
Di ruang kepala sekolah, terdapat dua siswa yang tengah mendengar intruksi dan masukan kepala sekolah. Keduanya mendengar dengan seksama setiap apa yang di ucapkan oleh kepala sekolah.
"Kalian adalah kebanggaan sekolah, saya harap kalian mau bekerja sama demi membawa nama baik sekolah dalam olimpiade kali ini." Ujar kepala sekolah pada dua siswa yang duduk di depanya.
"Kami akan usahakan pak." Jawab salah satu siswa yang bernama Rama tersebut.
"Iya, terimakasih pada kalian berdua yang selalu mengharumkan nama sekolah ini, dan bapak harap kalian berdua sukses untuk olimpiadenya nanti." Ujar kepala sekolah dengan senyum cerianya pada kedua siswa kebangganya.
"Iya." Jawab Rama dengan senyum ramahnya.
Siswi yang juga di panggil berbarengan dengan Rama, yaitu Anjani hanya diam tak memberikan respon apapun sedari tadi. Di dalam ruangan kepala sekolah yang cukup luas dengan hanya tiga orang itu, ia hanya diam tak memberikan komentarnya ataupun ikut menimpali isi pembicaraan.
"Anjani, kamu tidak masalah kan kalau di pasangkan dengan Rama pada olimpiade kali ini?" Tanya kepala sekolah pada Anjani yang sedari tadi hanya diam.
"Iya." Dengan cepat Anjani menjawabnya tanpa ada penolakan.
__ADS_1
"Baguslah, bapak sempat khawatir kamu tidak akan nyaman dengan ini. Meski begitu bapak minta pengertian dan kerjasamanya ya?!" Ucap kepala sekolah lagi.
"Baik." Anjani hanya bisa menyetujuinya tanpa berani menolak ataupun membantahnya. Karena baginya itu sesuatu yang sia-sia meskipun ia keberatan sekalipun.
"Bapak berterimakasih lagi pada kalian berdua karena kalian sudah berkali-kali memberikan sebuah prestasi pada sekolah ini." Pak Hari dengan tulus memberikan ucapan terimakasihnya pada dua siswa kebanggaan sekolahnya, senyum merkahnya sedari tadi menandakan betapa ia bangganya pada Rama dan juga Anjani.
...
Semua tau bahwa Rama dan Anjani akan selalu menjadi andalan bagi sekolah "Bina Harapan Bangsa", sekolah mereka. Keduanya sama-sama murid terpandai di kelasnya masing-masing. Untuk murid terpandai se sekolahnya, mereka seakan saling bersaing satu sama lain. Nilai mereka saling mendekati dan terkadang saling mendahului layaknya sebuah kompetisi.
Meski mereka mendapat perhatian karena prestasi baiknya, namun kehidupan dan karakter keduanya sangat bertolak belakang.
Bahkan kehidupan keluarganya juga berbeda bagi keduanya, Rama yang selalu mendapatkan kasih sayang dan dukungan dari kedua orang tuanya, sedangkan bagi Anjani ia seolah tak butuh akan hal itu, mengingat bagaimana ia begitu membenci kedua orang tuanya.
"Ram." Panggil seseorang dengan akrabnya melihat sosok Rama yang keluar dari ruang kepala sekolah.
__ADS_1
Karena merasa namanya di panggil, dengan segera Rama mengedarkan pandanganya pada arah suara tersebut dan mendapati Johan,sahabat terdekatnya yang tengah berjalan ke arahnya.
Sedangkan di sisi lain, Anjani yang merasa sudah selesai mendapat arahan dari kepala sekolah berlalu begitu saja tanpa berpamitan pada Rama ataupun sekedar menyapa Johan.
Melihat itu, Rama tak bisa berbuat apapun karena ia juga merasa canggung untuk menyapa pada Anjani, karena mereka tak saling dekat satu sama lain. Bahkan, baginya ini adalah pertama kalinya ia bertemu secara langsung dengan Anjani meski mereka satu sekolah.
"Kali ini kamu bakal di pasangkan sama Anjani?" Tebak Johan melihat Rama keluar bersama Anjani dari ruang kepala sekolah.
"Iya, tapi apa kamu kenal sama Anjani?"
"Gak sih, cuma tau aja. Dia kan anak paling pintar disini sama seperti kamu."
"Oh.!"
"Kenapa? pasti kamu kesusahan kan buat deket sama dia!"
__ADS_1
"Em.. iya sih karena aku bingung gimana cara mengajaknya bicara." Ucap Rama sambil jalan menjauh dari ruang kepala sekolah.
"Itu sih pasti, karena anaknya cuek banget udah gitu pendiam dan dingin lagi. Semangat deh." Johan menepuk pundak sahabatnya dengan harapan memberi semangat pada sahabat dekatnya. Sedangkan Rama hanya bisa tersenyum simpul mendengarnya sambil mengingat kembali sosok seorang Anjani.