
Anjani berjalan perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Setiap ia melangkahkan kakinya menyusuri ruangan kelas yang di dekatnya, menampakkan kekosongan dan keheningan. Sekolah yang luas dan besar tersebut terlihat sunyi setelah di tinggal oleh semua penghuninya.
Melangkah dengan langkah pelan dan beberapa kali menghela nafas kecil, ia memperlihatkan seolah enggan untuk pergi dari sana. Padahal, pulang sekolah adalah hal yang di sukai oleh semua murid. Namun, sepertinya itu sedikit berbeda bagi Anjani. Ia seperti enggan untuk pulang ke rumahnya, karena rumah yang harusnya tempat paling nyaman baginya, menjadi tempat yang paling menyesakkan untuknya.
Ia melihat jam yang di pergelangan tanganya, yang masih menyisakan 15 menit lagi waktu kerja paruh waktunya. Ia memilih masuk ke ruang perpustakaan sekolah untuk mencari tambahan materi baru lagi untuk olimpiade IPA nya nanti dan juga mengisi kekosongan waktunya.
"Ah, kamu belum pulang?" Sapa Rama dengan spontan begitu melihat Anjani yang masuk ke ruang perpustakaan bertepatan denganya yang akan keluar dari perpustakaan.
"Iya." Jawab Anjani dengan singkat dengan wajah datarnya, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam perpustakaan.
Rama melihat punggung Anjani sejenak dan menggaruk kepala yang tak gatal itu dengan perasaan canggungnya ketika berhadapan dengan Anjani.
Ia kembali teringat ketika awal mula mengetahui sosok Anjani yang selama ini ia tak ketahui meski berada satu sekolah denganya.
...
Flashback
"Peringkat terbaik seluruh angkatan sekolah Bina Harapan Bangsa tahun ini, Anjani Safira." Ucap Kepala sekolah mengumumkan bintang pelajar sekolah yang memiliki peringkat terbaik dari semua siswa.
__ADS_1
Semua memberi tepukan selamat pada bintang pelajar baru, karena 3 tahun berturut posisi tersebut di pegang oleh Rama Ardiansyah Putra.
"Wah, Anjani yang nilainya hampir mendekati Rama tahun lalu itu?"
"Iya, waktu itu dia hampir jadi bintang pelajar alias siswa terbaik di sekolah."
"Wah, posisi Rama di geser sama dia."
"Wajar sih, dia kan bisa di bilang saingan sama Rama, soalnya dia kan juga pintar kalau di lihat nilai dia yang tak beda jauh dari Rama."
"Wah jadi di sekolah kita ada anak pintar lagi nih ceritanya."
Ketika semua saling membicarakan bintang baru tersebut, mau tidak mau membuat Rama menjadi tertarik. Ia yang satu sekolah dengan Anjani, ternyata baru mengetahui akan sosoknya.
"Dia kelas berapa?" Tanya Rama pada Johan yang berdiri di sampingnya.
"Kelas 2 sama seperti kita, jurusanya juga sama, kenapa?." Jawab Johan.
"Nggak, hanya saja aku baru dengar namanya padahal kita satu sekolah denganya bahkan seangkatan dan jurusan juga."
__ADS_1
"Nggak heran sih, soalnya anaknya tertutup,cuek dan agak dingin juga." Jelas Johan lagi.
Rama seolah tersentak mendengarnya.
"Meski begitu kamu tau banyak hal soal dia ya?"
"Nggak sengaja tau, lagian dia kan juga sama populernya kaya kamu. Dia pintar, cantik, juga kebanggaan sekolah."
Rama mengernyitkan keningnya, tak menyangka temanya tau banyak soal Anjani berbanding terbalik dengan dirinya yang bahkan tak mengetahuinya.
"Aku merasa tak enak tak mengetahui temanku sendiri."
"Kenapa pake tak enak segala, orang anaknya juga cuek banget."
"Dasar nih anak."
Johan hanya bisa mengangkat bahu tanda tak perduli.
Sejak hari itu, Rama jadi memperlihatkan rasa penasaranya pada sosok Anjani. Entah kenapa ia ingin mengenalnya lebih dekat, namun karena tak saling kenal membuatnya agak ragu untuk melakukanya. Apalagi melihat sikap Anjani yang seakan membuat batas pada setiap orang yang ingin dekat denganya.
__ADS_1
Namun bagai sebuah takdir, ketika keduanya di pasangkan pada kegiatan olimpiade nasional tahun ini, membuat keduanya mau tidak mau jadi sering bertemu dan jadi dekat karena hal tersebut meski masih agak canggung bagi keduanya, terutama bagi Rama yang masih kebingungan dalam mengajak Anjani bicara.