
Mencintai seseorang itu sebuah hal yang wajar bagi semua orang, tak ada yang salah dengan hal tersebut, bahkan tak ada yang bisa menyalahkanya juga, karena cinta datang tanpa tau di kira. Bertahan atau tidak, hanya waktu yang bisa menjawabnya, berhasil atau tidak juga waktu yang akan menjawabnya.
Perasaan menyukai seseorang itu sangat mendebarkan bagi sebagian orang, namun bisa juga sangat menegangkan. Dilema mencintai seseorang yang tak tau akan perasan orang yang menyukainya, akan menjadi tantangan bagi orang yang menyukainya untuk bisa menembus batas tersebut, dan mungkin.. itu juga yang sedang di alami oleh Rama dan Diana.
...****************...
Pukul 21.00 malam, bertempat di sebuah resort mewah bergaya klasik, terlihat sebuah perkumpulan antar beberapa orang.
Canda, tawa mengelilingi mereka yang tengah asik berkumpul. Baik pria maupun wanita, semua berbaur dengan santainya menikmati pemandangan di sekitar resort yang menampilkan keindahan di malam hari.
Resort milik salah satu teman sekolah Rama itu, kini di gunakan sebagai tempat berkumpulnya para teman-teman masa sekolahnya dalam rangka reuni sekolah.
Meski semua terlihat bahagia, hanya Rama yang merasa sedikit murung, mungkin ini karena ia yang tak bisa bertemu dengan Anjani lagi setelah hari itu, dan ia yang jadi tak bisa menyampaikan lagi soal rencana reuni sekolah.
"Kenapa sih! dari tadi menghela nafas mulu." Tegur Johan menghampiri Rama yang sedari tadi diam.
"Bukan apa-apa, tapi aku bener-bener gak nyangka kalau kali ini juga jadi ajang reuni teman kuliah juga."
"Wajar sih, ini tuh karena si Angga yang bikin acaranya, dia kan juga kenal sama teman-teman kuliah kita dulu, makanya jadilah seperti ini."
"Anehnya banyak yang suka ya! aku kira akan jadi canggung." Lanjut Rama.
"Pasti ini karena banyak dari mereka yang dekat dan menjalin hubungan, yah.. bukanya itu bagus? kan enak kalau gak canggung, jadi lebih natural pestanya." Seru Johan lagi.
Rama mengangguk setuju dengan perkataan Johan.
Karena tak hanya menjadi ajang reuni teman SMA, tentunya pasti akan ada Diana yang merupakan teman kuliah dan satu angkatan dengan Rama dan Johan. Dalam pertemuan kali ini pasti akan menjadi sesuatu yang sangat mendebarkan bagi keduanya, baik Rama maupun Diana itu sendiri. Bahkan, kehadiran keduanya telah di nanti oleh banyak teman-temanya.
"Sudah jam 9 kenapa aku belum lihat Diana ya? kamu tau gak kalau dia akan datang?" Tanya Johan kemudian.
"Gak tau, aku aja baru tau kalau reuni ini gabungan." Jujur Rama.
"Aku coba tanya anak-anak yang disana deh, ikut nggak?.." Ajak Johan.
"Duluan deh, soalnya aku mau ke toilet sebentar. Nanti aku nyusul." Balas Rama.
"Yaudah kalau gitu, aku kesana dulu ya." Kata Johan merujuk ke arah samping kiri tempatnya berdiri.
__ADS_1
Rama mengangguk dan membiarkan Johan pergi dari hadapanya, lalu berjalan ke arah yang berbeda dengan Johan.
......................
Kamu tau, jika pertemuan tak sengaja di sebut kebetulan, maka pertemuan selanjutnya di sebut dengan takdir.
Apa kamu percaya dengan hal tersebut? Mungkin itu yang sedang di fikirkan oleh seseorang. Bukan hanya satu kali, tapi hampir beberapa kali ia secara kebetulan bertemu denganya, dan bukankah itu sudah menunjukkan hal yang pasti kalau hal tersebut adalah sebuah takdir.
Menatap dengan mata tak percaya, mematung sejenak dengan perasaan bercampur, dan di satu sisi ia merasa lega. Mungkin, baginya ini adalah sebuah takdir yang benar-benar terjadi pada dirinya juga pada dia yang saat ini berada di depan matanya.
Dengan langkah pelan dengan tekad yang kuat, ia melangkahkan kakinya untuk menghampirinya. Seolah ia telah menantikan momen seperti ini untuk dapat bertemu denganya.
Ia yang awalnya tak ada gambaran dapat bertemu dengannya lagi, tak percaya bisa melihatnya di tempat tak terduga.
"Selamat malam." Sapa Rama pada Anjani yang tengah berdiri sendirian.
Mendengar namanya di panggil, Anjani mengedarkan pandanganya dan sedikit terkejut melihat Rama ada di depan matanya.
"Saya benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan anda disini, apa anda datang kesini karena tau ada reuni sekolah?.." Kata Rama sambil tersenyum menatap Anjani.
"Tidak, saya datang kesini karena ada urusan lain." Balas Anjani kemudian.
"Ah, kalau begitu.. apa anda mau bergabung dengan kami, ada banyak teman satu sekolah kita dulu, mungkin anda mau bertemu dan menyapa mereka." Tukas Rama lagi.
"Aku bahkan tidak mengenal mereka." Tegas Anjani dengan wajah datarnya.
Rama agak sedikit tertegum mendengarnya, dan membuatnya sadar kalau Anjani tak begitu dekat dengan teman-teman sekolahnya dulu.
"Lalu.. apa anda mau pulang sekarang??.." Tanya Rama dengan wajah berharap.
"Iya."
Seketika raut wajah Rama terlihat murung, namun dengan cepat ia menyembunyikanya dengan senyuman kecil di sudut bibirnya, dan hal tersebut tak luput dari pandangan Anjani.
"Ada yang ingin anda bicarakan dengan saya." Ucapnya kemudian.
Rama tersentak dan menatap wajah Anjani.
__ADS_1
"Ah, itu.. iya ada." Jawab Rama agak sedikit tergagap.
Sejenak keheningan menyertai keduanya.
"Sebenarnya, saya hanya bilang soal jurnal foto yang waktu ituanda tanyakan. Kata ayah saya, dia tidak ada maksud apapun." Ucap Rama kemudian.
Mendengar hal tersebut, entah mengapa membuat Anjani terdiam.
"Anjani.." Panggil Rama dengan lembut dengan tatapan penuh tekad dari dirinya.
Anjani menatap Rama begitu namanya di panggil, ini adalah kali pertama namanya di panggil olehnya.
"Tunggu.." Sanggah Anjani yang merasa arah pembicaraan ini akan lebih serius.
"Meski anda tidak suka, saya benar-benar harus mengatakanya. Saya.. menyukai anda." Meski ada sedikit jeda di kalimatnya, kali ini Rama berhasil mengatakan perasaan yang selama ini terpendam cukup lama di dalam hatinya.
Mendengar ungkapan itu, Anjani hanya bisa diam dan menatap Rama tak percaya.
"Di rumah sakit, bukanya saya sudah pernah memperingatkanya pada anda."
"Saya tau, tapi setidaknya saya harus mengatakanya meski itu hanya sekali." Jawab Rama tersenyum menatap Anjani.
Anjani menghela nafas kesal. Ia lalu menatap Rama, dan melangkah lebih dekat ke arahnya.
"Baiklah, saya juga penasaran, karena itu...." Anjani menarik kerah baju rama, dan kemudian mendaratkan sebuah ciuman di bibir Rama.
Rama sedikit membeku dengan apa yang di alaminya sekarang, sebuah ciuman yang mendadak dari Anjani yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Anjani melepaskan ciumanya, ia yang tak merasakan apapun setelah melakukanya, sangat berbanding terbalik dengan Rama yang masih agak kaget.
"Sepertinya aku sudah dapat jawabanya, karena itu.. a.."
Belum sempat Anjani melanjutkan kalimatnya, Rama menariknya dalam pelukanya, lalu menciumnya. Kali ini lebih dalam dan penuh perasaan.
Meski Anjani berulang kali mencoba mendorong tubuhnya, Rama tak bergeming dan malah memperdalam ciumanya.
Dalam pemandangan yang indah antara keduanya, ada sepasang mata yang tak sengaja melihat adegan itu. Sorot matanya tampak kaget dan tak percaya.
__ADS_1