
Dunia memang terkadang tidak adil bagi sebagian orang. Begitu juga yang di rasakan oleh Anjani. Meski sederhana, sebenarnya ia hanya ingin hidup dengan tenang layaknya kehidupan di sekelilingnya. Mimpi yang cukup sederhana bagi seorang Anjani.
Meski enggan untuk pulang, namun karena hanya itu tempatnya untuknya pulang, mau tidak mau membawa dirinya untuk melangkah ke rumah yang baginya sebuah neraka.
"Dari mana saja kamu baru pulang?" Dengan nada sarkasnya bertanya pada anaknya yang baru pulang sekolah.
Hal yang sangat biasa bagi seorang Anjani mendengar nada dingin dan kasar yang keluar dari mulut Ibunya.
"Aku ada kelas tambahan." Jawabnya tanpa melirik ke arah Ibu yang tengah duduk di ruang tengah.
"Setiap hari ada kelas tambahan, apa kamu lagi ada lomba?"
"Iya."
"Baguslah, setidaknya ada yang di banggakan dari anak sepertimu, gak sia-sia aku membesarkanmu."
Anjani tak mennghiraukan ucapan ibunya dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Cih, anak sama bapak sama-sama buruknya." Gumamnya melihat tingkah dingin dari anaknya yang tampak menghiraukan ucapanya.
......................
__ADS_1
Dalam keluarga yang tak ramah baginya, tak membuatnya menyerah akan hidupnya, setidaknya prestasi di sekolahnya adalah gambaran untuk dirinya bertahan hidup dan memberikan secercah harapan bagi kehidupanya.
Ada sedikit kebahagiaan di tengah kehampaan hidupnya itu. Setelah hampir satu bulan persiapan untuk olimpiade IPA nya bersama Rama. Hari yang melelahkan itu nyatanya berbanding dengan hasil terbaik bagi mereka.
Berkat prestasi keduanya yang berhasil meraih kejuaran tersebut, membuat mereka mendapatkan hadiah berupa beasiswa.
Sebuah beasiswa full untuk masuk ke dalam perguruan tinggi terbaik di negara ini.
"Wah menang lagi nih! Selamat ya!" Nada kebahagiaan terpancar dari Johan untuk sahabatnya Rama.
Rama membalasnya hanya dengan tersenyum simpul.
Berita kemenangan Rama dan Anjani sudah masuk ke telinga semua siswa di sekolah, hingga membuat kehebohan dan apresiasi bagi keduanya.
Meski ia juga mendapatkan ucapan selamat, namun suasananya tak sehangat dan se ceria orang yang memberi selamat dan berkumpul di depan Rama, karena semua nampak canggung ketika berhadapan dan mengajak bicara Anjani.
Ia dengan segera menjauh dari keramaian tersebut, hingga menarik pandangan seorang Rama yang sedari tadi dalam kerumunan teman-temanya.
Dari ekspresinya, terlihat sekali untuk memanggil namanya, namun tertahan karena ada keraguan di dalam dirinya yang teringat akan hubungan keduanya yang tak dekat. Ia termenung dan teringat kembali kejadian selepas lomba.
"Kamu gak pa-pa?" Tanya Anjani melihat Rama yang tak sengaja terbentur oleh pintu ketika hendak ke luar dari ruangan perlombaan.
__ADS_1
"Ah, iya. Cuma agak nyeri aja." Balasnya sambil memegang sudut dahinya yang terasa nyeri.
"Coba duduk." Pinta Anjani agar Rama duduk di salah satu bangku.
Tanpa penolakan, ia dengan segera duduk dengan sambil terus memegang dahinya meski dengan ekspresi agak bingung. Namun, ia sedikit terkejut ketika Anjani dengan tiba-tiba mendekat ke arah wajahnya.
"K-kenapa?" Ucapnya dengan nada terbata karena agak kaget melihat Anjani yang tiba-tiba mendekat ke arahnya.
"Aku mau memasangkan plester." Jawab Anjani datar sambil memegang sebuah plaster di tanganya.
"Ah... ok" Jawab Rama agak canggung.
Wajah keduanya saling berdekatan, hingga terasa deru nafas keduanya. Rama, hanya terdiam ketika tangan Anjani mulai memasangkan plester di sudut dahinya. Ia merasa canggung untuk menatap matanya dan beberapa kali menenangkan hatinya.
"Sudah, ayo keluar." Ucap Anjani kemudian, dengan ekspresi datarnya tanpa merasa canggung dan berlalu begitu saja.
Dengan menjauhnya Anjani dari hadapanya, melegakan hati Rama yang sedari tadi merasa canggung. Ia beberapa kali mencoba menenangkan hatinya yang sejak tadi tak berhenti berdetak.
"Aku kenapa ya?" Gumamnya sambil memegang dadanya.
Rama yang mengingat kejadian itu tak berhenti memikirkan kejadian tersebut. Berulang kali ia mencoba untuk menghiraukanya namun bayangan kejadian tersebut membuatnya teringat kembali.
__ADS_1
Dari sanalah ia jadi sering memperhatikan Anjani. Dari rasa yang sekedar penasaran dan ingin dekat, menjadi ingin tau lebih.