Hilang?

Hilang?
BAB 44 (Sebuah Takdir)


__ADS_3

Terkadang, hal yang di harapkan seseorang tak berjalan sesuai yang di harapkannya. Jika hal yang mereka harapkan tak sesuai, apa yang akan mereka lakukan?


Dalam harapan tersebut, akan ada seseorang yang terluka dan merasa tersakiti. Akan mengarah pada siapa takdir itu?, hanya waktu yang bisa menjawabnya.


...****************...


"Kamu tidak ada kemajuan sama sekali dengan Rama? Padahal mama berharap kamu bisa lebih dekat denganya." Ujar mama Diana.membuka obrolan di sela waktu senggang mereka.


"Aku kan sudah dekat denganya, mau sedekat apalagi." Balas Diana.


"Maksud mama, dengan sebuah hubungan yang lebih jelas dan serius seperti papamu bilang."


Diana terdiam tak tau harus menjawab apa, karena ia juga tidak bisa berbuat apapun melihat kenyataan itu, meski menginginkanya pun, ia tak terlalu berharap banyak pada hal tersebut.


"Aku kan gak bisa memutuskan semauku, lagian aku juga gak yakin kalau Rama juga menyukaiku.."


Metha menatap sedih wajah anaknya, seakan merasakan kesedihan yang sama seperti yang di rasakan oleh Diana.


"Kalau dia gak maju, kamu yang harus maju." Ucap Metha memberi semangat.

__ADS_1


"Maju!, aku gak yakin soal itu." Ujar Diana agak gak percaya diri.


"Kalau kamu maju, kamu jadi tau perasaanya. Yah.. terkadang kita memang harus sedikit membuang ego dan harga diri kita untuk meyakinkan suatu hal." Ujar Metha.


"Mama tau ya kalau aku suka sama Rama, dari kapan mama tau?" Tanya Diana.


"Eeiih, meski mama jarang bertemu kamu, mama cukup peka kalau soal anak mama."


"Apa papa juga tau."


"Meski papa dan mama sibuk, bukan berarti kita gak perduli dengan masalah anak satu-satunya kan!. Tanpa kamu duga, dia tau lebih dari yang kamu kira." Balas Metha tersenyum menatap wajah anak satu-satunya tersebut.


"Meski aku suka dengan Rama, aku gak yakin hubungan kami akan berhasil."


"Mama yakin berhasil." Yakin Metha.


"Kenapa mama seyakin itu kalau akan berhasil."


"Sudah jelas kan jawabanya, karena dia tidak akan bisa menolak anak mama yang cantik ini, udah gitu baik lagi." Puji Metha pada putri kesayanganya.

__ADS_1


Diana tersenyum mendengar pujian itu, sedikit melegakkan perasaanya yang sedari tadi tampak murung.


"Mama senang melihatmu tersenyum seperti ini." Ujar Metha merasa lega melihat ekspresi Diana yang tampak lebih rileks dari yang tadi ia lihat.


"Jangan terlalu di pikirkan, jika dia memang takdirmu, dia pasti akan berada di sisimu apapun yang terjadi. Tapi, terkadang kita harus memberanikan diri untuk menjemput takdir itu." Ucapnya lagi.


"Mama hanya berharap kamu bahagia sayang, papa sama mama tidak bisa terus berada di sampingmu, karena itu.. kami berharap kamu jangan terlalu memaksakan diri dan jalani hidup seperti biasanya saja." Kata Metha lagi, lalu memeluk hangat tubuh anaknya.


Diana membalas pelukan hangat dari mamanya, ia nampak terharu dengan perhatian yang di tujukan oleh mamanya. Ia merasa lega bisa berbagi masalah dengan mama yang jarang ia temui itu.


Meski tak sering bertemu karena perbedaan tempat tinggal, tak membuat hubungan Diana dan kedua orang tuanya jauh, karena komunikasi di antara mereka bertiga tetap ada meski tak terlalu intens dan sering karena kesibukan mereka masing-masing.


Tinggal seorang diri di Indonesia tampaknya tak membuat Diana kesepian, mengingat semua teman-teman masa sekolahnya ada bersamanya dan ada Rama yang juga menjadi semangatnya, ia tak lagi merasa sendiri meski jauh dari keluarga besarnya yang saat ini berada di luar negeri, tepatnya berada di kanada.


"Mama sama papa mau balik besok?" Tanya Diana.


"Iya, mama sama papa sudah harus balik. Maafin mama ya, gak bisa lama disini."


"Iya, gak pa-pa. Terimakasih sudah mau datang kesini. Nanti aku akan ambil cuti dan datang kesana."

__ADS_1


"Iya, mama tunggu kalau begitu."


__ADS_2