuan dan bertanya soal berita. Memangnya ada apa? Apa cuma perasaanku doang ya?" Gumam Rama sambil terus berjalan dengan ekspresi yang agak bingung menyadari hal aneh pada sahabatnya.

__ADS_1


"Ah.. sudahlah.. " Ucap Rama tak lagi mempermasalahkannya.


Ting.. sebuah pintu lift terbuka, ia dengan segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift, namun tiba-tiba mengagetkan mata Rama yang melihatnya, sebuah momen tak terduga hingga membuatnya terpaku sejenak dengan apa yang di lihatnya.


__ADS_2