Hilang?

Hilang?
BAB 16 (Awal Sebuah Hubungan)


__ADS_3

Jika bisa memilih pasti semua menginginkan untuk bisa mendapatkan hidup yang lebih baik. Berada dalam keluarga yang bahagia, orang tua yang hangat dengan penuh kasih sayang juga teman yang selalu support dan selalu berada di sisi kita.


Itu adalah harapan semua orang, namun tak semua bisa mewujudkannya, karena tak semua hal yang di impikan bisa terwujud hanya karena kita menginginkannya. Sebuah harapan yang indah hingga sangat sulit untuk sekedar membayangkanya saja.


Tak semua punya hidup yang bahagia, begitulah Lea dan Anjani menjalani hidupnya. Berada di situasi sulit yang sama membuat keduanya saling bergantung satu sama lain.


...****************...


7 Tahun Lalu, New York Amerika Pukul 10.00 Pagi.


Cuaca cukup terik di pagi hari karena kebetulan sudah memasuki musim panas. Semua orang terlihat membatasi aktivitasnya di luar begitu juga dengan Anjani yang pada saat itu tinggal di kota tersebut.


Menjalani hidup seorang diri di negara yang asing tak membuatnya kesulitan. Meski pertama kalinya ia sulit beradaptasi dengan lingkungan yang baru baginya, namun perlahan semakin ia memahaminya semakin memudahkan ia beradaptasi dengan lingkungan barunya.


Berada di luar negeri dan tinggal di sana nyatanya tak membebani dirinya, justru membuat ia merasakan kenyamanan, karena banyak hal yang bisa ia pelajari selama berada di sana, ia berkembang dan mendapat banyak pengalaman baru selama tinggal dan menetap di sana.


Dan pada hari ini adalah tahun ke 5 baginya yang telah lama tinggal di amerika. Menjalani masa rantaunya di negeri orang untuk merubah kehidupanya, Anjani berulang kali mengalami keputus asahan. Meski begitu, ia bisa bertahan hingga di titik ini karena ia yakin akan kemampuanya.


Disinilah ia pertama kali bertemu dengan Lea, asisten pribadinya, orang kepercayaannya juga keluarga baginya.

__ADS_1


"What are you doing? Can I help You?" Ucap Anjani pada seorang perempuan yang tengah meringkuk ketakutan di samping tempat sampah dengan penampilan yang tampak berantakan.


Saat itu ia tengah pulang dari salah satu minimarket terdekat dari rumahnya dan kebetulan tak sengaja melihat perempuan yang terlihat putus asa sambil menangis sesegukan di sisi tempat sampah.


"Hikss.. hikss.. " Jawab perempuan tersebut sambil menangis sesegukan tak sanggup untuk menjawab.


"Are you okay?" Tanya Anjani kembali.


Perempuan tersebut menggeleng menandakan kalau ia tidak baik-baik saja. "Help me.." Jawabnya kemudian sambil terus menangis dengan gestur ketakutan menatap Anjani.


Melihat itu Anjani mencoba menenangkanya, dan mencoba membuka obrolan. Namun bukan jawaban yang ia dapat melainkan tangisan yang terus mengalir dari kedua air mata gadis tersebut.


"Jadi anda mahasiswi disini, dan anda kehilangan semua barang berharga anda karena habis di tipu oleh teman yang pernah anda tolong dan anda juga nyaris jadi korban pelecehan!." Kata Anjani begitu ia mendengar kronologi dari permasalah gadis tersebut yang sudah bisa di ajak bicara olehnya.


Gadis tersebut mengangguk tanda membenarkan ucapan Anjani.


Anjani mengela nafas panjang, merasa iba pada gadis tersebut.


"Kalau begitu kita harus lapor polisi agar mereka di hukum."

__ADS_1


Gadis tersebut mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk dan menatap wajah Anjani.


"Akan saya bantu." Ucap Anjani menatap wajah gadis tersebut.


"Te- terimakasih." Ucapnya terbata.


"Nama anda Lea kan?"


"Iya benar nama saya Lea."


"Saya sudah memanggil polisi kesini, apa anda keberatan?"


"Ti.. tidak."


"Tenang, saya tak akan menyakiti anda."


"Terimaksih." Ucapnya sambil mengusap air matanya.


Kemalangan membawa keduanya dalam hubungan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Keakraban keduanya karena pernah mengalami luka yang hampir sama.

__ADS_1


Saling bergantung, saling membantu, saling memahami dan juga saling menghormati satu sama lain, begitulah jalinan hubungan keduanya hingga kini meski keduanya di pisahkan pada jarak usia yang sedikit jauh, yaitu 5 tahun.


__ADS_2