Hilang?

Hilang?
BAB 51 (Langkah Tegas)


__ADS_3

Jalan apa yang harus ia tempuh, dan langkah apa yang harus ia lakukan. Ia sadar bahwa dirinya saat ini di hadapkan pada sebuah keputusan yang sangat berat.


Beban pikiran yang selama ini ia pendam selama ini harus ia lakukan sebijak mungkin, agar kedepanya tak menimbulkan luka.


Rama mungkin tak akan pernah menyangka bahwa ayahnya akan mendukung semua keputusanya, karena selama ini ia merasa bersalah pada kedua orang tuanya perihal tentang dirinya yang masih belum bisa membereskan perasaanya.


...****************...


Flashback


Terjadi pertemuan berdua seorang laki-laki setengah baya dengan laki-laki muda di salah satu restoran. Pembicaraan mereka tampak santai dan terkesan akrab.


Dalam suasana yang terlihat bersahabat, baik dari suasana restoran dan makanan-nya, melancarkan isi pembicaraan mereka.


Wardana, yang merupakan ayah dari Rama kini tengah mengobrol dengan santai bersama Johan sahabat Rama yang sudah sangat ia anggap sebagai putranya sendiri.


Johan mungkin awalnya agak kaget ketika ayah Rama mengajaknya bertemu berdua, namun di samping itu ia juga jadi penasaran maksud dari ajakan tersebut yang tiba-tiba.


Hari dimana mamanya keluar dari rumah sakit adalah hari dimana ayahnya Rama mengajaknya bertemu. Meski ia hanya menduga perihal maksud dari ajakan tersebut, ia sama sekali tak menyangka jika tebakan yang ia maksud benar, kalau ayah Rama mengajaknya bertemu karena soal Anjani.


Ia mulai menceritakan hal tersebut sesuai yang ia tau, dan ia lihat selama ini. Selama ia menjelaskan, telihat ayah Rama menyimak penjelasan darinya dengan ekspresi yang sulit di tebak.

__ADS_1


Keheningan sejenak menyertai suasana di antara keduanya ketika penjelasan Johan selesai.


"Kenapa kamu gak pernah cerita sama om! Apa Rama yang melarangmu cerita?" Ucap Wardana kemudian setelah diam cukup lama setelah mendengar penjelasan dari Johan.


"Bukanya saya gak maut cerita om, hanya saja itu kan cerita lama, saya juga tak menyangka kalau Rama masih suka sama cinta pertamanya."


"Kalau seperti ini agak masuk akal, kenapa dia seakan sulit menjalin hubungan dengan perempuan, bahkan Diana yang dekat denganya saja juga sulit masuk ke hati anak itu.". Kata Wardana.


"Kira-kira apa kamu tau alasanya dia masih suka sama cinta pertamanya itu?" Tanya Wardana lagi.


"Saya sih kurang tau om, Rama cuma bilang dia ingin menebus rasa penasaranya, bisa di bilang dia hanya ingin dekat dengan Anjani, kalau menjalin hubungan lebih dari itu saya juga kurang tau." Jelas Johan


"Mungkin Rama akan marah sama saya karena cerita ini ke om, tapi mungkin ada baiknya juga om dengar ini, mungkin dengan begini om bisa bantu Rama, karena hanya om yang bisa menyadarkan Rama. Saya rasa sih, tuh anak hanya belum tau perasaanya saja." Seru Johan.


Wardana mengangguk faham maksud perkataan Johan. Ia tersadar akan Rama anaknya, merasa prihatin denganya yang selama ini menyembunyikan perasaanya.


"Terimakasih ya kamu sudah mau menceritakan ini ke om, soalnya om penasaran banget. Sebenarnya om sih awalnya gak ngeh, tapi melihat sikap anak itu, om jadi penasaran, karena itu om panggil kamu kesini."


"Iya om. Tapi.. apa tante Farah juga tau soal ini?"


"Nggak lah, om gak mungkin cerita soal ini ke mamanya Rama, nanti kalau om cerita soal ini, bisa-bisa dia langsung melamar Anjani lagi." Sanggah Wardana dengan cepat dan membuat keduanya terkekeh bersama.

__ADS_1


...----------------...


Di dalam tempat makan, terlihat keluarga Wardana yang tengah makan malam. Melihat Rama dan ayahnya telah bergabung dengan Farah dan Sahila di meja makan, menandakan isi pembicaraan keduanya yang telah usai setelah cukup lama mereka berdiskusi.


Di tempat makan yang hangat seperti biasanya, keluarga besar dari Wardana itu terlihat menikmati makan malam mereka seperti biasa, tak ada kecanggungan dan terkesan nyaman.


Mungkin yang tampak berbeda dari biasanya adalah suasana dari Sahila, adik Rama yang sedari tadi merasa penasaran dengan pembicaraan kakak dan ayahnya.


"Ayah sama kakak lagi bicarain apa sih? kok lama banget ngobrolnya di ruang kerja ayah?" Tanya Sahila kemudian membuka obrolan.


"Kamu ini dari tadi kok nanyain itu aja, belajar gak kepo gitu lho sama urusan orang dewasa." Saut Farah, menimpali perkataan anaknya.


"Aiish mama, aku kan juga sudah dewasa, jadi boleh dong tanya." Balas Sahila tak merasa dirinya salah.


"Ayah gak ngobrolin sesuatu, hanya sedikit berdiskusi soal pekerjaan, kenapa! kamu mau jadi dokter juga sama seperti ayah dan kakakmu."


"Iihh ogah, yaudah kalau gitu aku gak akan tanya lagi." Balas Sahila cepat sambil bergidik gak mau.


Melihat reaksi Sahila yang terlihat enggan, Rama hanya menyunggingkan senyum kecilnya.


Pembicaraan dengan ayahnya yang berjalan lancar sedikitnya membuat ia lega dan jadi tau apa yang harus ia lakukan nanti. Meski belum bisa menceritakan sama mama dan adiknya, Rama hanya bisa berharap sama dirinya sendiri agar lebih tegas pada perasaanya sendiri dan mungkin bisa memberikan kabar baik untuk kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2