Hilang?

Hilang?
BAB 9 (Perasaan Ambigu)


__ADS_3

Baik Rama dan Johan, keduanya memiliki hubungan pertemanan sejak kecil. Sering menghabiskan waktu bersama di waktu kecil membuat keduanya menjadi lebih dekat layaknya sebuah saudara.


"Mama sama ayah kamu gimana? apa mereka udah nerima kamu yang pindah kesini?" Tanya Johan di sela obrolan keduanya.


"Udah sih, mungkin mama yang masih agak berat." Jawab Rama.


"Udah kuduga, pasti tante Farah gak rela buat ngelepasin anak kesayanganya."


Melirik ke arah Rama yang tengah duduk di sebelahnya.


"Soal Diana! kamu masih belum memberi kepastian ke dia? anak orang tuh jangan di gantungin lama-lama."


"Aku kan tidak ada hubungan apapun sama dia. Apanya yang di gantung coba!"


"Tapi kan kamu tau kalau dia suka sama kamu."


Rama terdiam mendengarnya. Karena memang benar adanya yang di katakan oleh Johan.


"Aku tau, tapi bukan berarti kita ada hubungan. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja. Lagian aku gak yakin juga dia menyukaiku."


Johan memandang wajah sahabatnya sejenak, lalu menghela nafas pendek. Ekspresinya menunjukkan ketidakpuasan.

__ADS_1


"Ternyata kalian berdua belum menyadari perasaan kalian sendiri ya! melihat kalian yang tak ada kemajuan sama sekali hingga hari ini."


Rama tak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Johan. Ia juga sedang mencari jawabanya.


"Semua anak juga tau tentang kalian, dan semua juga sama kaya aku yang penasaran, apa yang membuat kalian berdua tak kunjung jadian, padahal kalian berdua terlihat saling suka."


Hanya helaan nafas panjangnya yang seakan menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan oleh Johan.


"Aku bicara begini bukan mau ikut campur, hanya aku merasa khawatir. Sebagai sahabat dekat dan keluargamu yang paling tau soal dirimu." Ujar Johan sembari kembali meminum minumanya.


"Sudahlah, mending kamu diam disini. Aku mau mandi sebentar." Ucap Rama berlalu begitu saja seolah tak mau membahas hal tersebut.


"Padahal banyak cewek yang suka sama dia, tapi gak ada satupun yang menarik perhatianya. Aneh!" Johan merasa aneh pada sikap sahabatnya.


Johan terdiam dan tiba-tiba tersadar akan satu hal.


"Apa mungkin? Gak mungkin kan?" Gumam Johan teringat sesuatu sambil menatap kamar Rama.


"Ha.. dasar." Ucapnya lagi sambil berdecak.


...

__ADS_1


Di samping itu, Rama yang kini berada di dalam kamarnya nampak beberapa kali menghela nafas panjang seolah melepas segala yang membebani pikiranya.


Ia termenung sejenak sebelum melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Mengingat kembali masa lalunya yang tiba-tiba terlintas di dalam pikiranya.


Flashback


Di sekolah SMA Bina Harapan Bangsa, sekolah yang cukup luas dan besar dengan murid-muridnya yang banyak dan luar biasa. Di Pagi menjelang siang itu sama seperti hari biasanya, tetap ramai dengan candaan, obrolan dan juga kegiatan semua siswa lainya.


Tak ada yang berbeda, sama seperti biasanya, hanya mungkin bagi seseorang yang nampak tergelitik akan perasaanya. Entah apa itu?


"Kamu gak mau masuk?" Dengan nada sedikit dingin menatap wajah laki-laki di depanya yang tengah menghalangi dirinya yang akan keluar dari perpustakaan.


"Ah iya maaf." Dengan agak malu dan canggung ia tersadar dan berjalan kesamping untuk menghindar, memberikan jalan untuk gadis tersebut.


Sejenak ia terdiam dan merenung menatap gadis tersebut dengan tatapan bingung dan penuh tanya.


"Kenapa ya?!" Gumamnya dalam hati dengan perasaan bimbangnya sambil memegangi dadanya yang nampak berdetak tak karuan.


Melihat gadis tersebut berjalan menjauh, ia memilih berjalan masuk ke dalam perpustakaan dengan langkah yang di penuhi berbagai pertanyaan untuk dirinya.


Helaan nafas panjangnya, menyudahi ingatan masa lalunya. Rama pun kembali melanjutkan aktivitas mandinya sambil terus sesekali menghela nafas pendek dan mencoba melupakan kilas masa lalunya itu.

__ADS_1


__ADS_2