Hilang?

Hilang?
BAB 47 (Kebahagiaan Kecil)


__ADS_3

Sesuai dengan janji yang sudah di katakan oleh Anjani sebelumnya, hari ini ia dan Lea akan menuju ke arah Bandung untuk menuju ke tempat panti asuhan Pertiwi, tempat Lea tumbuh dan besar selama ini.


"Kamu masih ingat soal jalannya."


"Saya sedikit mengingatnya, mungkin karena sudah lama tidak datang kesana, agak bikin bingung juga, setidaknya saya masih sedikit mengingat tentang jalan menuju ke panti asuhan."


"Berapa lama kamu tidak datang kesana?"


"Mungkin hampir 10 tahunan. Ah, saya gak yakin juga sih, soalnya saya agak lupa soal itu, mungkin karena sudah cukup lama saya tidak berkunjung ke sana lagi."


"Memangnya usia berapa kamu keluar dari panti asuhan?"


"Saat usia 18 tahun."


Perjalanan yang cukup panjang dan cukup memakan waktu yang melelahkan. Karena banyak hal yang berubah, mulai dari bangunan dan jalan yang mengitari sekitarnya, agak sedikit membingungkan bagi Lea, hingga beberapa kali berhenti untuk bertanya pada orang sekitar.


Anjani, yang tak pernah melakukan perjalanan ke kota bandung sebelumnya, tampak sedikit merasa kagum. Merasa kagum dengan jalan yang mereka lewati sekarang, yang memperlihatkan pemandangan yang indah dan juga asri.


Berada sedikit menepih dari kota, panti asuhan yang cukup sederhana ini ternyata berada di tengah-tengah sebuah hutan dan agak jauh dari permukiman warga sekitar. Panti asuhan Pertiwi, disinilah Lea di besarkan dan tumbuh menjadi lebih dewasa.

__ADS_1


Suasana yang hangat dengan penuh kegembiraan di antara para anak-anak penghuni panti begitu Lea dan Anjani berkunjung ke sana. Kehangatan menyambut mereka yang baru datang dari para penghuni panti asuhan Pertiwi.


Kehangatan yang di tujukan oleh pengurus dan para anak-anak panti, tampaknya membuat Anjani terenyuh. Ia beberapa kali memperlihatkan senyum tipisnya pada anak-anak panti yang tengah mengajaknya bicara.


"Terimakasih sudah mau berkunjung ke panti kami." Ucap ibu Kasih, pengurus panti asuhan Pertiwi, dengan ramah dan hangat menyambut kehadiran Anjani dan Lea.


"Iya, bu. Saya juga berterimakasih karena ibu sudah mau menyambut kami." Balas Lea.


Anjani hanya bisa memberikan senyuman tipis di sudut bibirnya, karena ia tak bisa membuka obrolan layaknya Lea yang sangat mudah bergaul.


"Oh iya, beliau atasan saya, ibu Anjani namanya. Beliau datang kemari karena ingin memberikan bantuan pada panti asuhan ini, sekaligus berkunjung kemari." Kata Lea kemudian, yang memperkenalkan sosok Anjani pada ibu Kasih.


"Iya, sama-sama." Balas Anjani kemudian, dan membalas uluran tangan tersebut.


Ada sedikit kebahagiaan kecil di sudut hatinya, melihat para anak-anak yang terlihat bersuka cita dengan melihat baju baru dan makanan pemberian darinya.


Kebahagiaan kecil yang terlihat menyejukkan hatinya tersebut, tampaknya baru pertama kali Anjani rasakan, ia tak pernah bertemu dengan mereka dan mencoba untuk datang ke tempat seperti ini sebelumnya.


Tempat para anak-anak tumbuh besar yang telah kehilangan orang tua dan keluarganya. Sungguh tempat yang layak bagi mereka yang telah kehilangan keluarga, karena setidaknya mereka tak tinggal dan hidup di jalanan.

__ADS_1


Anjani sejenak terpaku melihat kebahagian para anak-anak panti. Apa yang terjadi jika ia tumbuh di panti asuhan, akankah ia bisa memberikan ekspresi ceria dan bahagia seperti yang di perlihatkan para anak-anak disini.


Karena dari kecil hingga ia tumbuh dewasa seperti saat ini, ia belum sekalipun membuat ekspresi selepas itu layaknya para anak-anak disini, karena ekspresi yang ia tunjukkan selalu datar dan dingin seperti tak ada nyawa di dalamnya.


Bagaimana ekspresiku ya.. jika aku membuat ekspresi seperti mereka. Aku bahkan lupa caranya tertawa.


...****************...


Berada di tempat yang berbeda, Rama yang kini tengah berada di dalam apartemenya tampak mengingat tentang hal yang di tanyakan oleh Anjani sebelumnya.


Jurnal? apa yang di maksud dengan hal tersebut, dan jurnal apa yang di maksud olehnya.


"Andai aku bisa menanyakan lagi padanya." Gumam Rama menyayangkanya.


Sedikit lagi, bisakah kita sedikit lebih dekat. Berbicara, mengobrol, menyapa, bercanda, dan bahkan menegur, akankah hari itu akan datang.


Helaan nafas panjangnya, menyudahi rasa frustrasinya. Ternyata tak begitu mudah untuk mendekati seseorang yang dingin seperti Anjani, penuh dengan tantangan dan juga kesabaran. Menyocokkan mood dan timing yang pas setiap kali ingin berbicara denganya.


"Aku harap dia datang di acara reuni." Harap Rama pada Anjani, dan menyudahi renunganya.

__ADS_1


__ADS_2