Hilang?

Hilang?
BAB 50 (Satu Langkah)


__ADS_3

Pagi yang tampak berbeda yang di rasakan oleh seseorang, tampaknya ia terlihat lebih bahagia dari hari sebelumnnya.


Benar, Rama terlihat bahagia setelah pertemuanya dengan Anjani tadi pagi. Meski berjalan singkat dan terkesan cepat, setidaknya itu sedikit melegakan untuknya yang selama ini terkesan sulit mendekati seorang Anjani.


"Ada hal bahagia, ya dok!" Celetuk salah satu rekan Rama yang melihatnya memancarkan ekspresi wajah yang bahagia.


"Iya," Jawab Rama kemudian dengan senyum menatap rekannya.


"Wah, apa itu! bagi-bagi dong?"


"Untuk yang itu tidak bisa di bagi." Ucap Rama lagi.


"Wih, aku jadi penasaran." Celetuk rekannya lagi.


Rama tak menjawab, ia hanya tersenyum menatap rekanya dengan meninggalkan tanda tanya untuk rekanya tersebut.


......................


Satu langkah, demi satu langkah untuk meraih apa yang ia harapkan, pada perasaan yang selama ini tak tentu arah dan tanpa pemiliknya.


Meski hingga detik ini ia juga masih ragu akan perasaanya sendiri, namun ia yang pemalu memberanikan diri untuk mencari jawabanya.


Meski keberanianya butuh waktu lama, yaitu kurang lebih dari 15 tahun lamanya. Namun, ia yang sekarang di hadapkan pada dua hal akan perasaanya, melepaskan ataukah memulainya dengan yang baru. Pada cinta pertamanya yang telah ia tunggu selama lebih dari 15 tahun, atau pada perempuan yang selama ini dekat denganya.


Karena itu, ia tak ingin lagi terombang-ambing pada perasaanya sendiri dan dapat melukai perasaan salah satu dari keduanya.


Setiap kali mengingat apa yang ia lakukan selama ini, sedikitnya membuatnya kepikiran dan menyesal, karena selama ini ia tak bisa tegas pada perasaanya sendiri.


Aku bersalah, pada diriku sendiri juga pada seseorang yang telah menaruh perhatianya padaku. Aku bertanya apakah ini rasa cinta? Apakah yang telah ku lakukan adalah salah dan hal yang sia-sia! Aku.. hanya ingin berada di sisi seseorang yang telah berhasil mengetuk hati yang telah lama kosong ini.


...****************...

__ADS_1


"Ayah, kenapa ayah memberikan jurnal foto kelulusan sekolah pada Anjani! dan dari mana ayah tau kalau aku menyimpan jurnal miliknya?" Tanya Rama dengan berbagai pertanyaan pada ayahnya yang ia temui sepulang dari rumah sakit.


"Kamu datang cuma mau tanya soal ini?" Balas ayah.


"Iya, soalnya aku penasaran maksud ayah memberikan itu pada Anjani."


"Ayah gak ada maksud apapun tuh, kebetulan ayah gak sengaja lihat jurnal kelulusan di laci kamar milikmu sewaktu ayah datang ke kamarmu, dan kebetulan ada dua, jadi yah.. ayah kasih satu ke dia." Jelas ayah.


"Masa cuma itu! lalu soal tulisan kalimat yang di akhir jurnal? apa ayah yang menulisnya?" Tanya Rama lagi.


"Kalimat? aha! memangnya ada yang salah dengan kalimat itu?.." Tanya ayah balik.


"Sepertinya kalimat itu sedikit menganggu Anjani, tadi dia menanyakannya padaku, karena itu aku kesini dan tanya sama ayah soal maksud dari kalimat itu."


"Memang ayah yang menulisnya, tapi ayah juga gak ada maksud lain setelah menulisnya, hanya saja setelah melihat ekspresi dan kalimat yang temanmu tuliskan di biodatanya agak menarik perhatian ayah, jadi yah.. ayah hanya menulis untuk menyemangatinya." Jujur ayah.


"Ayah gak bohong kan?"


"Buat apa ayah bohong, orang ayah kenal juga baru-baru ini."


"Tapi.. yah, kenapa ayah melakukan hal ini? memberikan jurnal dan juga menuliskan kalimat itu di akhir jurnal? ayah kan gak begitu mengenal Anjani?..."


"Entahlah, mungkin ayah melakukan-nya untuk membantumu."


Rama mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti maksud dari ayahnya.


"Bukankah dia gadis yang kamu suka?" Ucap ayah lagi.


Rama seketika membelalakan kedua matanya, setelah mendengar ucapan dari ayahnya.


"Dia gadis yang tak banyak berekspresi seperti yang kamu bilang sebelumnya, dan terlihat tak bersemangat juga, ayah melihat dia seolah tak menikmati hidupnya, seolah hidup tanya nyawa, begitu dingin dan terkesan suram." Ujar ayah mengekspresikan sosok Anjani yang ia lihatnya beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Pasti kamu agak kesulitan kan mendekatinya, karena itu ayah membantumu, yah.. meski ayah juga gak yakin akan berhasil."


"Kenapa ayah yakin kalau aku menyukainya? ayah kan tidak pernah tau soal Anjani! Aku juga gak pernah cerita soal ini ke ayah?"


"Sorot matamu yang mengatakan semuanya, dan bukankah karena hal itu, hingga detik ini kamu sulit membuka hati pada seorang perempuan?"


Rama terpaku, bola matanya bergetar dan ekspresinya sedikit membeku. Ia tak tau harus menjawab apa karena lidahnya seolah terkunci.


"Ayah mendukung semua keputusanmu, lakukan apa yang membuatmu bahagia." Ucap ayah sembari menepuk pundak anaknya dengan hangat untuk memberi semangat.


Mendengar hal tersebut, membuat Rama terharu dan ingin menangis, namun ia tahan sekuat tenaga agar air matanya tak tumpah dengan langsung menghela nafas panjang.


Meski baru sekali bertemu dengan Anjani, Rama tak pernah menyangka ayahnya akan menebaknya dengan tepat, seolah menyadarkan dirinya pada perasaan yang selama ini membuatnya dalam kebimbangan.


"Aku memang pernah menyukainya sewaktu sekolah, tapi.. aku yang sekarang tidak tau pada perasaan saya sendiri." Seru Rama.


"Kamu dilema soal Diana? Kalau ayah sih, jalanin saja nanti pasti ketemu jawabanya."


"Apa ayah gak merasa aneh, soal aku yang seperti ini!" Ujar Rama menatap wajah ayahnya.


"Ayah agak kaget kalau kamu masih memendam perasaan pada cinta pertamamu itu, kalau Joh.. ehem.. itu.. tidak ada masalah, toh hal itu kan di luar kendali kita, ayah sih berharap kali ini kamu harus lebih tegas pada perasaanmu sendiri."


Rama mengangguk mengerti dan mencoba mencerna masukan dari ayahnya.


Ayah dan anak yang tengah berbincang di salah satu ruangan pribadi itu ternyata begitu menarik perhatian dari Sahila, adik Rama yang sedari tadi heran melihat ayah dan kakaknya yang mengobrol intens di ruang kerja milik ayahnya.


"Ayah sama kakak lagi ngobrolin apa sih? kok kayanya serius banget!" Gumamnya melihat ke arah ruang kerja milik ayahnya.


"Gak usah kepo, mendingan kamu bantuin mama siapain makan malam." Sahut mama Farah menanggapi celotehan Sahila.


"Aku penasaran tau ma, abis dari tadi gak keluar-keluar, hampir 30 menit lho ini."

__ADS_1


"Biarin aja, itu kan urusan kakak sama ayah kamu, mendingan kamu bantuin mama aja sekarang."


Sahila yang masih penasaran hanya bisa ngedumel kesal, sambil sesekali melirik ke arah ruangan milik ayahnya.


__ADS_2