Hilang?

Hilang?
BAB 35 (Lebih Dekat Denganya)


__ADS_3

"Yah, ayah kok memberi keputusan mendadak begini sih?"


"Kenapa? bukanya kamu mau ya"


"Kapan aku bilang begitu? aku kan gak pernah bilang gitu?"


"Emm... gini aja, kamu temui dia sebagai dokter pengganti sementara, gantikan ayah sebentar. Hanya sehari ok!"


Rama benar-benar tidak mengerti jalan pikiran ayahnya, dia membuat keputusan yang mendadak tanpa meminta persetujuan darinya.


Kenapa ayah bersikap begini ya? Ayah kan gak tau soal Anjani.


Rama berfikir bahwa ayahnya seolah memberi jalan untuknya lebih dekat dengan Anjani, padahal ia tak pernah menceritakan perihal Anjani pada ayah maupun mamanya. Hanya pada Johan ia menceritakannya.


Apa aku salah? - Batinya seolah sadar akan sikap ayahnya.


Dan pada hari ini, dia terpaksa mengambil cuti sehari dari rumah sakit tempat biasa dia bertugas untuk melakukan tugas di rumah sakit milik ayahnya karena mendapat permintaan dari ayahnya.


Dan lebih tidak pernah ia bayangkan, ia harus menjadi dokter penanggung jawab pasien cempaka no 27, ruangan milik Anjani di rawat. Meski hanya sementara dan sehari, namun tetap saja Rama merasa agak bimbang untuk melakukanya. Ia akan bertemu dengan Anjani, cinta pertamanya sekaligus seseorang yang telah menggoyahkan hatinya hingga membuatnya bertahan pada perasaanya selama ini.


Tidak biasanya ia bersikap begini, karena sebagai seorang dokter pasti tidak akan bisa memilih pasien, siapapun pasienya akan tetap harus ia layani. Namun, entah kenapa ia jadi bersikap serba salah dan kikuk untuk bertemu seorang pasien.

__ADS_1


Berdiri di depan pintu ruangan Anjani, berulang kali Rama menenangkan hatinya. Mencoba menarik nafas lebih dalam dan membuangnya perlahan.


Kreekk...


Suara pintu terbuka dengan memperlihatkan pasien yang tak lain Anjani tengah berdiri menghadap jendela dengan tatapan lurusnya.


Rama menatap canggung Anjani yang tengah berdiri di depanya tersebut.


"Maaf, hari ini dokter Dana ada keperluan, jadi saya yang menggantikan beliau untuk sementara." Ucap Rama begitu Anjani berbalik menghadap ke arahnya.


Tak ada jawaban, Anjani hanya menatap dalam diam Rama yang tengah berdiri di depanya.


"Anda anak dari dokter Dana?" Kata Anjani kemudian.


"Iya benar. Saya dokter Rama anak dari dokter Wardana."


"2 hari lagi, tidak.. sepertinya 3 hari lagi. Dokter Dana bilang aku boleh pulang dari rumah sakit. Apa aku benar?"


"Ah.. iya benar, saya dengar juga seperti itu."


"Kalau begitu anda ingin berbicara denganku?"

__ADS_1


"Eh.." Rama terlonjak kaget menatap Anjani. Ekspresinya bingung mendapat pertanyaan itu.


"Rama itu nama anda kan?" Tanya Anjani lagi.


"Iya benar, itu nama saya."


"Apa anda mengenal saya?"


Rama terdiam, ia terlihat kesulitan dalam menjawab.


"Anda pasangan saya waktu lomba olimpiade IPA di SMA kan?" Ujarnya kemudian melihat Rama yang tak kunjung menjawab pertanyaanya.


Begitu mendengar Anjani yang sudah mengingatnya, membuat Rama tak bisa berkata-kata. Ia yang datang ingin mengecek kondisinya, tiba-tiba saja di kagetkan pada pertanyaan ini. Ia berdiri mematung di tempatnya dengan ekspresi terpaku menatap Anjani.


Di sisi lain, Anjani yang sedari tadi berdiri di dekat jendela, perlahan melangkah menghampiri Rama yang sedari tadi berdiri di samping ranjangnya.


"Apa.. " Anjani menjeda ucapanya.


"Anda menyukaiku?" Ucapnya lagi tepat di depan Rama.


Tentu saja perkataan tersebut membuat Rama tersentak. Ia tak menyangka akan mendengar pertanyaan tak terduga seperti ini. Apalagi itu di ucapkan oleh Anjani sendiri.

__ADS_1


__ADS_2