
Bahagia?
Kata yang selalu terngiang di telinga dan fikiranya. Ia fikir dengan sukses dan banyak uang akan membuatnya bahagia. Namun, hingga detik ini juga, ia masih bingung dan tak mengerti arti hidupnya sendiri.
Rencana awalnya adalah pergi dari rumah dan menjalani kehidupan dengan bebas seperti yang ia impikan selama ini. Namun, semua rencana itu berubah begitu tragedi dan musibah itu datang padanya. Mimpi dan juga harapanya selama ini, perlahan menghilang dan tak tentu arah.
Meski sempat terpuruk dan berada pada titik terendah dalam hidupnya, ia yang saat ini bisa membalikkan itu semua dengan kerja kerasnya, masih tetap merasa tak puas dengan apa yang ia lakukan. Seperti ada sesuatu yang hilang dan kurang dari dirinya, meski ia sendiri tak tau apa itu.
Ia yang tak punya tujuan hidup setelah menginjakkan kakinya di amerika, terlihat putus asa akan mimpinya. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup dan melanjutkan masa depanya, karena saat itu ia baru saja bangkit dari rasa terpuruknya.
Jati diri yang sudah ia bangun sejak dulu entah mengapa hilang dan membuatnya kehilangan rasa percaya dirinya. Hingga hal itu muncul dan membuatnya terfikirkan pada hal yang sangat di gemari oleh mendiang ibunya, dan begitulah hingga akhirnya ia bisa berada pada dunia bisnis yang dulu bahkan tak pernah ia impikan.
Mimpinya dulu adalah menjadi seorang pelukis, karena hanya dengan itu ia merasa bebas dan merasakan sebuah adventure dari dalam dirinya.
"Melukis?"
Entah sejak kapan aku tak melakukannya lagi. Aku tak tau, apakah tempat yang dulu menjadi lokasi melukisku masih ada.
Mungkin, pertemuanya dengan para anak-anak panti asuhan sedikit membuat Anjani kepikiran, melihat para anak-anak yang tertawa lepas, dalam hatinya ia ingin merasakan hal serupa. Ia membayangkan dirinya di masa kecil yang tak banyak berekspresi seperti mereka dan anak kecil lainya, hal itu sedikit membuatnya sedih, karena menganggap bahwa masa kecilnya terlalu menyedihkan.
"Mereka beruntung" Gumamnya.
Anjani tiba-tiba tersadar, ketika ia tengah terhanyut dalam pikiranya tentang para anak panti asuhan Pertiwi yang baru ia datangi, ia teringat akan jurnal foto yang di berikan oleh dokter Wardana. Teringat pada kalimat yang berada pada akhir jurnal miliknya, timbul rasa penasaran dari dirinya dan terfikirkan untuk bisa bertemu dengan dokter Wardana. Karena ia masih penasaran akan kalimat tersebut, dan entah mengapa kalimat yang seakan di tujukan padanya itu menyuruhnya untuk bahagia. Seolah tahu perihal kehidupanya.
Dalam pikiran kalutnya, tentang hal yang terjadi pada dirinnya beberapa hari ini, Anjani memutuskan untuk mencari jawabanya, agar rasa penasaranya bisa segera teratasi.
Siapa yang akan tahu, bahwa bertemu dengan para anak panti asuhan akan sangat mempengaruhi dirinya dan membuat posisi dirinya yang selama ini bertahan, berani untuk menyerang dan keluar dari zona nyamanya.
Sebuah istilah yang pas bagi dirinya, yang selama ini telah bersikap apatis pada semua hal.
__ADS_1
...****************...
Pagi hari, pukul 6 tepat. Berdiri dengan tenang di sebuah mobil, menunggu kehadiran seseorang yang kebetulan tinggal di area yang sama denganya.
Sebuah sikap berbeda yang ia tunjukkan, tak pernah sekalipun ia menunggu seseorang atau bahkan mencoba bertemu seseorang di luar agenda bisnisnya. Dan, kali ini ia lakukan hanya untuk mencari jawabanya sendiri.
Seseorang yang sedari tadi di tunggu oleh Anjani, memperlihatkan keheranan melihatnya yang sedang berdiri tenang di samping mobilnya.
Melihat langkah yang menghampiri dirinya,Anjani mengedarkan pandanganya, membuat orang yang ia tunggu saling bertemu mata. Mata keduanya bertemu dalam keheningan menyelimuti suasana mereka.
"Apa anda mau berangkat ke rumah sakit?" Tanya Anjani kemudian dan berjalan melangkah ke arah Rama.
"Ah, iya." Balas Rama masih terpaku tak percaya melihat Anjani yang tengah menyapanya.
Tanpa mencoba basa-basi, Anjani kemudian menyerahkan sebuah jurnal pada Rama, membuat Rama terlihat bingung menerimanya.
"Apa ini?" Tanya Rama menatap wajah Anjani dengan ekspresi bingung.
"Dari ayah saya?" Rama memicingkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
"Tunggu, kapan ayah saya memberikan ini pada anda?" Tanya Rama kemudian yang tersadar akan sesuatu.
"Hari ketika saya pulang dari rumah sakit."
"Kenapa ayah memberikan ini pada anda?"
"Bukankah itu yang harusnya saya tanyakan pada anda?"
"Ah, iya maaf." Kata Rama tersadar akan ucapanya.
__ADS_1
Anjani terdiam menata wajah Rama.
"Apa jurnal ini anda yang mengambilnya di sekolah?" Tanyanya kemudian.
"Itu.. saya tak bermaksud mengambil, kepala sekolah yang menitipkan kepada saya. Saya menyimpanya di laci kamar saya, tapi saya tak menyangka ayah saya akan memberikanya pada anda." Jelas Rama agak kikuk.
"Lalu, kalimat yang di belakang, apa anda yang menulisnya?"
"Kalimat?"
Rama dengan segera melihat jurnal tersebut dan mendapati sebuah kalimat tertulis disana.
"Ini.. " Ia menjeda perkataanya.
"Bukan, saya tak pernah menuliskan kalimat seperti itu." Ucapnya lagi.
Anjani terdiam, ia jadi yakin kalau dokter Wardana mengetahui sesuatu tentang dirinya.
"Baiklah, hanya itu yang mau saya tanyakan. Maaf sudah menyita waktu anda." Ucapnya mengambil kembali jurnal foto miliknya.
"Tunggu, maaf kalau ini buat anda tak nyaman, biar saya yang akan tanya pada ayah saya." Ujar Rama mencegah kepergian Anjani.
Anjani hanya mengangguk pelan dan kemudian pergi meninggalkan Rama.
"Ah, harusnya aku tanya soal reuni." Gumamnya menyesal karena baru tersadar begitu Anjani pergi dari hadapanya.
"Dia menyapa dan menghampiriku. Bukankah ini sebuah kemajuan?" Ucapnya lagi dengan ekspresi senang.
Namun, di satu sisi ia jadi tersadar tentang apa yang di lakukan oleh ayahnya.
__ADS_1
"Sepertinya ayah tau sesuatu."