
Di sebuah apartemen-nya yang luas nan besar tersebut, ia yang di temani sang asisten pribadi sekaligus keluarga baginya terlihat memasuki ruang apartemen-nya dengan kondisi yang terlihat tak stabil.
Dengan keringat yang hampir membasahi wajah juga tubuhnya, di tambah nafas yang tak beraturan membuatnya sangat kesulitan bernafas.
Ia yang tiba-tiba merasa sesak di hari ketika menghadiri peluncuran produk terbarunya, juga di tengah peninjauannya membuat ia memundurkan semua jadwal yang sudah di buat dan pulang lebih awal.
"Apa ibu yakin tidak mau ke rumah sakit?" Tanya Lea melihat kondisi Anjani yang terlihat kesakitan.
"Aku tidak apa, mungkin ini karena aku masih merasa sedikit canggung dengan suasana kota ini." Ucapnya menatap Lea yang tengah menghawatirkan kondisi Anjani dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat.
"Obat yang biasa ibu minum dimana? setidaknya ibu harus meminum obat agar kondisi ibu baikan." Ucap Lea kemudian.
"Obatnya ada di laci kamarku." Jawab Anjani dengan tubuh lemasnya.
Setelah Anjani memberitahukan letak obatnya, dengan segera Lea berlalu untuk mengambil obat tersebut yang berada di dalam kamar Anjani.
Ketika Lea tengah berada di kamarnya untuk mengambil obat, ia yang kini tengah bersandar di atas sofa tampak sedikit menahan dengan sekuat tenaganya untuk menahan kesakitanya. Nafasnya semakin tersengal, dan keringatnya semakin bercucuran membasahi wajah mulusnya.
"Saya sudah ambilkan minum, silahkan diminum bu obatnya." Ucap Lea yang terlihat makin panik begitu melihat kondisi Anjani yang nampak makin tak baik.
Lea mencoba membantu Anjani bangun agar dengan segera meminum obatnya.
Perlahan dengan tubuhnya yang lemah, Anjani mencoba bangun dari sandaranya dan meminum obat yang sudah di bawa oleh Lea.
__ADS_1
"Gangguan panik ibu kambuh lagi setelah sekian lama tak mengalaminya, dan lagi semenjak ibu datang ke sini! Apa tidak sebaiknya kita kembali saja ke new york?" Kata Lea yang sangat menghawatirkan kondisi Anjani.
Mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Lea, sejenak membuat Anjani terdiam dan merenungkan perkataanya.
"Aku tidak tau kalau aku masih kesulitan menghadapinya, padahal selama ini aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk melupakan hal itu." Anjani tersenyum getir ketika mengucapkanya.
"Aku ingin melawan rasa takutku, karena itu aku datang kemari. Tapi.. aku tidak menyangka ternyata hatiku masih belum siap untuk menghadapinya." Anjani tersenyum menatap Lea yang tepat berada di depanya.
"Ibu tidak perlu memaksakan, saya rasa anda sudah berjuang sebisa yang anda bisa selama ini." Kata Lea memberi kata semangat.
Anjani tersenyum mendengarnya, menatap lurus pada asisten pribadinya yang sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri. Sama-sama seorang yatim piatu, membuat keduanya saling bergantung satu sama lain.
"Terimakasih, aku kuat karena ada kamu. Aku tidak tau kalau aku tidak ada kamu di sisiku, mungkin selamanya aku terkurung dari keterpurukan yang membelengguku."
"Saya yang seharusnya sangat berterimakasih pada anda, karena berkat anda saya bisa berada di posisi seperti ini dan.... juga saya bisa mempunyai sebuah keluarga."
Lea tersenyum simpul mendengarnya.
"Maafkan saya."
"Yah sudahlah.. tolong papah aku ke kamar, aku ingin istirahat sebentar."
"Baik."
__ADS_1
...****************...
Di arah yang berlawanan, berada di sebuah restaurant yang menampakan dua sahabat yang tengah bertemu sambil mengobrol di tengah kesibukan mereka.
"Kenapa sih?" Rama sedikit terheran dengan sikap Johan yang sedari tadi menatapnya.
"Ehem.. gak kok, hanya merasa kagum." Elaknya dan mencoba tersenyum menatap Rama.
"Apa'an sih bikin geli aja."
'Jadi dia belum tau?' Gumam Johan dalam hatinya.
"Pasti ada apa-apa kan?" Selidik Rama melihat tingkah sahabatnya yang terlihat tak seperti biasanya.
"Gak kok, hanya saja aku mau bilang kalau anak-anak pada chat kalau mau ketemu, apa kamu bisa?"
"Kapan?"
"Nah.. itu.. aku masih belum tau! orang baru usulan."
"Yah kasih kabar aja kalau sudah yakin waktunya, aku akan cocokan sama jadwalku." Ucap Rama.
"Ok!"
__ADS_1
Sebenarnya Johan mengajak Rama ketemuan, hanya ingin memastikan soal berita tersebut. Berita tentang kedatangan Anjani yang tengah berada di kota ini, ia ingin memastikan apakah berita tersebut sudah sampai ke telinga Rama.
'Dan sepertinya berita itu belum sampai padanya' Gumam Johan, dan entah kenapa ia merasa sedikit lega mendengarnya.